Breaking News

UEA Berinvestasi, Sebagian Besar Pulau Banyak Merupakan Kawasan Konservasi

UEA Berinvestasi, Sebagian Besar Pulau Banyak Merupakan Kawasan Konservasi

SINGKIL, ACEHPORTAL.com - Investor Uni Emirate Arab (UEA) telah menandatangani perjanjian kerjasama Letter of Intent (LoI) antara Pemerintah Aceh dan Direktur Eksekutif Murban Energy Limited, Amine Abid yang akan menanamkan modalnya sebesar USD 500 juta atau setara Rp 7,19 triliun dan nanti akan berinvestasi dipusatkan di Kepulauan Banyak, Aceh Singkil.

Terkait investasi ini, tentu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil, mempersiapkan diri bahkan persiapan sudah pernah dibahas dengan Pemerintah Aceh.

Seperti yang disampaikan Wakil Bupati disalah satu media beberapa waktu lalu, diantaranya terkait persoalan tanah atau lokasi yang nanti akan dibutuhkan untuk investasi UEA.

Dikutip dari Wikipedia.org, Kepulauan Banyak terdiri dari 63 pulau besar dan kecil yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera yang berjarak 26 mil laut lepas pantai Singkil.

Kepulauan ini juga terletak pada koordinat 97°3'40" BT - 97°27'58" BT dan 1°58'25" LU - 2°22'25" LU. Pulau Banyak memiliki luas daratan sebesar 135 km2 dan laut seluas 200.000 hektar.

Pulau terbesarnya adalah Pulau Tuangku disusul Pulau Bangkaru, Pulau Ujung Batu dan Pulau Palambak Besar. Selain itu juga terdapat Pulau Balai, Pulau Baguk, Pulau Palambak Kecil, Pulau Sikandang dan lainnya.

Pulau Banyak dibagi dalam dua kecamatan yaitu Kecamatan Pulau Banyak yang terdiri dari tiga desa yaitu Desa Pulau Balai, Pulau Baguk dan Teluk Nibung yang sebagai ibukota kecamatan adalah Desa Pulau Balai.

Kemudian Kecamatan Pulau Banyak Barat yang terdiri dari empat desa yaitu desa Haloban, Asantola, Ujung Sialit dan Suka Makmur yang sebagai ibukota kecamatan adalah Desa Haloban.

Akan tetapi, kawasan TWA (Taman wisata Alam) dan Taman Wisata Laut (TWL) Kepulauan Banyak ini yang merupakan sebuah gugusan pulau-pulau dan perairan yang terletak di Samudera Hindia bagian barat Pulau Sumatera.

Kawasan TWA Kepulauan Banyak memiliki luas sekitar 255.585,39 hektar dengan luas perairan mencapai 228.182,86 hektar, (89,3{b76bc1b144d64703e19ba294dd5b083bf8d7d9d156ebb5047c1968eb0dac1749} dari luas kawasan) dan luas daratan mencapai 27.402,53 hektar atau 10,7 persen dari luas kawasan serta memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

Selain itu, penunjukannya yang menjadi Kawasan Konservasi Taman Wisata Alam (TWA) yang tertuang dalam Keputusan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia Nomor: 596/Kpts-II/1996: Tgl 16-6-1996 dengan luas 227.500.00 hektar.

TWA Pulau Banyak memiliki potensi sumber daya laut dan keanekaragaman hati yang tinggi seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem lamun serta tempat bertelurnya penyu. Untuk mengelola potensi ini, maka pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) selalu melindungi.

Saat dikonfirmasi, Staf BKSDA Aceh Resort 19 Kepulauan Banyak, Muhammad Yusup membenarkan bahwa Kepulauan Banyak, hampir semua masuk dalam kawasan Konservasi. Hanya daerah permukiman penduduk yang Areal Penggunaan Lain (APL).

"Kalau untuk Pulau Balai dan area pemukiman tidak masuk kawasan konservasi, selebihnya semua masuk dalam kawasan konservasi," ungkapnya kepada ACEHPORTAL.com, Minggu (14/3/2021).

Yusup juga menambahkan, karena dalam kawasan TWA/TWL, Kepulauan Banyak juga dikelola berdasarkan blok pengelolaan.

"Yang terdiri Blok Perlindungan Darat, Blok Perlindungan Bahari, Blok Pemanfaatan Darat, Blok Pemanfaatan Bahari, Blok Tradisional Barat, Blok Teradisional Bahari," katanya.

Yusup juga menyebutkan, pada Blok Pemanfaatan Darat bisa dimanfaatkan untuk kepentingan wisata alam.

"Dengan ketentuan harus punya surat izin usaha, terkait masuknya investor dari UEA. Ke Aceh Singkil, kami menyerahkan keputusannya kepada pimpinan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," ujarnya.

"Sebagai petugas Staf BKSDA Aceh, Resort 19 Kepulauan Banyak, kami bertugas melakukan pengawasan dan pengelolaan sesuai dengan blok pengelolaan yang telah disahkan oleh Direktur Jenderal KSDAE kementerian LHK," jelasnya.

Sementara itu, saat disinggung tindak lanjutnya, jika pihak investor UEA menginginkan pulau yang masuk ke dalam blok perlindungan seperti Blok Perlindungan Darat, Yusup mengatakan, kebijakan perubahan ataupun revisi blok harus dibahas bersama oleh pimpinan dengan melibatkan para pihak termasuk masyarakat dan pemerintah daerah untuk mendapatkan persetujuan dari Dirjen KSDAE.

"Setelah blok pengelolaan ditetapkan, tugas kami mengeloladan mengawasinya kawasan TWA untuk keberlangsungan mahluk hidup baik untuk masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang dan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan," pungkasnya

*Penjelasan Disparpora Aceh Singkil

Terpisah saat dikonfirmasi melalui pesan WhasaApp, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Aceh Singkil, Edi Hartono terkait bidikan Murban Energy di Kepulauan Banyak menyampaikan beberapa hal saat kunjungan terakhir Mr Amien Abid ke Kecamatan Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat.

"Kalau ndak salah Pulau Balai, Pulau Ujung Batu, Pulau Sikandang, Pulau Balong, Pulau Tambarat, Pulau Asok, Pulau Ragaraga, Pulau Orongan, Pulau Matahari, Pulau Tambarat," ungkapnya.

Edi Hartono menambahkan, masalah jumlah pulau yang akan dijadikan objek investor, pihaknya masih menunggu keputusan dari pihak Murban.

"Alhamdulillah untuk data-data pulau yang dikunjungi Mr Amien Abid sudah kita siapkan, mulai dari luasnya, populasi penduduknya, panjang pantainya dan infrastruktur yang ada di tiap-tiap pulau," tambahnya.

Namun, saat disinggung Pulau Banyak adalah Kawasan Konservasi TWA, Edi Hartono membenarkan hal tersebut. Untuk itu, tim percepatan sudah membagi tugas sesuai tupoksi yaitu Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) masing-masing.

"Untuk membahas serta mencari solusinya yaitu Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Pertanahan, BKSDA dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) terkait masalah kawasan di Kepulauan Banyak, untuk jelasnya bisa dikonfirmasi dengan instansi yang saya sebutkan di atas," tandasnya.

JMSI