Breaking News

Tingkatkan Minat Baca Masyarakat, Sigupai Mambaco Abdya Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Tingkatkan Minat Baca Masyarakat, Sigupai Mambaco Abdya Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Blangpidie, Acehportal.com - Tingkat minat baca masyarakat khususnya anak-anak di Aceh Barat Daya (Abdya) tidaklah rendah.

Hal itu berdasar hasil pengamatan di lapangan. Ternyata bukan minat baca yang kurang, akan tetapi akses dan cara perpustakaan menggali potensi minat baca melalui tempat-tempat rekreasi.

“Sigupai Mambaco ini hadir memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk lebih berminat dalam membaca," ungkap Nita Januarti, Pendiri Perpustakaan Keliling Sigupai Mambaco, Minggu (24/1/2021).

Nita menjelaskan, Perpustakaan Keliling (Pusling) Sigupai Mambaco didirikan pada tahun 2017 lalu atas inisiatif dirinya dibantu Randa Zahrial.

Hal itu dilakukan untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa membaca itu tidak harus diruangan tertutup dan sunyi, namun juga bisa di pantai, di rumah, di halaman atau tempat lainnya.

Nama Sigupai Mambaco, tambahnya dibuat berdasarkan pemikiran, Sigupai merupakan ikon padi yang ada di Abdya, sedangkan Mambaco yang berarti membaca.

Awalnya, lanjut Nita, sebelum pandemi Covid-19 kegiatan membaca di Pusling Sigupai Mambaco digelar pada hari minggu sore setiap bulannya di PPI Dermaga Susoh.

"Kegiatan ini hanya menggelar buku selama satu jam setiap minggunya. Karena Covid-19 sekarang ini sebulan dua kali setiap hari minggu sore di lokasi yang berbeda," katanya.

Ia menceritakan, sejarah beroperasi Sigupai Mambaco, awalnya buku dibawa dengan motor dan mengelar tikar lalu menyusun buku-buku untuk dibaca di Komplek Bukit Hijau, Gampong Kedai Paya, Blangpidie.

"Seiring berjalannya waktu akhirnya lapak buku ini pindah ke Pinggir Pantai tepatnya di Dermaga PPI Susoh karena di sana orang yang datang lebih ramai," kata dia.

Akhirnya, lanjut Nita, pada April 2018 Sigupai Mambaco bekerjasama dalam project Pijar Ilmu Astra Asuransi dengan memberikan fasilitas berupa becak lengkap dengan gerobaknya sehingga buku yang dibawa bisa lebih banyak.

Setelah setahun, Sigupai Mambaco terlibat di Pustaka Bergerak dan melaksanakan pertukaran buku dengan beberapa pihak yang terlibat di Pustaka Bergerak Indonesia.

Pada Desember 2018, Sigupai Mambaco tidak hanya di pantai namun dicoba buka di rumah Nita, gerobak diletakkan di halaman rumah dan buku di tata sedemikian rupa, anak-anak pun ikut membaca di samping rumah.

"Alhamdulillah, program ini berjalan hingga hari ini, jika tidak ada di pantai maka Sigupai Mambaco ada di rumah tepatnya di Jalan Rawa Sakti nomor 82, Dusun Kulam Tuha Desa Tangah Rawa kecamatan Susoh," ujar Nita.

Selain itu, ungkapnya, Sigupai Mambaco juga mendapat tempat di kancah Nasional dengan beberapa kali mengukir prestasi dan penghargaan.

"Pernah menerima Kado Penerbit BIP 2019, memenangkan kontes foto Paper Run 2019, Perpustakaan Inspiratif 2020 yang diadakan oleh Perpusdes.Id," sebutnya.

Bahkan, ia selaku pendiri Sigupai Mambaco pernah meraih juara 3 Provinsi Aceh kategori Perempuan Inisiator 2020, serta menjadi salah satu sosok yang dimuat di Koran Kompas.

Hanya saja, kata Nita selama ini Pusling Sigupai Mambaco dikelola secara swadaya, sehingga peran Keuchik, Camat dan Dinas Pendidikan sebatas dukungan surat menyurat jika ingin mengikuti sesuatu even.

"Sempat Perpustakaan dan Arsip Daerah Abdya mencari Sigupai Mambaco, hanya karena status di Facebook saya soal buku tidak terawat di Perpustakaan Daerah, sehingga bantuan buku untuk Sigupai Mambaco ditunda namun hingga saat ini belum pernah ada follow up soal buku tersebut," ucapnya dengan nada kecewa.

Selain itu, sambungnya, Kementrian Dikmas dan PAUD pernah memberikan Sigupai Mambaco kesempatan menjadi taman bacaan masyarakat (TBM) rintisan tahun 2020 melalui forum Taman Baca Masyarakat Provinsi Aceh.

Ketika itu diberikan waktu selama dua hari dan tambahan lima jam untuk menyediakan semua berkas.

"Saat itu tidak ada yang membantu soal pendanaan membuka buku tabungan yang membutuhkan uang hingga satu juta rupiah ketika itu. Hanya direkomendasi oleh forum TBM Aceh tapi tidak dibantu sedangkan posisinya kami bukanlah orang yang cukup berada, belum lagi saya terkena PHK karena Covid-19," ungkapnya lagi.

Untuk fasilitas di Sigupai Mambaco sendiri masih banyak kekurangan, seperti sebutnya butuh meja tempat belajar, guru pengajar, rak buku, dan juga becak baru sebab becak lama sudah usang.

Pasalnya, saat ini yang dimiliki Pusling itu hanya ada 1 buah rak buku dengan becak keliling.

Sebanyak 777 buku dan 777 eksemplar, 1 Tong sampah dan 1 timba kecil untuk membiasakan buang sampah pada tempatnya dengan terpilah.

Kemudian, 1 terpal untuk duduk yang sudah rusak dan spanduk duduk dan 1 buku daftar pengunjung, serta 1 buku peminjaman.

"Karena ini sifatnya swadaya, kami sangat mengharapkan kolaborasi dan dukungan semua pihak bersama-sama kita bergerak bagaimana mengembangkan minat baca masyarakat pada berbagai tempat lainnya di Abdya," demikian harap Nita.

Rubrik:Daerah, Pendidikan