Breaking News

Kasus Pembunuhan Pelajar di Aceh Singkil

Tangkap Pelaku, Polisi: Korban Diperkosa Lalu Dibunuh

Tangkap Pelaku, Polisi: Korban Diperkosa Lalu Dibunuh
Polres Aceh Singkil ungkap kasus pembunuhan pelajar. (Ist)

SINGKIL, ACEHPORTAL.com - Pihak kepolisian yang dalam hal ini adalah Polres Aceh Singkil akhirnya mengungkap kasus kematian seorang pelajar di Aceh Singkil yang diduga menjadi korban pembunuhan.

Korban yang diketahui berinisial LSB (14) ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dan terkubur di belakang Kantor Kepala Desa (Keuchik) Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan, pada Rabu (12/5/2021) lalu.

Sebagaimana diketahui, korban pertama kali ditemukan salah seorang warga setempat yakni KH (56) sekitar pukul 09.00 WIB setelah melihat baju berwarna merah muda yang tergantung di semak-semak saat hendak buang air.

Penemuan itu dilaporkannya ke perangkat desa termasuk orang tua korban. Sementara, orang tua korban sejak Selasa (11/5/2021) malam sudah mencari keberadaan anaknya tersebut bersama kerabat dan warga.

Polisi menangkap dua tersangka yang membunuh pelajar SMP tersebut pada Rabu malam. Bahkan, informasi penangkapan pelaku sempat beredar di media sosial seperti Facebook dan WhatsApp, Kamis (13/5/2021).

Fakta yang terungkap, pelaku pembunuhan keji itu adalah KH (56) bersama rekannya A (34). KH sendiri adalah saksi yang pertama kali melihat dan melaporkan penemuan mayat yang terkubur di belakang kantor kepala desa setempat.

Kapolres Aceh Singkil, AKBP Mike Hardy Wirapraja melalui Kasat Reskrim, Iptu Noca Tryananto menyampaikan, adanya penemuan mayat dilaporkan oleh Kapolsek Simpang Kanan. Mendapat laporan itu pihaknya langsung ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). 

"Kita langsung mensterilkan lingkungan setempat dan kita langsung melakukan olah TKP, mengevakuasi mayat tersebut untuk dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa," ungkap Nico saat konferensi pers di Mapolres Aceh Singkil, Selasa (18/5/2021).

"Setelah kita ambil pemeriksaan, disitu juga kita lakukan visum di RSUD Aceh Singkil, ditemukanlah mayat wanita yang diduga di bawah umur yang hilang saat tanggal 11 Mei sekitar pukul 14.00 WIB," terang Noca.

Kasus yang sempat menggegerkan warga setempat itu pun langsung diselidiki polisi. Polisi juga memeriksa sejumlah saksi dan melakukan pengembangan. 

"Didapatkanlah keterangan-keterangan dari saksi awal yang kita ambil kemudian kita kembangkan. Ya, kita kembangkan kita rentet urutan cerita, Alhamdulillah juga dari masyarakat Desa Lipat Kajang memberikan informasi yang banyak, dalam arti kata mendukung kita juga, sama-sama membantu untuk melakukan pengungkapan ini. Alhasil, ditemukanlah beberapa barang bukti yang ada di lingkungan tersebut," jelasnya.

Dalam kurun waktu kurang dari 1x24 jam polisi pun akhirnya mengungkap kasus tersebut dan mengetahui siapa pelaku pembunuhan keji itu hingga menangkap para pelaku.

"Dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka adalah A (34) dan KH (56). Untuk korban yang telah diidentifikasi sebut saja Bunga (14) yang merupakan seorang pelajar," kata Kasat.

Kasat mengungkapkan, kedua pelaku awalnya membujuk korban serta memaksa untuk melakukan hubungan layaknya suami istri dengan iming-iming baju lebaran. Para pelaku pun menyetubuhi korban berulang kali. 

"Setelah disetubuhi korban ini dilempar ke belakang yang belakang pagar mendekati TKP. Disitu juga kalau memang kita dengar ceritanya (pengakuan pelaku) memang sudah ada niat untuk dilakukan pembunuhan. Korban dipukul menggunakan batu sebanyak dua kali, disitu juga tersangka kedua melakukan persetubuhannya lagi kepada korban, untuk jumlahnya masih kita dalami," paparnya.

Setelah itu, kata Noca, dalam keadaan masih bernyawa (sekarat) kedua pelaku membawa korban ke lokasi penemuan jasad korban. Disana, korban diketahui telah meninggal dunia dan kemudian secara bersama-sama mereka menguburkannya.

"Dikuburkan dalam keadaan yang kalau kita lihat kemarin tidak wajar, ya tidak wajar, selayaknya bukan seperti manusia, dengan tanpa celana dan setengah telanjang," terangnya.

Para pelaku ini, sambung Kasat Reskrim, menyiasati keesokan harinya dengan berpura-pura melaporkan tentang penemuan mayat. 

"Berpura-pura seolah-olah menyuarakan adanya penemuan mayat, untuk itu dari kita sendiri tidak terlepas dari itu semua, alasannya mungkin bisa dilihat masyarakat, bahasanya untuk beralibi atau mencoba-coba, kebenaran pasti terungkap dari kita juga dari rekan-rekan juga dari masyarakat juga," tutur dia.

Dalam kasus ini, polisi menjerat kedua pelaku dengan Pasal 81 Ayat 3 dan Ayat 5 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan disubsiderkan Pasal 340 jo Pasal 338 jo Pasal 351 Ayat 1 KUHPidana. 

"Untuk barang bukti yang kita amankan ada handphone dari tersangka, sebuah batu nata serta sejumlah pakaian korban dan pelaku. Kemudian dari pasal lain yang coba kita sangkakan ancaman hukuman paling ringan selama 20 tahun, paling berat hukuman mati atau penjara seumur hidup," pungkasnya.