Breaking News

Tanaman Kemiri sebagai Mitigasi Penanggulangan Longsor dan Tambahan Nilai Ekonomi Masyarakat

Tanaman Kemiri sebagai Mitigasi Penanggulangan Longsor dan Tambahan Nilai Ekonomi Masyarakat
Gayo Lues merupakan salah satu penghasil buah kemiri, dimana hampir di setiap kecamatan di kabupaten ini bisa di temukan tanaman kemiri. (Sumber foto: Iskandar)

BLANGKEJEREN, ACEHPORTAL.com - Bencana longsor adalah salah satu bencana alam yang sangat bisa membuat kerugian baik bernilai kecil ataupun besar. Beberapa waktu ini bisa dilihat peristiwa bencana longsor sangat pesat terjadi terutama di daerah Gayo Lues, Aceh.

Gayo Lues adalah sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Aceh, Indonesia. Terletak di Pulau Sumatera, kabupaten ini dibentuk pada tahun 2002 berdasarkan UU 4/2002 dari bagian utara Aceh Tenggara (Kabupaten Aceh Tenggara) yang ibukotanya adalah Blangkejeren.

Masyarakat Gayo Lues berperan aktif dalam aktivitas di dalam Kawasan Ekosistem Leuser karena merupakan salah satu pintu masuk menuju puncak Gunung Leuser yang berada di Kampung Kedah, Kecamatan Belang Jerango.

Dengan aktivitas masyarakat dan kountur tanah membuat kawasan ini menjadi salah satu titik rawan longsor. Hal ini disebabkan karena masyarakat yang beraktivitas dengan kegiatan berkebun palawija (cabe, bawang merah, sayur-mayur, nilam, sereh wangi dan lain-lain) membuat tanah sangat rentan terkikis saat musim hujan tiba.

MPTS (Multy Purpose Tree Species) adalah jenis tanaman yang menghasilkan kayu dan bukan kayu (getah, buah, daun, bunga, serat, pakan ternak, dan sebagainya). Sehingga bisa didapatkan lebih dari satu manfaat dari sebuah satu tanaman MPTS tersebut dan bernilai ekonomi.

Sistem MPTS ini sangat cocok diaplikasikan dalam sitem pertanian masyarakat disekitaran hutan selain bisa menjaga tanah agar tetap terikat dengan akar tanaman yang berkayu.

Ia juga bisa memberikan nilai ekonomi yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan bisa dikatakan dengan sitem MPTS ini bisa menjaga atau menangulangi bencana longsor baik secara ekologi maupun secara ekonomi.

Di kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu penghasil buah kemiri. Dimana hampir di setiap kecamatan di kabupaten ini bisa di temukan tanaman kemiri.

Dengan jangka tumbuh lebih kurang empat tahun, tanaman kemiri sudah bisa mulai dipanen maka dalam empat tahun awal tanam, masyarakat bisa melanjutkan aktivitas bertani palawija diantara sela-sela tanaman kemiri. 

Harapan saya, petani di Gayo Lues bisa melakukan sistem pertanian dengan sistem agroforestry dimana di dalam sela-sela tanaman pertanian juga ditanam tanaman kehutanan yang berkayu.

Hal ini bisa menjadi mitigasi atau pencegahan terjadinya longsor di lahan masyarakat. Selain itu juga bisa menjadi nilai tambah bagi ekonomi masyarakat.

Saya sangat menyarankan masyarakat bisa mendampingkan tanaman pertanian mereka dengan tanaman kemiri, dimana tanaman kemiri merupakan salah satu tanaman yang bisa dikatakan bisa tumbuh di setiap daerah di kabupaten Gayo Lues.

Dengan pertumbuhan yang relative cepat dan tanaman kemiri memiliki akar yang kuat untuk mengikat tanah agar tetap terikat dengan akar dan bisa menahan air saat musim hujan tiba.

Referensi:

http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/5586/131201039.pdf?sequence=5&isAllowed=y 

https://en.wikipedia.org/wiki/Gayo_Lues_Regency 

https://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor

Oleh: Iskandar, Mahasiswa Prodi Magister Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Editor:
Rubrik:Opini