Breaking News

Soal Intake Tungel, Kabid BPBD Saling Tuding dengan AM-GAM

Soal Intake Tungel, Kabid BPBD Saling Tuding dengan AM-GAM
Bendungan Intake Tungel Kecamatan Rikit Gaib. (Jasvira Sautisa/ACEHPORTAL.com)

BLANGKEJEREN, ACEHPORTAL.com - Terkait pernyataan Aliansi Mantan Gerakan Aceh Merdeka (AM-GAM) Gayo Lues, Jack Gayo soal bendungan Intake Tungel Kecamatan Rikit Gaib dibantah langsung oleh Kabid Rekonstruksi dan Rehabilitasi BPBD Gayo Lues, Muhammad Saleh.

Dalam bantahannya, ia mengatakan pembangunan itu sangat bermanfaat bagi masyarakat Kampung Tungel, bahkan masyarakat setempat mendukung pembangunan bendungan itu.

“Kok tiba-tiba si jack mengatakan seolah olah putra-putri daerah setempat menolak, terlalu berlebihan saya rasa dia, kalau tidak suka atau hal-hal lain jangan melibatkan kampung leluhur kami,” kata Saleh kepada ACEHPORTAL.com, Minggu (9/5/2021). 

Secara kebetulan, kata Saleh, di lokasi pembangunan tersebut serta penerima manfaat irigasi itu merupakan kampung halaman orang tuanya. 

Sekali lagi, kata Saleh, Rikit Gaib selalu welcome terhadap apa yang menjadi prioritas negeri ini, seraya mencontohkan semua pabrik diterima di Rikit Gaib.

Selain itu, Saleh menyayangkan sosok Jack yang merupakan salah satu tokoh dan penggiat kemanusiaan namun malah membuat blunder karena kepentingan pribadi.

“Bagi saya beliau adalah salah seorang penghambat pembangunan di Gayo Lues, membuat statement tanpa kajian yang mendalam,” jelas Saleh.

Bila ini tetap berlaku di negeri ini, Saleh yakin bisa menjadi alasan Pemerintah Pusat enngan membantu Kabupaten Gayo Lues untuk pengajuan proposal yang akan datang.

"Saya berharap bang Jack bisa berpikir panjang kedepan sebelum bertindak,” tandas Saleh.

Sementara, Ketua Aliansi Mantan Gerakan Aceh Merdeka (AM-GAM) Gayo Lues, Jack Gayo menilai cara berfikir Muhammad Saleh dalam pemerintahan terlalu dangkal dan selain itu lebih condong untuk ego pribadi.

Pernyataan Jack itu bukan tanpa alasan, analisa sederhana AM-GAM terpantau di lokasi mengingat pembangunan bendungan itu akan berdampak langsung terhadap lingkungan karena akan terjadi perubahan keseimbangan angkutan sedimen.

Dan, menganggap pembangunan bendungan intake tungel dan salurannya akan mengancam daerah aliran sungai sepanjang kawasan sungai Tripe yang dikhawatirkan akan menyebabkan bencana ekologi seperti banjir, sedimentasi serta abrasi pada sungai-sungai kecil sepanjang aliran tersebut.

Bahkan, tidak tertutup kemungkinan areal areal persawahan warga yang ada di hulu akan ikut terdampak karena terjadi pendangkalan. 

Di matanya, kegiatan yang bernilai Rp 23 miliar lebih bersumber dari dana rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu, dan ditambah Rp 2,6 miliar untuk saluran intake terlalu besar dengan manfaat yang diterima. 

Seharusnya Saleh, sebut Jack selaku perpanjangan tangan pemerintah, bisa berfikir dengan akal sehat tanpa mengedepankan ego.

Kalau memang untuk kepentingan masyarakat, sambung dia, mengapa tidak diajukan yang lebih banyak manfaatnya terhadap masyarakat ketimbang harus bendungan Tungel yang dinilai ada yang lebih membutuhkan bendungan dengan manfaat yang lebih besar.

Misalnya, sebut Jack, meliputi Waih Tripe seperti di sepanjang Aih Badak atau Aih Kutelintang yang terletak di Kecamatan Blangkejeren dan Dabun Gelang.

Selain bentangan luasan lahan sawah di areal tersebut mencapai ratusan hektar, juga setiap tahun areal yang disebut sebut sebagai lumbung padi Gayo Lues itu kerap menjadi langganan banjir tahunan. 

Dan hasilnya sangat berbanding terbalik jika dana sebesar itu dimanfaatkan dalam pengelolaan sumber daya air di sepanjang daerah aliran sungai Tungel. 

Masih kata Jack, disini bukan soal kecemburuan namun lebih kepada manfaat ketimbang mudharatnya untuk masyarakat, mengingat anggaran yang begitu besar tapi hanya mengairi beberapa puluh hektar sawah saja.

“Saya kira ini analisa yang konyol,” tegas Jack. 

Editor:
Rubrik:Daerah, Umum