Breaking News

Siswa Kesal karena Guru yang Mengajar di Sekolah Pelosok Nagan Raya Jarang Datang

Siswa Kesal karena Guru yang Mengajar di Sekolah Pelosok Nagan Raya Jarang Datang

Sukamakmue, Acehportal.com - Ketidakhadiran para guru yang mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada di kawasan Kecamatan Betong Ateuh Banggalang, Nagan Raya membuat sejumlah murid kesal karena tak bisa merasakan pendidikan selayaknya.

Mereka yang bersekolah di SMP Negeri Beutong Ateuh setiap harinya harus pulang lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Hal itu karena tidak adanya guru yang datang untuk mengajar di sekolah.

Maklum saja, SMP Negeri Beutong Ateuh yang terletak di Jalan Teungku Beutong Chiek, Gampong Kuta Teungoh merupakan satu-satunya sekolah menengah yang ada kecamatan tersebut.

Jumlah siswanya yang mencapai 108 orang tersebut berasal dari lima gampong yakni Gampong Kuta Teungoh, Blang Meurandeh, Blang Puuk, Babah Suak dan Gampong Pintu Angin.

Saat Acehportal.com mengunjungi sekolah tersebut, Sabtu (9/1/2021), para siswa SMP disana hanya terlihat duduk dan bersiap untuk pulang ke rumah. Sebagian lagi ada yang sudah mondar mandir di luar pekarangan sekolah dengan menggunakan sepedah motor.

Padahal, waktu baru menunjukkan pukul 09.30 WIB. Bukan karena Pandemi COVID-19, nasib mereka memang demikian karena guru yang ditugaskan untuk mendidik anak-anak pelosok itu tak jarang berada di tempat.

“Keumeung jak wo le, hana guru (mau pulang dulu, tidak ada guru),” kata salah seorang siswa, Usman saat ditemui Acehportal.com.

Usman menjelaskan, kejadian ini saban hari dirasakan para siswa disana. Dalam pekan ini, tak ada guru yang datang mengajar mereka, kendatipun cukup banyak mata pelajaran yang tertinggal. Jika pun mereka belajar, itu hanya sampai pukul 12.00 WIB saja.

“Setiap hari kalau belajar paling kami sampai jam 12, memang sering nggak ada guru, tadi saja pergi sekolah setengah sembilan pagi. Dari hari selasa sampai hari ini guru nggak ada yang ngajar,” sebut Usman.

Warga sekitar, Tarmizi yang juga bekerja sebagai guru honorer di sekolah itu juga membenarkan hal yang disampaikan para siswa. Namun, dirinya beralasan tidak adanya proses belajar mengajar disebabkan libur panjang tahun baru.

“Kalau disini, seminggu setelah libur sekolah memang seperti itu, jadi memang jarang masuk satu minggu paling dua hari,” ucapnya.

Tarmizi mengungkapkan, guru yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengajar disana, tidaklah menetap. Mereka tinggal di daerah lain yang jaraknya jauh dan memakan waktu lebih kurang tiga jam untuk sampai di ke sekolah tersebut.

Ia menyebutkan, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, guru yang hadir untuk mengajar para siswa lebih sedikit.

“Kalau kita bilang pendidikan seperti ini tidak efektif, maklum kalau di pelosok saya kira semuanya nggak 100 persen,” keluh Tarmizi.

Jumlah guru yang mengajar di SMP Negeri Beutong Ateuh yakni 14 orang yang terdiri dari lima orang berstatus honor dan sembilan orang PNS. Para guru disana bukanlah putra daerah, melainkan PNS yang ditugaskan oleh pemerintah setempat untuk mengabdi disana, kecuali para honorer yang memang merupakan putra daerah.

“Satu orang ada PNS yang asli putra daerah sini,” sebutnya.

Tarmizi mengatakan, saat dimulainya sistem pembelajaran daring, para siswa disana tidaklah belajar. Maklum saja, di daerah tersebut memang tidak ada akses jaringan internet.

“Untung saja sekarang sudah belajar tatap muka, kalau waktu daring kemarin memang tidak bisa belajar,” ujarnya.

Mereka berharap, pemerintah dapat menyediakan fasilitas internet di daerah pegunungan itu agar saat mengikuti ujian semester akhir, para siswa tidak harus turun ke Sukamakmue, pusat perkotaan di Nagan Raya karena harus mengeluarkan biaya lebih untuk penginapan dan perjalanan.

“Kalau kita pergi kesana pun, uangnya tidak disediakan dari dinas, dinas cuma tahu kita ujiannya dimana tapi orang itu tidak tahu kita datang dari mana, kasian anak-anak masih kecil, jauh,” tuturnya.