Breaking News

Sigupai Mambaco Latih Anak Buat Ecobrick

Sigupai Mambaco Latih Anak Buat Ecobrick
Sejumlah anak-anak diajarkan memanfaatkan sampah anorganik dengan sistem Ecobrik di Sigupai Mambaco, Minggu (18/4/2021). (Ist)

BLANGPIDIE, ACEHPORTAL.com - Salah satu kelas yang ada di Sigupai Mambaco adalah kelas lingkungan. Tujuan kelas tersebut untuk meningkatkan kepedulian anak terhadap lingkungan. 

Selain belajar teori, anak-anak di kelas lingkungan itu juga belajar prakteknya. Kegiatan ini berlangsung pada Ruang Belajar Sigupai Mambaco di Gampong Tangah Rawa, Kecamatan Susoh, Abdya.

Penggagas Sigupai Mambaco, Nita Juniarti, mengatakan setelah menyelesaikan pengolahan sampah organik dengan membuat kompos, sekarang kurikulum kelas lingkungan bergerak ke sampah anorganik.

"Salah satu yang dikelola adalah sampah jajanan dengan Ecobrick," kata Nita dalam keterangannya, Minggu (18/4/2021). 

Ecobrick, jelas Nita berasal dari kata ecology yang berarti ekologi dan brick yang berarti bata atau bisa disebut juga dengan bata ramah lingkungan.

Ide ini pembuatannya dicetuskan oleh pasangan suami istri Russell Maier, pria asal Kanada dan Ani Himawati perempuan asal Indonesia yang memiliki rasa kepedulian sangat tinggi terhadap sejumlah negara berkembang, khususnya di Asia Tenggara dalam menghadapi permasalahan sampah plastik.

Nita menerangkan, Ecobrick ini terbuat dari botol plastik yang diisi dengan sampah plastik hingga padat. 

"Cara pembuatan ecobrick itu sendiri memang tidaklah bisa cepat walau terlihat sederhana," katanya.

Adapun bahan yang dikumpulkan yaitu botol plastik ukuran 600 ml diisi sekitar 250 gram sampah plastik atau sama dengan 2500 lembar plastik bungkus mie instan. 

"Hari ini kita akan membuat ecobrick. Setelah botol-botol hasil ecobrick sudah terkumpul kita ajarkan cara menyatukannya supaya jadi bangku, kursi ataupun meja," jelasnya.

Saat ini, lanjut Nita Sigupai Mambaco hanya menciptakan kebiasaan baru bagi pengunjung bahwa semua orang harus bisa mengolah sampahnya sendiri.

Pada pengolahan sampah organik, kata dia terdapat 5 orang anak yang mengikuti secara konsisten hingga jadi dua tong kompos. Kali ini, pada Ecobrik pesertanya 7 orang.

Ia berharap untuk ecobrick ini juga ada yang konsisten. Terutama anak-anak harus tau kenapa harus melakukan semua itu. Waktu mengambil kursus ecobrick ini kata dia juga membutuhkan biaya mahal.

"Tetapi Ecobrik di Sigupai Mambaco ini kita ajarkan gratis untuk anak-anak. Semoga bisa jadi salah satu solusi untuk mengurangi sampah plastik dan berguna bagi bumi," harap Nita.

Iklan idul fitri gub
Iklan bub gayo lues