Breaking News

Kasus Pembunuhan Pelajar di Aceh Singkil

Rekonstruksi Pembunuhan dan Pemerkosaan Pelajar di Aceh Singkil

Rekonstruksi Pembunuhan dan Pemerkosaan Pelajar di Aceh Singkil
Tersangka AS memukul korban dengan batu dalam rekonstruksi di Mapolres Aceh Singkil. (Zulkarnain/ACEHPORTAL.com)

SINGKIL, ACEHPORTAL.com - Kepolisian Resort (Polres) Aceh Singkil menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan sekaligus pemerkosaan terhadap seorang pelajar di Aceh Singkil yakni LCB (13). 

Rekonstruksi itu berlangsung di lokasi kejadian yang berada di kawasan Gampong Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil, Senin (24/5/2021). 

Dalam rekonstruksi tersebut, kedua pelaku masing-masing berinisial AS (34) dan KH (56) memperagakan 51 reka adegan sesuai peran masing-masing dalam kasus pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan.

Rekonstruksi pembunuhan dipimpin langsung Kapolres Aceh Singkil, AKBP Mike Hardy Wirapraja bersama jajaran diantaranya Kasat Reskrim, Kasat Intel, Kasat Lantas dan personel Polsek Simpang Kanan.

Selain itu, hadir Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Singkil, Muhammad Husaini bersama staf, Ketua Pengadilan Negeri (PN) Singkil, Hamzah Sulaiman beserta kuasa hukum tersangka termasuk keluarga korban yang tak lain adalah ibu kandungnya.

Pantauan ACEHPORTAL.com di lokasi, kedua tersangka memainkan puluhan reka adegan. Pada reka adegan inti, tersangka AS yang merupakan tersangka pertama memainkan reka adegan ke-20 hingga 22.

Dimana, dalam reka adegan AS diketahui sedang menyetubuhi korban tepat di balik dinding belakang Kantor Kepala Desa Lipat Kajang yang mana lokasi itu seluas hampir tiga meter ke pagar tembok beton di belakang kantor sembari melihat situasi.

Sementara, saat itu tersangka kedua yakni KH sudah melihat persetubuhan tersebut dari balik pagar tembok beton belakang kantor kepala desa yang tingginya hampir dua meter.

KH pun bertanya kepada AS hingga akhirnya berniat ikut menyetubuhi korban yang masih di bawah umur tersebut.

Dalam rekonstruksi itu diketahui juga AS mengangkat korban yang saat itu dalam keadaan tidak sadar dengan tujuan diberikan kesempatan kepada KH. 

Namun, korban sempat diberhentikan sejenak di atas pagar tembok, AS pun menggulingkan korban hingga terjatuh dengan posisi kepala korban masuk ke parit.

Adegan tersebut pun tak berlangsung hingga selesai di lokasi kejadian. Hal itu guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan kepada tersangka, hingga akhirnya disepakati reka adegan dilanjutkan di Mapolres Aceh Singkil.

Reka adegan, tersangka KH (56) memainkan reka adegan ke 23. Dimana, korban sudah dijatuhkan AS yang kemudian KH mengangkat korban untuk menepatkan posisi korban. Lalu, korban yang sudah dalam keadaan pingsan disetubuhi oleh KH.

Disusul dengan reka adegan ke 24 yang kini dimainkan oleh AS yang menonton persetubuhan KH dengan korban dari atas tembok. Selanjutnya, reka adegan ke 25 kembali dilakoni KH yang mana saat selesai menyetubuhi korban langsung merapikan celananya.

Reka adegan ke 26 hingga ke 34, kedua tersangka mengangkat korban untuk dibawa ke lokasi penguburan yang berjarak lebih kurang 15 hingga 20 meter. AS mengangkat bagian badan dan KH mengangkat bagian kaki korban.

Sebelum korban dibawa, KH memastikan terlebih dahulu apakah korban masih hidup dengan meraba dada korban merasakan denyut nadi. Saat diperiksa, diketahui korban masih dalam keadaan hidup.

Adegan ke 35, kedua tersangka yakni AS dan KH meletakkan tubuh korban dekat lubang bekasan air dengan posisi terlentang. 

Kemudian pada adegan ke 36, AS mengambil batu yang waktu itu kebetulan ada di lokasi, persisnya tak jauh dari kepala korban saat meletakkan korban dan pada adegan ke 37, AS memukul kepala korban tepat sebanyak dua kali. 

Adegan ke 38, KH pamit kepada AS untuk mengambil kayu di sekitar lokasi dengan panjang lebih kurang panjang satu meter. Untuk adegan ke 39 dan 40, AS merebut kayu itu dari KH untuk dipukulkan ke wajah korban sebanyak dua kali.

Kemudian di reka adegan ke 41 dan 42, tersangka AS dan KH menggali tanah untuk menguburkan korban. Sebelumnya, kayu yang direbut AS dikembalikan lagi kepada KH.

Pada adegan ke 43 hingga ke 44, KH menggali lubang bekas tumpukan air yang sebelumnya sudah ada dan bermaksud untuk diperdalam lagi menggunakan tangan.

Sementara, AS menggali menggunakan kayu tadi yang kemudian bergantian mengkorek dengan tangan hingga dikira lubang tersebut sudah dalam.

Adegan ke 45, AS kembali memastikan korban apakah sudah meninggal atau belum dengan memegang tangan korban sebelah kiri untuk merasakan denyut nadi. Saat itu korban pun diketahui telah meninggal dunia.

Adegan ke 46, AS mengangkat dan menggeserkan korban untuk mendekat ke lubang, lalu korban digulingkan dalam keadaan telungkup setengah telanjang.

Adegan ke 47, 48 dan 49, kedua tersangka menimbun korban menggunakan tanah yang digali dan sebagiannya diambil dari bukit sekitaran lokasi menggunakan tangan dan kayu tadi.

Adegan ke 50, AS membuang kayu bertujuan untuk menghilangkan barang bukti, namun tidak jauh dari tempat ditemukannya korban.

Selanjutnya pada adegan ke 51, AS kembali lagi melompati pagar untuk mengambil pakaian korban untuk di buang. Sementara KH mengambil handphone korban yang jatuh saat korban dijatuhkan dari tembok. 

Kapolres Aceh Singkil, AKBP Mike Hardy Wirapraja melaui Kanit Pidum, Aipda Suharli mengatakan, tujuan rekonstruksi tersebut merupakan satu bagian dari rangkaian penyelidikan.

"Agar memenuhi persyaratan yang diminta oleh Kejaksaan untuk diyakini pada saat persidangan nanti bahwa benar terjadi tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka," ungkap Suharli.

Saat disinggung tentang masing-masing tersangka berapa kali melakukan persetubuhan, ia mengatakan bahwa AS diketahui menyetubuhi korban sebanyak dua kali, sementara tersangka KH hanya sekali.

"Motif permerkosaan ini diduga keras dari tontonan video porno, tersangka ini sudah terbiasa menonton video porno sebelum melakukan pemerkosaan dan pembunuhan, awal mula tersangka AS ini selalu silaturahmi ke rumah korban dan intinya sudah kenal dan tidak dalam kaedaan pengaruh mabuk kedua tersangka melakukan ini," jelasnya.

Ia mengatakan, para tersangka disangkakan dua undang-undang yaitu Pasal 81 tentang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002. "Kemudian Pasal 340, Pasal 338 dan Pasal 55 dari KUHPidana," pungkas Suharli.

Sekedar informasi, korban masih berusia 13 tahun (sebelumnya dibuat 14 tahun) dan tersangka pertama berinisial AS (sebelumnya dibuat A). Hal itu diketahui berdasarkan BAP Penyidik Polres Aceh Singkil.

Editor:
Rubrik:Hukum