Breaking News

Nodai Anak Kandung Empat Kali, Lelaki 62 Tahun Ditangkap

Nodai Anak Kandung Empat Kali, Lelaki 62 Tahun Ditangkap

Banda Aceh, Acehportal.com - Seorang lelaki berusia 62 tahun berinsial CA ditangkap personel Sat Reskrim Polresta Banda Aceh atas perbuatannya yang tega menodai anak kandungnya sendiri yang masih berusia 16 tahun.

Aksi bejat pelaku dilakukan sebanyak empat kali yang berawal pada tahun 2015 lalu dan baru kini diketahui setelah korban melalui anggota keluarganya melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto melalui Kasat Reskrim, AKP M Ryan Citra Yudha mengungkapkan, korban dinodai oleh ayah kandungnya sendiri saat sebelum dan sepulang sekolah.

"Kasus ini terungkap berkat laporan pihak keluarga korban. Korban 16 tahun, waktu kejadian Juni dan November 2015, tahun 2017 dan terakhir Agustus 2020 kemarin," ujarnya dalam konferensi pers di Mapolresta Banda Aceh, Rabu (28/10/2020).

Saat menodai anak kandungnya, pelaku mengikat tangan korban menggunakan jilbab serta menutup wajahnya dengan bantal. Perlakuan itu dilakukan saat istri atau ibu kandung korban tak berada di rumah.

Selain itu, korban juga diancam akan dibunuh dengan pisau jika tak menuruti kemauan bejat pelaku atau bahkan melaporkan hal ini kepada orang lain.

"Aksi terakhir korban dapat kabur dari kamarnya melalui jendela, korban kabur dan menginap ke rumah temannya. Hal ini diketahui temannya lalu diceritakan juga ke abangnya kemudian baru dilaporkan ke polisi," jelas Kasat.

Saat dilaporkan, lanjut Ryan, CA ternyata sempat kabur ke Abdya hingga akhirnya petugas menangkapnya di daerah Manggeng, Abdya setelah keberadaan pelaku diketahui.

Penangkapan pelaku dilakukan pada 26 Oktober kemarin di Abdya. Dimana, pelaku ditangkap petugas yang dibantu oleh personel Polsek Manggeng.

"Motif pelaku melakukan hal ini lantaran tergiur dengan tubuh korban, ini diketahui awaknya saat korban habis mandi dan diintip pelaku melalui lubang di tembok," kata Kasat.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti seperti pisau dapur yang digunakan pelaku untuk mengancam korban serta sebuah bantal yang digunakan untuk menutup wajah korban.

Pasal yang dikenakan terhadap pelaku pun yakni Pasal 81 Ayat 1 dan 3 tentang Perlindungan Anak dan bukan Qanun Jinayah.

"Kami di Polresta Banda Aceh tetap menggunakan UU Perlindungan Anak, tidak menggunakan Qanun Jinayah karena kejahatan anak terutama pencabulan sangat meresahkan. Tidak bisa dikenakan Qanun tapi UU khusus Perlindungan Anak agar ada efek jera terhadap lain dengan hukuman maksimal," tambahnya.

Rubrik:Hukum