Breaking News

Merasakan Nikmatnya Menyeduh Kopi di Kebunnya Langsung Sambil Melihat Atraksi Pacuan Kuda

Merasakan Nikmatnya Menyeduh Kopi di Kebunnya Langsung Sambil Melihat Atraksi Pacuan Kudaacehportal
Menikmati kopi dikebunnya langsung

ACEH TENGAH, ACEHPORTAL.COM - Kabupaten Aceh Tengah memiliki banyak objek wisata yang indah dan menarik untuk dikunjungi, terutama bagi Anda yang ingin menikmati keindahan alam dan menikmati sejuknya udara disana.

Kebun-kebun kopi terhampar luas dan sejumlah panorama alam juga sudah tersaji disana. Sekarang penduduk yang mendiami negeri atas awan itu sudah memulai mengembangkan agrowisata di kebun kopi yang tumbuh subur di wilayah dataran tinggi gayo itu.

Sebagai upaya untuk menarik para wisatawan lokal maupun mancanengara yang ingin menikmati kopi dikebunnya secara langsung. 

Salah satunya, Galeri Kopi, yang berada di kawasan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah yang disulap menjadi tempat wisata sambil ngopi. Saat memasuki Coffee Shop Galeri Kopi, para pengunjung disambut semerbak wangi kopi dan kicauan burung, yang bertengger di pohon-pohon Lamtoro.

Setelah menikmati kopi jenis arabica, kita bisa melanjutkan berwisata ke lokasi pacuan kuda yang tidak jauh dari kebun kopi yang kita singgahi tadi.

Pacuan kuda di Aceh Tengah

Pacuan Kuda

Disana kita bisa melihat atraksi pacuan kuda tradisional Gayo yang telah menjadi kegiatan rutin tahunan yang melengkapi pesona Gayo Alas.

Pacuan kuda tradisional ini menjadi event wisata yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat tiga daerah serumpun “Tanoh Gayo” yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Ini bukan hanya sekedar event tapi bermula dari pesta rakyat.

Dari sejarahnya, acara ini bermula dari sekelompok anak muda yang iseng menangkap kuda menggunakan sarung di sekitar Danau Lut Tawar. Kala itu banyak kuda digembalakan, mereka lalu memacunya.  Kelompok pemuda dari satu desa sering bertemu dengan pemuda desa lainnya yang akhirnya berlomba memacu kuda tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Lama-lama kebiasaan memacu kuda itu menjadi tradisi tahunan yang digelar di kampung masing-masing. Tahun 1850 pacuan kuda tradisional Gayo sudah dikenal dan tenar di tengah-tengah masyarakat tepatnya di sekitaran Danau Lut Tawar.

Kadisbudpar Aceh Jamaluddin mengatakan, pacuan kuda tradisional yang digelar di dataran tinggi Gayo ini bisa menjadi ajang untuk menarik wisatawan ke Aceh Tengah.

Seorang joki sedang menuntun kudanya di lapangan pacu

"Tentu dengan demikian selain menjadi even tetap tiap tahun juga menjadi data tarik wisatawan. Apalagi kalau memang jadwalnya sudah dipastikan jauh-jauhari, tentu wisatawan bisa mengatur untuk berkunjung kesini,” kata Kadisbudpar beberapa waktu lalu.

Melihat pacuan kuda yang diselenggarakan setiap tahun ini dapat menarik kunjungan wisatawan untuk datang berwisata ke Daratan Tinggi Gayo.

“Pacuan kuda ini bisa memicu pengembangan sektor pariwisata di Aceh, khsususnya di daratan tinggi gayo, sehingga mendorong perekonomian masyarakat setempat,” kata Kadisbudpar. [advetorial]

Rubrik:Pariwisata