Breaking News

Kuburan Belanda di Singkil Bukti Aceh Singkil Pernah Dijajah

Kuburan Belanda di Singkil Bukti Aceh Singkil Pernah Dijajah
Cagar Budaya di Singkil/ Zulkarnain

Aceh Singkil, Acehportal.com - Kuburan Belanda yang berada di Desa Pulo Sarok Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil Aceh, Jadi saksi bisu bahwa Singkil dulunya pernah dijadikan sasaran kaum penjajah.

Pasalnya, kuburan tersebut telah mencatat sejarah bahwa peperangan yang terjadi antara Belanda melawan Aceh dari tahun 1873 sampai 1942, Belanda selalu kalah, bahkan tidak pernah menang, apalagi berhasil menaklukkan rakyat Aceh.

Arifin, juru kunci makam mengatakan, terdapat puluhan kubur serdadu Belanda tepatnya di Jalan Utama lintas pusat kota Singkil itu, menjadi saksi bisu dalam sejarah, bahwa Singkil dulu pernah dimasuki Belanda sebagai daerah jajahan.

"Serta makam tersebut juga tertulis siapa nama serdadu dan kapan tewasnya, akibat sudah lama, dulu makam tersebut tidak terawat, sehingga batu nisannya lapuk dan hancur, sebab dalam penulisan identitasnya sekarang ini kita sangat susah untuk membacanya. Memang diantara puluhan makam tersebut hanya tiga makam lagi yang bisa kita baca tulisannya, kalau yang lain ada tapi kurang jelas kita baca siapa namanya,"Ungkap Arifin kepada acehportal.com Senin (1/2/2021)

Menurut keterangan Arifin, pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu, pada tahun 1975 sampai dengan tahun 1990 Kuburan tersebut tidak diperhatikan dan tidak terurus.

"Waktu itu belum pernah mendapat pemugaran dari pihak Belanda dan pihak lainnya yang terkait, kebetulan juga status Singkil dulu, masih dibawah hukum Kabupaten Aceh Selatan, pada tahun 1999 kebetulan Singkil di mekarkan menjadi Kabupaten Aceh Singkil," terangnya

Sementara itu, pada tahun 2001 Arifin menyampaikan bahwa kuburan Belanda, pernah mendapat kunjungan dari Wakil Presiden Republik Indonesia Alm Hamzah Haz, karena pemerintah Kabupaten Aceh Singkil telah mengambil inisiatif melakukan pemugaran sendiri.

"Karena makam kuburan Belanda di Kabupaten Aceh Singkil menjadi saksi bisu dan situs bersejarah, serta diketahui adanya perang kolonia Belanda dulu di Singkil, juga agar bisa menjadi kenangan yang cukup mendalam yang tak terlupakan bagi rakyat Singkil dan Belanda. Perlu dibuat tugu atau monument agar masyarakat atau generasi, tahu tentang sejarah peperangan Belanda di Aceh Khususnya di Singkil," ujarnya

Ketika dimintai keterangan terkait bangunan pagar yang roboh, Arifin juga mengatakan, bahwa pagar tersebut dibangun pada tahun 2001, Oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil yang dipimpin sebagai Bupati nya Alm H. Makmursyah Putra.

"Keadaan fisiknya rusak berat, diakibatkan bencana Alam Gempa Nias pada tahun 2005 dulu," imbuhnya

Namun saat dimintai keterangan terkait pemugaran makam tersebut, Arifin mengungkapkan, bahwa pada tahun 2020 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil dan Dinas Pariwisata Provinsi Aceh Bidang Cagar Budaya.

"Memprogramkan pemiliharaan dan pembersihan Pemakaman, serta menunjuk saya salah seorang petugas hanya untuk kebersihan serta pemeliharaan, yang sudah berjalan sejak bulan Januari tahun 2020 lalu," Imbuhnya

Arifin juga menyampaikan, sejak pemeliharaan makam kuburan Belanda, baru terlaksana dan langsung ditunjuk juru pelihara pada tahun 2020 sesuai dengan Surat Keputusan SK Nomor : SNB. 432/022/2020 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Yang telah berakhir pada tanggal 31 Desember 2020.

"Saat ini kita lihat makam terawat dengan baik dan bresih, karena kita selalu membesihkan dan menjaganya, sekarang saya hanya menanti informasi terkait juru kunci, apakah SK nya perpanjangan atau tidak, saya kurang tau persis," Ujarnya

Arifin juga berharap agar makam tersebut dipugarkan lebih baik lagi untuk dilestarikan, berhubungan identitas atau tanda pengenal makam belum ada.

"Sehingga banyak warga tidak mengetahui, padahal lokasi makam tersebut berada dipusat kota kabupaten Aceh Singkil, langsung ditepi jalan yang selalu dilalui," harapnya

Saat diminta dikomfirmasi terkait pagar yang roboh, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil Khalilullah mengatakan, Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Singkil sangat terbatas.

"Anggaran APBK kita sangat terbatas, untukk dapat memperbaiki secara cepat, jadi kami sedang berupaya mencari donatur yg dpt membantu merehabilitasi TPU/makam Belanda tsb terutama dgn pihak kedutaan Belanda,"Ujarnya

Ketika dimintai keterangan, terkait tidak adanya pamplet atau tanda pengenal kuburan Belanda tersebut, Khalilullah menyampaikan, Tahun ini sudah dianggarkan.

"Sudah kita anggarkan tahun ini untuk pamplet beberapa cagar budaya,"

Sementara itu, saat dimintai tanggapan terkait dengan Surat Keputusan SK juru makam atau juru pelihara (Jupel) malam oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, yang sudah berakhir, Khalilullah menyampaikan, pihaknya lagi menunggu kabar.

"Kita sedang menunggu kabar dari provinsi atas kelanjutan jupel yang selama tahun 2020 sudah tersedia pada beberapa situs cagar budaya kita. Dan kita juga sudah mengajukan tambahan jupel untuk tahun 2021, tapi sampai saat ini belum dapat kepastiannya," imbuhnya

Ketika warga berharap agar makam tersebut dipugarkan lebih baik lagi untuk dilestarikan, Khalilullah menyampaikan sedang diupayakan. "Sedang kita upayakan," jelasnya

Rubrik:Daerah