Kronologis Pengambilan Narkotika di Malaysia oleh 4 Terdakwa yang Dituntut Mati di Langsa

Kronologis Pengambilan Narkotika di Malaysia oleh 4 Terdakwa yang Dituntut Mati di Langsa
Ilustrasi

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) menuntut empat Terdakwa kasus narkotika yakni ABD alias Dulah bin Alm ZA, MR alias Ijal alias Siwik bin RZ, M alias Adi bin I serta GS alias Nawan bin Alm SR dengan hukuman mati, Selasa (23/11/2021).

Menurut JPU Kejari Langsa seperti dikutip dari laman Facebook Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh, keempat terdakwa terbukti melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sebagaimana dalam dakwaan primair.

Kasus itu berawal dari Selasa 9 Maret 2021 lalu, dimana saksi MUL bin IB (dilakukan penuntutan dalam berkas perkara terpisah) mendapatkan perintah melalui panggilan telepon dari DAMI (DPO yang belum tertangkap) untuk mencari orang yang dapat mengambil narkotika di daerah perairan Malaysia.

Saksi MUL pun kemudian menghubungi terdakwa ABD alias Dulah bin Alm ZA dan menawarkan kepadanya untuk mengambil narkotika di perairan Malaysia. Tawaran tersebut disanggupi oleh terdakwa ABD saat itu.

Terdakwa meminta uang kepada saksi MUL senilai Rp 5 juta untuk membeli keperluan dapur keluarga beserta keluarga rekannya yang akan menemaninya mengambil barang haram tersebut.

Lalu, saksi MUL menghubungi MY alias Dodol (DPO yang belum tertangkap) agar mempersiapkan akomodasi dan boat untuk keperluan terdakwa ABD dan rekannya mengambil narkotika di perairan Malaysia.

Pada Rabu 10 Maret 2021 sekira pukul 19.54 WIB, MUL menerima titik koordinat atau lokasi laut untuk pengambilan narkotika di perairan Malaysia yang dikirim oleh DAMI ke nomor handphone milik MUL yang selanjutnya diteruskan kepada terdakwa.

Terdakwa ABD pun bertemu dengan saksi MUL, saksi GS dan dan saksi MR di rumah MY alias Dodol di daerah Percut Sei Tuan, Medan, Sumatera Utara. Sekira pukul 22.05 WIB, terdakwa bersama dengan saksi GS dan saksi MZ berangkat menggunakan boat milik saksi MUL untuk pergi mengambil narkotika tersebut.

Akan tetapi pada Kamis 11 Maret 2021 sekira pukul 15.35 WIB, boat yang digunakan terdakwa bersama teman-temannya itu mengalami kerusakan, sehingga kembali lagi ke daerah Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Medan untuk diperbaiki.

Pada Minggu 14 Maret 2021 sekira pukul 15.15 WIB, terdakwa bersama saksi GS dan saksi MR berangkat kembali menuju ke perairan Malaysia untuk mengambil narkotika dengan membawa perlengkapan menangkap ikan di laut sebagai alat untuk mengelabui petugas patroli, handphone satelit untuk berkomunikasi dengan orang Malaysia serta alat GPS.

Lalu, antara terdakwa dan saksi MR bergantian mengemudikan boat serta bergantian membaca titik koordinat. Pada saat boat tiba pada titik koordinat N 05.35.500 dan E.100.10.600 tepatnya di perairan laut Pulau Penang, terdakwa melakukan komunikasi menggunakan handphone satelit dengan orang Malaysia yang akan menyerahkan narkotika tersebut ke nomor +60175844630 dan +8821676002622.

Setelah itu, barulah terlihat kapal dari Malaysia mendekat dengan memberikan isyarat kedipan lampu senter. Terdakwa dan saksi GS membalas dengan mengarahkan cahaya lampu senter sebagai isyarat ke arah kapal Malaysia yang akan menyerahkan narkotika.

Setelah kapal tersebut mendekati boat terdakwa, selanjutnya antara boat terdakwa dan kapal dari Malaysia beriringan kemudian terdakwa menerima lima tas yang berisi narkotika jenis sabu-sabu dan ekstasi.

Terdakwa bersama dengan saksi GS dan saksi MZ menghitung isi di dalam tas tersebut, setelah dihitung diketahui tas beriskan sabu sebanyak 70 bungkus dan ekstasi 10 bungkus besar serta satu bungkus wafer yang berisi tiga bungkus kecil ekstasi.

Terdakwa bersama saksi GS dan MZ menyembunyikan seluruh narkotika itu di bagian palka boat yang diatasnya diletakkan kotak fiber berisi ikan untuk mengelebui pemeriksaan petugas.

Pada Selasa 16 Maret 2021 sekira pukul 19.30 WIB, saksi AR dan Saksi AN yang keduanya merupakan anggota Polri yang ditugaskan di Badan Narkotika Nasional bersama dengan MM selaku Nahkoda Kapal Bea Cukai 20008 melakukan kegiatan patroli gabungan di sekitaran perairan Langsa.

Saat berada di titik koordinat L04 46 24 U/098 09 18 T atau pada posisi lebih kurang 40 mil dari Peureulak, mereka melihat boat mencurigakan. Kemudian, saksi AR dan AN bersama MM memberhentikan boat yang sedang dinahkodai oleh terdakwa tersebut.

Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan meliputi dokumen kapal dan muatan barang serta barang bawaan dari terdakwa, saksi GS dan saksi MR.

Saat saksi AR dan AN melakukan pemeriksaan pada bagian palka kapal di bawah kotak ikan, ditemukan barang mencurigakan berupa beberapa tas plastik, yang dicurigai merupakan narkotika.

Tas plastik tersebut oleh saksi AR dan AN diamankan dan dipindahkan ke Kapal BC 20008 yang dinahkodai oleh MM berikut dengan terdakwa, saksi GS dan saksi MR.

Sedangkan kapal ikan yang dinahkodai oleh terdakwa ditarik dengan menggunakan Kapal Bea Cukai 20008 untuk dibawa ke dermaga kapal milik Bea Cukai Langsa guna proses lebih lanjut.

Setelah itu, isi tas plastik yang dicurigai berisi narkotika tersebut dilakukan uji narkotika dengan menggunakan alat narkotes dan diperoleh hasil positif mengandung narkotika jenis sabu dan ekstasi.

Terhadap barang bukti dalam perkara tersebut adalah sebagai berikut:

- 70 bungkus sabu-sabu dalam kemasan teh China dengan berat lebih kurang 73.527,5 gram (73,5 kilogram). Setelah dilakukan uji laboratorium dan pemusnahan barang bukti saat ini tersisa sebagai sample di persidangan sebanyak 70 gram;

- 10 bungkus ekstasi dan satu bungkus kemasan wafer berisi tiga plastik ekstasi dengan jumlah 35.915 butir atau dengan berat 14.366,1 gram. Setelah dilakukan uji laboratorium dan pemusnahan barang bukti saat ini tersisa sebagai sample di persidangan sebanyak 65 butir atau 26 gram;

- 4 unit handphone berbagai merek;

- 1 buah buku catatan titik koordinat STS;

- 4 goodie bag;

- Kartu ATM dan buku tabungan BCA;

- 1 (satu) unit kapal ikan (boat) (dirampas untuk negara);

- Beberapa lembar kartu identitas terdakwa (yang telah dikembalikan kepada para terdakwa).

Terhadap tuntutan kepada para terdakwa melalui penasihat hukumnya yakni Permata Sakti Hasibuan menyatakan pembelaan terhadap tuntutan dari JPU dan sidang ditunda pada Kamis tanggal 2 Desember 2021 dengan agenda Pledoi.

Sidang tersebut dilaksanakan secara daring dengan terdakwa berada di Lapas Kelas IIB Langsa, JPU berada di Kantor Kejaksaan dan Majelis Hakim berada di Pengadilan Negeri Langsa.

Sumber: Laman Facebook Kejati Aceh

Editor:
Rubrik:Hukum