Breaking News

Kisah Pilu Ibu di Abdya Anaknya Buta Sejak Lahir, Suami Pergi Tak Tau Rimbanya

Kisah Pilu Ibu di Abdya Anaknya Buta Sejak Lahir, Suami Pergi Tak Tau Rimbanya(Salman/ACEHPORTAL.com)
Halimah menggendong anaknya Husnul Qatimah (9) yang mengalami kebutaan dan lumpuh sejak lahir. Sementara suaminya, tak tau keberadaannya entah dimana.

BLANGPIDIE, ACEHPORTAL.com - Kisah memilukan dan sedih dialami oleh seorang ibu, Halimatun Nur Suria (34), warga Desa Alue Rambot, Kecamatan Lembah Sabil, Aceh Barat Daya (Abdya).

Betapa tidak, perempuan yang kini menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya ini mesti merawat sang buah hati, Husnul Qatimah (9) yang menderita cacat mata (buta) dan mengalami kelumpuhan sejak dari lahir.

"Sejak lahir memang tidak normal seperti bayi lainnya, anak saya mengalami kebutaan dan lumpuh," ungkap Halimah panggilan akrab Halimatun Nur Suria kepada wartawan saat berkunjung ke kediamannya, Minggu (16/10/2021).

Selain itu, kata Halimah, anaknya Husnul Qatimah juga tak bisa berbicara lantaran langit-langit mulut anaknya mengalami kebocoran.

Karena dokter mendiagnosa anaknya menderita komplikasi pada hampir seluruh organ tubuh, sehingga ia hanya dapat menelan susu sebagai asupan tubuhnya sehari-hari.

Ia menceritakan, sejak Husnul Qatimah lahir, rumah sakit adalah rumah kedua bagi mereka. 

"Kalau tidak ada uang terkadang anak saya hanya saya berikan susu kotak yang dijual di kios seharga tiga ribuan. Bahkan, tak jarang saya berikan tepung beras yang dicampur air sebagai pengganti susu," ujar perempuan asal Kalimantan tersebut dengan raut wajah sedih.

Halimah menyebutkan, jika dia berasal dari Kalimantan mengikuti suami yang tinggal di Aceh. Ia dan suaminya, Sukardy (38), bertemu di Malaysia saat keduanya menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

"Setelah melahirkan anak pertama, tahun 2007, suami mengajak pulang ke Aceh," sebut dia.

Lanjut Halimah, setelah anak ketiganya itu lahir sekitar tahun 2012 lalu, sang suami berpamitan mencari pekerjaan ke Banda Aceh dan hingga sekarang suami tak kunjung kembali. 

"Waktu itu suami pergi dengan mobil kawannya, sekalian bawa durian dan buah semangka ke Banda Aceh," tuturnya.

Menurut Halimah, ketika suami pergi, anak ketiganya tersebut masih berusia tiga bulan. Kini sang anak sudah berusia sembilan tahun.

Halimah dan pihak keluarga suami pun sudah berusaha mencari keberadaan suaminya itu. Akan tetapi, hasilnya tidak ditemukan.

Selama ini, ujar Halimah, untuk bertahan hidup dan menafkahi anak-anaknya ia mencari nafkah seorang diri bekerja sebagai buruh cuci dan membersihkan rumah warga sekitar.

"Kadang mencuci baju dan menyapu rumah tetangga sekitar, selain itu ada juga dapat bantuan dari pemerintah dan warga sekitar," ujarnya dengan lirih.

Halimah dan kedua anak laki-lakinya, Irfan Gunawan (15) dan Rahmat Danil (13), sama-sama harus berjuang untuk bertahan dalam keadaan memprihatinkan ini. 

Kedua anak laki-lakinya tersebut masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Harapan saya, anak saya kan cuman minum susu, nggak makan nasi. Jadi tolonglah pemerintah atau siapa pun untuk membantu meringankan beban saya membeli susunya," harap Halimah.

Sementara itu, Pj Kepala Desa (Kades/Keuchik) Desa Alue Rambot, Syawal (50) mengaku bahwa Halimah hanya tinggal bersama ketiga anaknya, sedangkan suaminya tak tau dimana.

Sebelumnya, keluarga Halimah tinggal di gubuk kecil. Kemudian rumah yang mereka tempati mendapat bantuan renovasi dari pemerintah.

Rumah tersebut berukuran kecil yang belum sepenuhnya rampung, hanya memiliki satu kamar dan dapur tanpa kamar mandi.

"Tahun 2017 yang lalu ada bantuan rehab rumah dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebesar 15 juta melalui program Bantuan Rumah Swadaya," katanya.

Selain itu, tambah Syawal, Halimah juga mendapatkan Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

"Harapan kami, dimana pun keberadaan Sukardy (ayah Husnul Qatimah), pulang lah, kasihan anak-anak," pinta Syawal.

Editor:
Rubrik:Daerah