Breaking News

Janji Handel Pemberitaan, Oknum Wartawan Disebut Terima Suap Rp 270 Juta

Janji Handel Pemberitaan, Oknum Wartawan Disebut Terima Suap Rp 270 Juta
Konferensi pers kasus korupsi di Mapolres Gayo Lues. (Ist)

BLANGKEJEREN, ACEHPORTAL.com - Sejumlah oknum wartawan dan LSM disebut-sebut menerima uang untuk handel pemberitaan dalam kasus korupsi program peningkatan Sumber Daya Santri pada Dinas Syariat Islam Gayo Lues yang diduga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 3.763.790.368 miliar.

Menurut pengakuan SH selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan pada Dinas Syariat Islam Gayo Lues itu, hasil rasuah itu mengalir ke dua oknum wartawan dan LSM dengan catatan agar meredam pemberitaan dugaan kasus korupsi yang dimaksud.

“Kami berikan uang tunai sebesar Rp 270 juta kepada NS dan HM yang diketahui oleh Kadis, Rekanan dan Pokja,” kata SH mengaku saat wawancara usai konferensi pers di Aula Mapolres Gayo Lues, Rabu (28/4/2021).

Pemberian uang dugaan suap itu, katanya, usai selesai pekerjaan tepatnya tahun 2020 lalu tanpa mengingat tanggal dan harinya. Pemberian uang itu pun disaksikan lima orang lainnya termasuk Pokja yang langsung diserahkan ke NS di kediamannya.

Dikatakan SH yang akrab disapa Apuk ini, tujuan diberikan uang itu untuk menghandle segala bentuk berita secara keseluruhan terkait uang makan minum karantina hafidz.

Sementara, tersangka HS selaku KPA dan mantan Kepala Dinas Syariat Islam Gayo Lues mengaku tidak ikut memberikan uang itu. Namun ia mengetahui adanya pemberian uang kepada kedua oknum tersebut yakni NS dan HM.

Diberitakan sebelumnya, Polres Gayo Lues menetapkan tiga tersangka atas dugaan kasus korupsi program peningkatan Sumber Daya Santri pada Dinas Syariat Islam Gayo Lues yang diduga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp. 3.763.790.368 miliar.

“Dari penyidikan sejak 2019, polisi menetapkan tiga tersangka dalam kasus korupsi pengadaan makan minum karantina hafiz,” kata Kapolres Gayo Lues, AKBP Charlie Bustamam di Aula Mapolres setempat, Rabu (28/4/2021).

Charlie menyebutkan, ketiga tersangka berinisial LH sebagai rekanan, SH selaku PPTK dan HS Kuasa Pengguna Anggaran, yang merupakan mantan Kepala Dinas Syariat Islam Gayo Lues. 

Masih kata Charlie, LH lebih awal diciduk sejak 14 April, kemudian pada 22 April menyusul PPTK dan terakhir Senin 27 April kemarin polisi kembali menciduk HS selaku Kuasa Pengguna Anggaran.

Ketiganya diduga menilep dana sejumlah Rp 3.763.790.368 miliar dari total anggaran Rp 9.027.949.000 miliar yang bersumber dari mata anggaran pada kegiatan pengadaan makan minum karantina hafiz tersebut. 

Proyek yang diduga dikorupsi itu bersumber dari Pendapatan Belanja Kabupaten-DOKA pada tahun anggaran 2019.

Selain itu, kata Kapolres, dari pengembangan penyidikan selanjutnya kemungkinan ada tambahan tersangka baru dalam kasus ini.

"Masih dalam tahap pengembangan, kita sudah periksa 20 saksi, dan kemungkinan ada yang akan dipanggil lagi,” jelas Kapolres, sembari menjelaskan perhitungan kerugian negara itu didapat berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan Aceh. 

Ketiga tersangka terancam hukuman minimal 4 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara serta denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1miliar. 

Iklan idul fitri gub
Iklan bub gayo lues