Hutan Terus Dibabat, Satwa Banyak Mati

Gurihnya Dana Rp 160 Miliar untuk Jaga Hutan dan Satwa di Aceh

Gurihnya Dana Rp 160 Miliar untuk Jaga Hutan dan Satwa di Aceh(Dok. RMOLAceh.id)
Gelontoran dana Program TFCA Sumatera di Aceh untuk perlindungan satwa.

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menyorot kinerja lembaga konsorsium Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera) mengelola anggaran Rp 160 miliar untuk perlindungan satwa di Aceh.

Sementara, kasus konflik serta kematian satwa pun terus terjadi, termasuk kawasan hutan yang kian menipis karena maraknya illegal logging dan perburuan satwa dilindungi meningkat. Padahal, anggaran yang dihabiskan tak sedikit.

Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur menuturkan, sejak 2012 hingga 2021 anggaran yang digelontorkan oleh TFCA-Sumatera pengelolaannya dilakukan 12 lembaga konsorsium mencapai Rp 160 miliar lebih yang jika dibagi per tahun sekitar Rp 17,7 miliar.

"Fakta di lapangan, kerusakan hutan, kematian satwa, konflik dan perburuan terhadap satwa lindung terus terjadi. Dampak perlindungan tidak sebanding dengan anggaran yang dihabiskan," kata Nur dalam siaran pers yang diberikan, Rabu (3/11/2021).

Ia menyebutkan, hasil pemantauan Walhi Aceh sejak 2016-2021 sekitar 46 individu gajah mati, sebagian besar karena konflik dan sisanya karena perburuan dan kematian alami.

"Kasus perdagangan kulit harimau juga terjadi serta konflik gajah juga masih masif terjadi. Artinya uang besar yang dihamburkan TFCA tidak menyelesaikan persoalan konflik satwa-manusia," ungkapnya.

Seperti konflik gajah, lanjut dia, bukan hanya berdampak pada keberlangsungan hidup satwa, namun juga memberikan dampak kerugian ekonomi pada warga.

"Namun, warga yang terdampak tidak pernah diberi ganti rugi dan minim dilibatkan, mereka hanya jadi objek atas program perlindungan satwa," tegas Nur.

Semestinya, kata Nur, dengan anggaran sebesar itu warga yang berada di kawasan hutan dapat dilibatkan penuh sebagai komunitas perlindungan satwa digaris utama.

Menurutnya, Program Aksi Nyata Konservasi Hutan Tropis Sumatera merupakan satu skema pengalihan utang untuk lingkungan (debt-for-nature swap) oleh Pemerintah Amerika Serikat dengan Pemerintah Indonesia yang ditujukan untuk melestarikan kawasan hutan tropis di Sumatera.

Kesepakatan kedua negara dan para pihak yang terlibat (Yayasan KEHATI dan Conservation International Indonesia) ditandatangani pada tanggal 30 Juni 2009 bertempat di Manggala Wanabhakti, Jakarta.

Di Aceh, anggaran program TFCA-Sumatera dikelola oleh konsorsium yakni Konsorsium Orangutan Information Center, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Konsorsium Jantho Lestari, Konsorsium Suar Galang Keadilan, CRU Aceh, Forum Konservasi Leuser.

Selanjutnya, Yayasan Leuser International (YLI), Yayasan Orangutan Sumatra Lestari (YOSL), North Sumatra Rhino Consorsium, dan Veterinary Society For Sumatra Wildlife (Vesswic).

Rubrik:Umum