Breaking News

GerPas Nilai Penggunaan DID Penanganan Covid-19 untuk Budidaya Vaname di Aceh Selatan Tidak Ekonomis

GerPas Nilai Penggunaan DID Penanganan Covid-19 untuk Budidaya Vaname di Aceh Selatan Tidak Ekonomis
Hasil panen udang vaname. (Ist)

TAPAKTUAN, ACEHPORTAL.com - Ketua Gerakan Pemuda Aceh Selatan (GerPas), Rizal menilai, penggunaan anggaran hingga sekitar Rp 1 miliar oleh Pemerintah Aceh Selatan untuk pilot project budidaya udang vaname sangat tidak efesien dan tidak dapat dicontoh. Pasalnya, jika dikaji secara aspek ekonomis masih jauh api dari panggang.

"Seharusnya uang Rp 1 miliar yang bersumber dari Dana Insentif Daerah (DID) penanganan Covid-19 tahun anggaran 2020 itu dapat digunakan untuk mensupport sampai lima kelompok masyarakat dengan quota bibit yang sama yakni 600 ribu ekor bahkan bisa jadi satu juta ekor bibit, tetapi sangat disayangkan Pemkab Aceh Selatan hanya memberikan bantuan hingga Rp 1 M itu kepada kelompok masyarakat yang khabarnya merupakan milik orang dekat dan famili orang nomor satu di Aceh Selatan itu," ungkap Ketua GerPas, Rizal kepada ACEHPORTAL.com, Minggu (11/07/2021).

Rizal mengatakan, modal Rp 1 miliar untuk budidaya udang vaname dengan hasil 2 kali panen 7,5 ton selama 4,5 bulan dengan pendapatan bruto sekitar Rp 685 juta belumlah menunjukkan bahwa budidaya tersebut memiliki nilai yang ekonomis dan dapat dicontoh oleh masyarakat. 

"Secara prinsip ekonomi semestinya dengan waktu mencapai 4,5 bulan dan modal yang relatif besar itu telah dihasilkan profit, apalagi dikatakan proses budidaya yang dilakukan insentif," ujarnya.

Ia menyebutkan, penggunaan alokasi anggaran yang dikhusus untuk penanganan Covid-19 seyogyanya digunakan sebaik mungkin dan harus bermanfaat kepada masyarakat banyak. 

"Pemkab semestinya menggunakan alokasi anggaran dengan seefesien mungkin untuk membantu lebih banyak masyarakat, sehingga dampaknya lebih dirasakan," tegasnya.

Masih kata Rizal, dalam pemberian project percontohan Pemkab Aceh Selatan dinilai masih lumayan gagal. Mengingat anggaran modal yang digunakan relatif besar.

"Semestinya secara umumnya yang dapat kita lihat diberbagai tempat dengan menggunakan sistem bioflok kolam bundar dengan masa panen yang relatif singkat hanya 2,5 hingga 3 bulan, justru back of periode (BEP) nya sudah terpenuhi. Sehingga secara jelas dapat dicontoh untuk dikembangkan oleh masyarakat," tandasnya.

Editor:
Rubrik:Daerah