Breaking News

Formas dan Himasil Pajang Spanduk Nyeleneh, Begini Kronologisnya

Formas dan Himasil Pajang Spanduk Nyeleneh, Begini Kronologisnya
Petugas Satpol PP Singkil menurunkan spanduk yang dipasang oleh mahasiswa. (Ist)

SINGKIL, ACEHPORTAL.com - Forum Mahasiswa Aceh Singkil (Formas) Lhokseumawe dan Himpunan Mahasiswa Aceh Singkil (Himasil) Lhokseumawe memasangkan spanduk di depan Kantor Bupati Aceh Singkil yang berada di kawasan Gampong Pulo Sarok, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, Rabu (27/4/2021).

Pemasangan spanduk tersebut merupakan dukungan atas Kinerja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil yang dipimpin Dulmusrid sebagai Bupati dan Sazali sebagai Wakil Bupati dengan slogan perubahan.

Namun, spanduk yang dipajang berbeda dengan spanduk ucapan selamat yang berbeda, sehingga Pemkab Aceh Singkil berinisiatif secara paksa untuk menurunkan spanduk tersebut.

Saat dikonfirmasi, Ketua Formas Lhokseumawe, Shandala Andika yang langsung ikut turun tangan untuk memasang spanduk mengungkapkan ucapan selamat ulang tahun untuk kabupaten Aceh Singkil yang ke 22 tahun.

"Jadi untuk pemasangan spanduk itu tujuannya mengingatkan bahwasanya Bapak Bupati telah memimpin selama empat tahun lebih, kok tidak ada perkembangan kemajuan kabupaten Aceh Singkil," tuturnya.

Lanjut dia, bukan hanya itu dari visi misi yang dikaji disampaikan bupati sebelum menjabat jadi bupati, tidak terwujud sampai sekarang. 

"Dan yang kami kecewakan satu lagi tingkah laku Pak Sekda terhadap spanduk yang kami pasang dan dia melarang. Tidak ada landasan, baru tidak ada hak untuk dilarang, serta tidak ada disampaikan sama kami," ungkap Shandala.

Ia juga mengatakan, kemungkinan kegiatan itu bukan hanya gitu saja kegiatan habis lebaran kemungkinan.

"Akan diadakan aksi besar-besaran seluruh mahasiswa maupun elemen masyarakat pemuda dan organisasi-organisasi mahasiswa yang di luar daerah bukan hanya Lhokseumawe," jelasnya.

"Pesan-pesannya untuk Pemerintah Kabupaten Singkil khususnya Bupati dan Wakil Bupati supaya memajukan kabupaten kita tercinta ini. Untuk lebih, lebih memajukan khususnya Daerah kita ini karena dipantau oleh se provinsi Aceh bahwa kabupaten termiskin. Coba dikembangkan," sambung Shandala.

Ia juga mengatakan, sangat kecewa dengan adanya Aksi Satpol PP yang disuruh untuk menurunkan spanduk yang dipasang dari mahasiswa tadi.

"Kami sangat kecewa kepada Satpol PP dan WH karena tidak ada konfirmasi sama kami. Langsung dicabut. Kalau memang ada konfirmasi, kan bisa dibicarakan secara dua belah pihak maupun secara berdampingan dengan pak Sekda, itu kecewa terhadap Satpol-PP dan WH," terangnya.

Disinggung, melaksanakan aksi apa ada pemberitahuan kepada pihak Kepolisian. Shandala mengatakan, sebelum turun mereka ada memberitahukan ke Kapolres melalui Kaset Intel.

"Dan kasat intelnya menyuruh diberitahukan kepada Kasat Intel Kapolsek karena wilayah kantor yang kita pasang Spanduk, kan daerah Kapolsek Singkil. Ada pemberitahuan, tapi tidak ada diminta surat, karena kami pun menginginkan kemarin supaya diminta surat, itu tidak perlu hanya pemberitahuan saja karena tidak ada kerumunan itu alasan dari pihak keamanan," terang Shandala.

Senada disampaikan, Plt. Sekretaris Jendral (Sekjen) Himasil Lhokseumawe, Abdul Dawi Bancin, kepada ACEHPORTAL.com mengungkapkan, sebelumnya adapun latar belakang memasang spanduk ini pertama dukungan, support untuk Pemerintah Aceh Singkil untuk memperingati hari ulang tahun Aceh Singkil yang ke 22 tahun.

"Kemudian di bawahnya kami buat situ ada sistem Setire Itu kalau bahasa sederhananya sebuah sindiran. Kalau seandainya itu ada istilah pemojokan, atau penyerangan pribadi itu tidak ada," ungkap Dawi

Lanjut dia, kemudian di situ dikatakan, disampaikan ke semua kawan-kawan mahasiswa.

"Bahwa terima kasih dedikasinya atas pencapaiannya mempertahankan Kabupaten Aceh Singkil yang termiskin di Provinsi Aceh," ujarnya.

"Secara akal sehat itu bisa menjadi bahan evaluasi baik bagi Pemda bahwa apa yang kami sampaikan itu adalah bentuk rasa kekesalan kami ataupun rasa ketidaknyamanan kami atas apa di kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan oleh pemda saat ini," tambahnya.

Disinggung, apakah pemda untuk saat ini, tidak ada capaian atau prestasi yang diproleh, Abdul Dawi menyampaikan, menurutnya mereka bukan anti terhadap pemerintahan tapi yang mereka sampaikan tidak mengukur kinerja.

"Karena itu bukan ranah kami untuk mengukur tingkat kinerja Bupati. Intinya tugas kami adalah, salah kami ingatkan, kalau seandainya kami disuruh buat solusi itu bukan tugas kami. Itu ada tugas tersendiri bagi pihak SKPK-SKPK lain. Tugas kami adalah hanya menyampaikan apa yang ingin kami sampaikan," papar dia.

Ia menyampaikan, namun dalam kesempatan itu ia atas nama Plt Sekjen Himasil Lhokseumawe.

"Yang kami sampaikan disini adalah bahwa Pemda telah menciderai Demokrasi, artinya bagaimana, tanpa adanya pertemuan dengan kami, apa tujuan kami, tapi nyatanya spanduk kami di turunkan," kata Dawi.

Namun ia mengungkapkan, sejauh ini belum bisa dipastikan hanya saja terkait hal itu akan berkelanjutan. 

"Apabila misalnya tuntutan kami, ataupun yang inj tidak dihargai pendapat kami ini, kami akan melakukan langkah, yang kedepannya baik melalui konferensi Pers atau turun ke jalanan itu tergantung bagaimana kami dilapangan nantinya," terang Dawi.

"Intinya pesan kami, jadilah pemimpin yang bijak, artinya bagaimana memahami apa yang disampaikan, apa yang dikritik oleh masyarakat Aceh Singkil, intinya jangan terbawa baper apa yang disampaikan," tutur Dawi.

Dikonfirmasi Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Singkil, Azmi, menyuruh untuk konfirmasi kepada kepala Satpol-PP dan WH Aceh Singkil, Ahmad Yani, berhubung dia ada agenda rapat mendadak dengan Forkopimda di ruangan opprom Kantor Bupati.

"Kami tadi di telepon oleh Pak Sekda, Kata Pak Sekda itu tolong jangan ada pemasangan spanduk di situ, itu sudah saya suruh bongkar anggota Satpol-PP tadi ada berdua disitu, tolong di bantu, pokoknya itu jangan, Karena itu menyudutkan Pak Bupati katanya, saya jawab boleh Pak, datanglah kami, kami lihat sudah kosong, atau sudah terbongkar," ujar Ahmad Yani saat dikonfirmasi ACEHPORTAL.com.

Disinggung dilokasi apa fakta ditemukan, Ahmad menyampaikan, tadi kita datang spanduk sudah di bawah.

"Alat-alat praganya sudah dibawah, sudah terbongkar, itu mungkin anggota saya yang bongkar, tapi itu sebenarnya Pak Sekda yang perintahkan itu, atas perintah Pak Bupati," jelasnya.

Ia katakan, kan sudah disampaikan Pak Sekda tadi, sesuatu dalam hal ini tidak bisa melarang, tapi tidak boleh dipasang di halaman kantor Bupati.

"Kalau pun boleh itu hak mereka, pasang ditempat yang lain, jangan disitu, terakhir diserahkannya sama Pak Mawardi," ungkapnya.

Saat dikonfirmasi Kapolsek Singkil, Iptu Mawardi, SH. Menyampaikan, perintah Sekda berdasarkan perintah Bupati.

"Tidak boleh pasang Spanduk disitu, atau dihalaman seputaran kantor Bupati," ujar Mawardi.

Namun saat di singgung apakah ada pemberitahuan atau izin, Mawardi menyampaikan, sebetulnya orang ini kalau adakan kegiatan harus ke Polres, memberitahukan.

"Imbauan kita, dalam status pandemi jangan sampai ada kerumunan masa untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Bahkan kami kemarin datang Kepolres untuk mengikuti protokol kesehatan, namun terkait hal ini kalau di tanya sama kami nggak boleh di pasang, kecuali sudah ada izin dari Polres," pungkas Mawardi.

Editor:
Rubrik:Daerah, Peristiwa, Umum
Iklan idul fitri gub
Iklan bub gayo lues