Buat Surat Terbuka Soal Matinya Canon, Akun Penggiat Sosmed di Aceh Singkil Ditutup Facebook

Buat Surat Terbuka Soal Matinya Canon, Akun Penggiat Sosmed di Aceh Singkil Ditutup Facebook(Dok. Abdul Berutu)
Abdul Berutu, penggiat media sosial sekaligus Inisiator Rumah Millenial Aceh Singkil.

SINGKIL, ACEHPORTAL.com - Kematian seekor anjing bernama Canon di Pulau Balai tepatnya Desa Pulau Baguk, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil pada 22 Oktober lalu hingga kini menjadi trending.

Para pengguna media sosial baik di YouTube, Twitter, Facebook, Instagram dan lainnya juga tak henti membuat konten atau unggahan yang menjadi pro kontra terkait kematian anjing tersebut. 

Bahkan, kematian Canon diketahui sudah dilaporkan ke Polres Aceh Singkil oleh orang yang merasa keberatan. Pelapor merupakan seorang pemerhati hewan dari Yayasan Pengayom Satwa Indonesia yakni Doni Herdaru Tona. 

Salah satu akun Facebook bernama Abdul Berutu New tak lagi terlihat usai pemilik akun tersebit membuat surat terbuka atas kematian Canon. 

Saat dikonfirmasi, pemilik akun Facebook Abdul Berutu New yakni Abdul Berutu membenarkan bahwa akunnya sudah tak lagi bisa digunakan lagi setelah membuat surat terbuka.

"Melihat heboh dan viralnya tentang kematian anjing Canon yang tiada berujung bahkan framing dibelokkan ke wisata halal, sehingga muncul niat dan ide saya untuk membuat surat terbuka di Facebook untuk sedikit meluruskan informasi yang sudah bias dan berkembang kemana-mana," katanya, Kamis (28/10/2021). 

"Namun 30 menit tulisan tersebut saya buat dengan beragam komentar dan di-share oleh netizen tiba-tiba akun Facebook saya hilang dan memberitahukan bahwa saya telah menyalahi standar Facebook ditutup sementara hingga 30 hari ke depan," pungkasnya.

Berikut surat terbuka yang dibuat oleh akun Facebook bernama Abdul Berutu New:

*SURAT TERBUKA*

Aceh Singkil, 28 Oktober 2021

Kepada Yth :

Presiden Republik Indonesia Bpk @jokowi 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif RI Bpk @sandiuno 

Ketua DPR-RI Ibu @puanmaharaniri 

Forbes Aceh (Forum Bersama) anggota DPR-RI dan DPD RI dari Aceh @m.nasirdjamil @ilhampangestusip @haji_irmawan @nazaruddin_dekgam @raflykande @teukuriefky @illizasaaduddin @fakhrysalim @bangmuslimmm 

Gubernur Aceh Bapak @novairiansyah 

Ketua DPRA Bapak @dahlansabena 

Kepala Dinas Pariwisata Aceh

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh

Bupati Aceh Singkil Bapak @dulmusrid 

Ketua DPRK Aceh Singkil

Kepala Satuan Polisi PP dan WH Aceh Singkil

Menyingkapi viralnya Anjing Canon yang diamankan oleh petugas satpol PP dan WH Aceh Singkil telah menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat Indonesia bahkan dunia yang di goreng dan di giring opini nya bukan lagi dalam konteks mengamankan seekor anjing yang sangat meresahkan wisatawan di destinasi wisata pulau banyak tapi mengarah pada issue wisata halal.

Tindakan petugas Satpol PP dan WH Aceh Singkil merupakan pengamanan dan jalan terakhir setelah beberapa proses dilalui baik di tingkat desa, kecamatan bahkan di tingkat kabupaten dengan menurunkan petugas satpol PP Aceh Singkil ke lokasi, bahkan Sdra. Willi pemilik homestay Kimo Resort sekaligus pemilik Anjing Canon telah mengetahui bahwa ada kesepakatan bersama "Panitia Rembug Adat Pulau Banyak" yang disepakati bersama seluruh pemangku kepentingan, pelaku usaha pariwisata, tokoh adat, tokoh agama, Kepala Desa, Kepala Kemukiman dan Camat Pulau Banyak dan PBB salah satu poinnya pada poin 4 adalah "Dilarang membawa dan memelihara Anjing dan Babi di lokasi wisata pulau banyak" sehingga Sdra. Willi dianggap melanggar dan meresahkan pengelola wisata lainnya berdasarkan laporan warga dan wisatawan telah terjadi beberapa kejadian wisatawan dikejar-kejar Canon hingga lari tercebur kelaut dan beberapa kasus lainnya.

Sebagai wujud kepedulian dan perhatian kami sebagai warga Aceh Singkil perlu saya sampaikan dan klarifikasi beberapa hal sebagai berikut:

1. Viralnya Anjing Canon yang diamankan Satuan Polisi Pamong Praja dan WH Aceh Singkil telah melalui proses dan step by step dan berakhir dengan mengamankan Si Canon untuk di bawa ke singkil dan dijemput sang pemilik anjing yakni Sdra. Willi

2. Media nasional menggoreng kejadian ini seolah-olah seekor anjing yang diamankan menjadi kasus besar, padahal hanya diamankan agar tidak menggangu wisatawan menikmati indahnya Pulau Banyak.

3. Tidak ada hubungannya matinya Canon dengan wisata halal, karena media mainstream dan memframingnya seakan-akan pembantaian terhadap anjing bukan lagi masalah keamanan, kenyamanan dan keselamatan serta ketertiban pengunjung.

4. Aceh memiliki kekhususan tersendiri yang diberikan oleh pemerintah pusat melalui UU 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh diatur sedemikian rupa tentang penerapan syariat Islam bagi pemeluknya dan welcome terhadap semua orang namun tetap mengikuti norma dan adab serta menghargai kearifan lokal khususnya Aceh.

5. CANON menjadi bahan pergunjingan seluruh Indonesia bahkan dunia yang menganggap terjadi pembantaian/pembunuhan binatang yang diharamkan dalam Islam, tapi ribuan anjing di daerah lainnya dibunuh dengan keji untuk dijadikan makanan, santapan, soup, dipanggang bahkan dijadikan sebagai bahan baku ritual tertentu tapi tidak satu orangpun mempermasalahkan kenapa ketika seekor anjing di "ACEH" menjadi heboh dan viral.

6. Mengecam dan mengutuk orang yang pertama sekali mengunggah video dengan narasi yang menyudutkan Aceh yaitu Akun Instagram @rosayeoh yang notebene adik kandung dari Sdra. Willi pemilik anjing.

7. Aceh menjadi pusat perhatian akibat narasi yang sengaja di bangun untuk merontokkan berbagai aturan qanun kekhususan ACEH dalam konteks berbangsa dan bernegara (QANUN=PERDA) 

8. Akibat peristiwa ini banyak yang membully dan mengecam Aceh yang tidak paham dengan kekhususan ACEH bahkan mengarah pada sara dan menyudutkan Aceh hanya karena mengamankan Anjing Canon

9. Setelah menjadi bahan pemberitaan beberapa aktivis pencinta anjing membuat statement dan bentuk pelaporan bahkan Komunitas pencinta hewan 'Yayasan Pengayom Satwa Indonesia' yang di wakili oleh Sdra. Doni Herdaru Tona ke Polres Aceh Singkil

10. Menindak dan akan melaporkan balik Sdra. Doni Herdaru Tona atas ujaran kebencian mengarah sara saat membuat video saat pulang dari Singkil ke Medan dengan narasi provokasi "Sekarang Kami mau menuju Medan, kami mau Nge-BIR di sana mencari yang haram-haram dan duren sampai jumpa disana" 

11. Pemerintah Aceh wajib ambil bagian kerna ini bukan hanya masalah Satpol-PP dan Aceh Singkil serta pemerintah kabupaten Aceh Singkil akan tetapi Marwah

12. Kita tetap tenang dan fokus terhadap peristiwa ini, jangan terprovokasi terhadap provokatif netizen di media sosial yang bisa berdampak terhadap dunia pariwisata Aceh khususnya Kepulauan Banyak yang akan dikembangkan oleh investor dari UEA yang investasi triliyunan rupiah.

13. Terakhir kita berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT memberikan yang terbaik untuk Aceh dan Indonesia

Demikian surat terbuka ini agar kita semua memahaminya dan tidak menjadi blunder kita ambil nilai positifnya Pulau Banyak terkenal di seluruh dunia akibat viralnya Anjing Canon.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hormat saya,

Abdul Berutu, Penggiat Media Sosial dan Inisiator Rumah Millenial Aceh Singkil

Editor:
Rubrik:Daerah