Jadi Tukang Tambal Ban, Janda Miskin Tujuh Anak di Abdya Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Nurwati, seorang janda miskin bersama ketujuh orang anaknya di Gampong Pante Rakyat, Kecamatan Babahrot, Abdya. (Ist)

Blangpidie, Acehportal.com - Nurwati (38), seorang janda miskin di Gampong Pante Rakyat, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya) harus rela tinggal di rumah tak layak bersama tujuh orang anaknya.

Bagaimana tidak, ibu dari tujuh anak yang masih berusia belia dan balita itu juga harus nekat berprofesi sebagai tukang tambal ban untuk menghidupi kebutuhan keluarganya.

Mirisnya, rumah yang ditempati Nurwati bersama anaknya itu masih berlantai papan dan bahkan sebagian papan sudah patah dan berlubang.

"Mau bagaimana lagi pak, hanya ini rumah yang kami punya untuk kami tempati," kata Nurwati, Senin (22/2/2021).

Rumah yang sekarang ini dijadikan sebagai tempat tinggal itu bagi Nurwati hanya untuk berteduh disaat hujan, dan pelindung dari teriknya matahari merupakan tempat ternyaman bagi dirinya dan ketujuh orang anak-anaknya.

Namun, Nurwati merasa sangat khawatir sewaktu-waktu jika anak-anaknya yang masih kecil bisa terperosok kelubang lantai papan yang telah patah.

Kendati demikian, janda yang akrab dipanggil Kak Nur itu masih saja bersyukur karena ia mempunyai kerabat yang berbaik hati kepadanya.

Karena kerabatnya itu memberikan tumpangan tempat tinggal digubuk yang persis berada disamping rumahnya tersebut. Kondisi gubuk yang ditempati Nur saat ini juga sangat memprihatinkan.

Jika malam untuk menerangi rumahnya Kak Nur juga menggantungkan nasibnya kepada kerabatnya, karena ia tidak memiliki meteran PLN.

Dengan terbata-bata dan berlinang air mata, Nur menceritakan kepedihan dan kesedihan kehidupannya.

Pasalnya, sepeninggal almarhum suaminya setahun yang lalu, Kak Nur harus giat berkerja menjadi tulang punggung bagi keluarga mereka.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ibu dari balita bernama Nabila Wati (2) dan Teungku Zulfan Rahmat (6) itu harus rela bekerja sebagai penambal ban sepeda motor (Sepmor). Penghasilannya perhari diperkirakan Rp 30 sampai Rp 50 ribu perhari.

"Hasil dari menambal ban tergantung reseki, biasanya Rp 30 sampai Rp 50 ribu perhari. Tapi hari seribu rupiahpun belum ada pemasukan," ujar Nur.

Sebagai kepala keluarga dan harus setiap hari berkerja terkadang Nur juga dibantu anak sulung dan anak keduanya untuk menambal ban pelanggan yang datang.

Selain menambal ban bocor, untuk menambah penghasilan Kak Nur juga membelah ban dalam bekas yang akan dijualnya sebagai karet ikat dengan harga Rp 2 ribu rupiah per potongnya.

"Beginilah kehidupan kami pak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," keluh Nur dengan cucuran air mata.

Kak Nur juga bercerita, dari ketujuh anaknya tersebut saat ini hanya Filma (10) anaknya yang kelima yang masih mengenyam bangku pendidikan kelas 4 Sekolah Dasar (SD) disalah satu sekolah setempat.

Selain dari Filma, anak pertama, kedua, dan ketiga putus sekolah karena berkeinginan untuk membantu perekonomian kekuarga. Sementara anak keempat Nur mengalami keterbelakangan pasca kecelakaan beberapa tahun lalu.

Semangat Nur untuk menyekolahkan anaknya ini dibuktikan dengan semangatnya untuk terus bekerja. Meskipun pekerjaan yang dilakoninya itu semestinya dikerjakan kaum adam, tetapi ia saban hari tetap terus gigih berkerja.

Nur sangat berharap dan sangat mendambakan rumah layak huni serta aman dapat ditempati dan dimilikinya, sehingga rasa khawatir ibu terhadap keselamatan anaknya tersebut teratasi.

"Semoga Allah SWT memudahkan rezeki kami sekeluarga, sehingga Filma dan kedua adiknya tidak sampai putus sekolah seperti abang-abang dan kakaknya," demikian harap Nur.

Penulis:Salman
Editor:Hafiz
Rubrik:DaerahSosokUmum

Komentar

Loading...