Sat Reskrim Polres Simeulue Tangkap Pelaku Pengeroyokan Sejumlah Nelayan

Polisi mengamankan sejumlah warga yang diduga terlibat dalam pengeroyokan di Simeulue. (Ist)

Sinabang, Acehportal.com - Tim Resmob Sat Reskrim Polres Simeulue menangkap lima orang pelaku pengeroyokan terhadap lima nelayan yang terjadi di Gampong Air Pinang, Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue, Senin (30/11/2020) kemarin.

Kapolres Simeulue, AKBP Agung Surya Prabowo melalui Kasat Reskrim, Ipda Muhammad Rizal mengungkapkan, kelima korban yang dikeroyok yakni Armada (61), Mudalamin (25), Harun Hamil (30) serta Rusman (40) dan Hamdan (19).

"Kelima nelayan yang dikeroyok ini merupakan warga Kecamatan Teupah Selatan, Simeulue, satu diantaranya warga asal Aceh Selatan, mereka membuat laporan ke polisi usai mengalami penganiayaan dan langsung kita tindaklanjuti," ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (1/12/2020).

Usai menerima laporan, polisi langsung melakukan penyelidikan. Awalnya, puluhan orang warga Gampong Air Pinang diamankan karena diduga terlibat dalam peristiwa itu dan sebagian secara sukarela hadir ke Mapolres Simeulue untuk menjalani pemeriksaan.

Proses pemeriksaan puluhan warga ini pun dilakukan petugas dengan melibatkan serta berkoordinasi dengan aparat gampong setempat.

"Setelah diperiksa secara intensif, kemudian ditetapkan lima orang tersangka yakni FA (29), AA (30), RW (31) serta RD (41) dan YS (33) yang merupakan warga setempat," kata mantan Kapolsek Seruway Polres Aceh Tamiang ini.

Peristiwa pengeroyokan itu berawal saat kelima nelayan mencari ikan di kawasan Gampong Air Pinang menggunakan perahu. Tiba-tiba, mereka dihampiri oleh sejumlah warga Gampong Air Pinang yang menggunakan speed boat. Warga yang marah langsung menganiaya korban menggunakan dayung perahu dan jangkar.

"Kemudian korban digiring ke darat dan setiba di daratan korban kembali menerima kekerasan dari sejumlah warga hingga mengalami sejumlah cedera," ungkap Kasat.

Berdasarkan keterangan dari hasil pemeriksaan, pengeroyokan itu terjadi lantaran para korban diketahui mencari atau menangkap ikan dengan menggunakan alat-alat yang dilarang seperti kompresor dan lain sebagainya.

Padahal, larangan penangkapan ikan menggunakan alat terlarang tersebut telah diatur dalam Undang-undang dan di Aceh khususnya, hal itu menjadi pengawasan dari Lembaga Panglima Laot Aceh.

"Warga merasa kesal langsung menganiaya korban, seharusnya warga membawa mereka ke penegak hukum dan tidak main hakim sendiri. Kasus ini pun masih diproses lanjut," tambah Ipda Muhammad Rizal.

Penulis:Redaksi
Editor:Hafiz
Rubrik:DaerahPeristiwa

Komentar

Loading...