Salah Satu Cara Lindungi Diri dari Kejahatan di Dunia Digital

Ilustrasi kasus pencemaran nama baik, Foto: Kumparan

Banda Aceh, Acehportal.com - Salah satu cara untuk melindungi diri dari kejahatan dan korban kriminal yang terjadi di dunia digital (maya) adalah dengan tidak membagikan kode One Time Password (OTP) milik pribadi kepada orang lain.

Memang tindak kejahatan oknum tertentu bisa terjadi kepada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Selama kode OTP tidak diketahui, data dan privasi tetap aman.

Seperti beberapa hari yang lalu, seorang pemuda Kota Banda Aceh sempat viral dan jadi tranding topik di ratusan grup WhatsApp. Dia adalah Riri Isthafa Najmi, pegiat literasi dan even di Kota Banda Aceh.

Menurut keterangan yang diberikan kepada media, awalnya dia hanya menerima pesan singkat yang berisikan permintaan kode verifikasi.

"Pesan singkat yang saya terima saat bangun tidur pukul 03.57 adalah "Barusan saya cek, ternyata saya salah kirim nomor. Pesan verifikasi nomor kode Whatsapp saya masuk ke nomor ini. Tolong kirimkan kembali nomornya ke Wa Saya," kata Riri Isthafa Najmi, Minggu (22/11/2020).

Rifan menambahkan, awalnya dia agak ragu dan sempat berpikir kenapa verifikasi WA orang lain bisa masuk ke inboks message- nya. Berdasarkan informasi yang disampaikan, karena baru bangun tidur dan belum membaca pesan dengan baik, tapi dia sejenak berpikir, barangkali orang tersebut sangat membutuhkan komunikasi dan informasi dengan segera.

Dia pun mengkonfirmasi kepada media bahwa dia mengirimkan pesan tersebut dengan kurang kesadaran. Setelah dia memberikan nomor tersebut, barulah dia sadar bahwa yang diberikan adalah no verifikasinya ke nomor tersebut. Tidak sampai dua menit, akun Wanya diretas oleh pengguna nomor tersebut.

Saat login kembali, dia tidak bisa masuk karena kode verifikasinya sudah digunakan oleh pengguna akun tersebut. Mereka yang berniat buruk dan akan melakukan tindak kejahatan dengan mengambil alih akun seseorang melalui kode OTP tersebut adalah sebuah kerugian besar.

“Prinsipnya, jika pelaku penipuan berhasil mendapat kode OTP, maka keamanan data pribadi, seperti kode email, perbankan, aplikasi, kode Sosmed, dan privasi informasi lainnya juga dimiliki seseorang dan tidak lagi terjamin keamanannya,” ujarnya.

Rifan menjelaskan, kode OTP adalah kode verifikasi atau kata sandi sekali pakai yang umumnya terdiri dari 6 digit dan karakternya yang seringkali berupa angka unik dan tidak bisa diprediksi.

Biasanya, kode OTP yang dikirimkan melalui SMS atau e-mail, pada umumnya hanya berlaku untuk waktu yang sangat pendek, misalnya 2 menit.

“Pelaku bisa saja menggunakan informasi yang masuk di Wa yang sudah diretas dengan melakukan berbagai tindak kejahatan dan kriminal seperti, penyalahgunaan kartu kredit dan transaksi mobile lainnya. Untuk transaksi dan transfer perbankan, pencurian dana di rekening korban, penipuan melalui akun email, atau aplikasi seperti Whatsapp yang dapat merugikan para kenalan atau rekan sesama pengguna Wa juga terjadi,” terang dia.

Selain itu, pelaku penipuan dapat pula menggunakan aplikasi chat yang akunnya sudah dikuasai untuk melakukan tindak penipuan hingga pemerasan kepada sesama pengguna Whatsapp.

“Mengingat sangat besar dampak dan bahayanya jika kode OTP jatuh ke tangan yang salah. Maka jangan pernah beritahukan OTP kepada siapa pun,” ujar Rifan.

Ia mencontohkan, salah satu kasus pencurian kode OTP yang baru-baru ini terjadi yang dilakukan dengan modus seseorang menelepon dan mengaku sebagai petugas kartu kredit.

Kepada korbannya, pelaku mengatakan bahwa kartu kredit yang ia miliki sedang disalahgunakan orang lain dan pura-pura ingin membantu untuk memblokirnya.

“Penipu meminta korban untuk menginfokan OTP yang masuk beruntun ke ponselnya. Padahal, justru penipu tersebut yang tengah melakukan transaksi ilegal menggunakan kartu kredit korban yang OTP-nya dikirim ke nomor ponsel korban sebagai pemilik kartu kredit tersebut,” kata dia.

Rifan berpesan agar jangan pernah memberikan kode OTP kepada siapa pun jika memang tidak merasa melakukan request kode OTP.

"Jangan berikan kepada siapa pun. Karena OTP hanya boleh digunakan oleh yang sedang bertransaksi. OTP sendiri sifatnya adalah metode pengamanan," kata dia.

Rifan mengungkapkan, era digital seperti sekarang, maraknya penipuan terjadi melalui kode verifikasi. Banyak yang menyerahkan akun belanja online atau e-money kepada penipu.

Karenanya salah satu platform belanja online di Indonesia, seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak, Shoppie, dll seringkali menyosialisasikan mengenai  penipuan melalui kode verifikasi, mulai dari modus hingga pencegahan.

Penulis:Redaksi/Rilis
Editor:Hafiz
Rubrik:Tekno

Komentar

Loading...