Usaha Pembuatan Kelapa Jeli di Tengah Pandemi

Usaha Pembuatan Kelapa Jeli di Tengah Pandemi

Meulaboh, Acehportal.com - Di rumah permanen berukuran lebih kurang sepuluh kali enam meter Agus (37) warga Desa Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meurebo, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, tinggal bersama isteri dan kedua orang anaknya.

Selain digunakan sebagai tempat tinggal, Agus juga menggunakan rumahnya sebagai tempat dia melakukan usahanya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan cara membuat kelapa jeli.

Siang itu, saat kami datang kerumah Agus pada Hari Sabtu 19 September 2020, di samping rumah terlihat seorang pria muda yang sedang duduk sambil membuka kelapa muda dengan menggunakan sebilah pisau putih yang terlihat sangat tajam, sementara itu disamping pemuda tersebut juga terlihat seonggok kelapa muda segar berwarna hijau dengan ukuran yang sedang dan relatif sama yaitu tidak besar dan tidak juga kecil.

Pria yang sedang membuka kelapa muda itu adalah Roni umurnya 30 tahun dia salah seorang pekerja yang membantu Agus dalam menjalankan usaha kelapa jeli miliknya, dengan cekatan Roni mengupas satu persatu kelapa muda yang ditumpuk tepat di sampingnya.

Kelapa muda yang sedang dikupas oleh Roni bentuknya unik, tidak seperti kelapa muda yang dikupas pada umumnya, kalau biasanya kelapa muda yang dikupas cuma ujungnya saja dan bantuknya juga bulat. Tapi kelapa muda yang dikupas oleh Roni ini bentuknya seperti menyerupai tabung sedangkan bentuk atasnya menyerupai bentuk kerucut.

Setalah bagian luar kulit kelapa muda dikupas bersih dan dibentuk seperti tabung dengan ujung yang juga menyerupai bentuk kerucut kemudian kelapa dimasukkan kedalam sebuah ember besar berisi air bersih yang berfungsi sebagai wadah bagi kelapa yang telah dikupas untuk selanjutnya direndam.

Kata Agus, kelapa muda yang sudah dibuka dan dibersihkan lalu dimasukkan kedalam air bersih ini berfungsi agar getah yang keluar dari kulit kelapa yang baru saja dikupas hilang dan agar warna kulit kelapa tetap berwarna putih.

“Itu proses perendaman kelapa yang baru saja dikupas, kelapa itu kita rendam di air bersih kurang lebihnya selama 15 hingga 25 menit,” kata Agus.

Sementara itu di ruangan belakang atau dapur rumah juga terlihat seorang pria yang sedang sibuk bekerja menyusun kelapa-kelapa yang sudah selesai melewati proses perendaman untuk meghilangkan getah kelapa dari kulitnya.

Nama pria itu Arif umurnya 15 tahun, dia juga merupakan pekerja yang juga membantu Agus dalam menjalankan usaha kelapa jeli, berbeda dengan Roni, Arif bekerja di bagian dapur yang kerjanya memasak jeli atau agar-agar dan memasukkannya kedalam kelapa.

Sembil menyusun, dia juga mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk pembuatan kelapa jeli ke dalam sebuah wadah kecil yang berwarna warni. Sedangkan di ruang tamu juga terlihat lagi seorang pria yang sedang membungkus kelapa jeli yang sudah di isi dengan berbagai isian dan siap untuk dijual.

Agus mengatakan sebelumnya dia tidak memiliki dan tidak pernah sama sekali mengikuti pelatihan pembuatan kelapa jeli, semua ilmu yang dia dapat untuk membuat olahan kelapa muda menjadi kelapa jeli dia peroleh secara otodidak dari media sosial Youtube.

Saat ini Agus sudah mempunyai lima orang pegawai yang membantunya dalam mengelola usaha kelapa jeli, kelima pegawai yang bekerja membantunya adalah warga desa sekitar tempat dia tinggal.

Kata Agus, dia sengaja hanya memperkerjakan pemuda-pemuda desa ditempat dia tinggal, karena dengan begitu dia sudah mengurangi dan membantu pemuda dan warga desanya yang tidak memiliki pekerjaan atau menganggur.

Agus sudah memulai menjalankan usaha kelapa jeli ini sejak setahun yang lalu dengan bermodalkan pengetahuan yang dia dapat dari media sosial, pada awal–awal dia menjalankan usahanya ini belum banyak orang yang tahu sehingga penjualannya menjadi sangat sedikit per harinya.

“Untuk sekarang ini saya hanya bisa menjual sebanyak 100 buah kelapa per harinya, beda kalau bulan-bulan yang lalu sebelum pandemi,” kata Agus.

Agus mengatakan, pandemi yang menimpa hampir seluruh wilayah di Indonesia dan tak terkecuali Aceh, akibiat adanya pandemi semua aspek terdampak termasuk perekonomian dan juga usaha yang sedang dijalaninya ini.

Selama adanya pandemi penjualan kelapa jeli milik Agus turun drastis dari bulan-bulan sebelumnya yaitu bulan sebelum adanya pandemi, sebelumnya dia bisa menjual sebanyak 300 buah kelapa jeli perharinya, namun setelah adanya pandemi dia hanya bisa menjual sebanyak 100 buah kelapa jeli saja.

“Untuk harganya insyaallah terjangkau lah, saya jual satu kelapa jeli itu harganya Rp. 15.000 rupiah,” katanya.

Agus menjalankan usaha kelapa jeli miliknya ini dirumah pribadi dan tanpa menggunakan peralatan ataupun teknologi yang canggih sama sekali, semua dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia.

“Kalau mesinnya untuk membuka kelapa ada dijual, tapi saya sengaja dan tidak mau beli karena kalau saya beli mesin nanti orang-orang ini tidak bisa kerja lagi,” kata Agus.

Meskipun nantinya usaha kelapa jeli miliknya semakin besar dan mendapat banyak pesanan, dia tetap tidak mau membeli mesin, dia lebih memilih akan menambah jumlah pekerja dari pada harus membeli mesin. Karena dengan menambah jumlah pekerja maka dia sudah membuka lapangan pekerjaan bagi warga desanya.

“Saya memang tidak ada niat untuk membeli mesin sama sekali, karena kalau yang kerja itu manusia akan lebih bagus dan lebih teliti dibandingkan mesin,” jelas Agus.

Usaha kelapa jeli milik Agus ini merupakan satu-satunya dan yang pertama di wilayah Barat Selatan Aceh.Untuk wilayah dan jangkauan pemasaran sendiri hingga saat ini Agus menjual kelapa jeli miliknya di seluruh kafe, restauran dan kantor yang berada di Aceh Barat dan juga keluar daerah.

“Selain di wilayah Aceh Barat saya juga sudah menjual kelapa jeli keluar daerah seperti, Kabupaten Nagan Raya, Aceh Jaya, Abdya, Lhokseumawe dan juga ke Kota Banda Aceh,” katanya.

Sedangkan untuk proses pembuatan kelapa jeli sendiri tidak terlalu sulit dan bisa dibilang mudah, proses awalnya kita terlebih dahulu mengupas kulit kelapa muda dan membetuknya seperti tabung, sedangkan bagian atas kelapa dibentuk menyerupai bentuk kerucut, kemudian kelapa yang sudah di kupas selanjutnya diremdam di air bersih selama beberapa menit untuk menghilangkan getah yang keluar dari kulit kelapa.

Setelah proses perendaman kemudian kelapa dibuka dan air besera isinya dikeluarkan, setelah semua isi kelapa dikeluarkan barulah kemudian kelapa diisi dengan isian yang sudah disiapkan sebelumnya, seperti agar-agar atau jeli dan juga diisi dengan kolang kaling sebagai bahan tambahan.

Proses selanjutnya setelah selesai pengisian masuk ke proses terakhir yaitu proses packing atau pembungkusan, kelapa jeli di bungkus dengan menggunakan pelastik khusus makanan agar tetap bersih dan steril. Setelah di paking kelapa jeli dimasukkan kedalam lemari pendingin agar tetap fress dan segar ketika disantap.

Jenis kelapa yang digunakan Agus untuk membuat kelapa jeli adalah kela jenis genjah, Agus memilih jenis kelapa genjah untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kelapa jeli karena di wilayah Aceh Barat dan tempat tinggalnya kelapa genjah banyak dan mudah didapat.

“Kalau kelapa genjah ini dia ukurannya sedang dan rasa airnya juga manis jadi cocok kalau dibuat olahan kelapa jeli,” kata Agus.

Selain kelapa jeli yang menggunakan batok, Agus juga membuat kelapa jeli jenis lain yaitu kelapa jeli cup, pada dasarnya kelapa jeli batok dengan kelapa jeli cup sama saja namum yang membedakannya adalah wadahnya yang mana kelapa jeli cup di sajikan di dalam cup pelastik.

“Kelapa jeli cup itu harganya lebih murah dari yang batok, kalau yang cup harganya cuma lima ribu karena ukurannya lebih kecil,” katanya.

Dia sengaja membuat kelapa jeli dengan wadah cup agar anak-anak juga dapat membeli kelapa jeli dengan harga yang relatif terjangkau oleh anak-anak.

Penulis:Agus Saputra
Editor:Hafiz
Rubrik:DaerahUmum

Komentar

Loading...