HARI ANAK SEDUNIA

Curhat Anak saat Berada di Rumah Saja Selama Pandemi

Jakarta, Acehportal.com - Pada tahun 2020 ini, Hari Anak Sedunia diperingati di tengah pandemi Covid-19. Pandemi membuat peringatan kali ini terasa berbeda.

Secara tidak langsung, pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini berdampak pada anak. Salah satunya adalah terkait proses belajar anak.

Akibat pandemi, anak terpaksa belajar dari rumah. Proses belajar mengajar secara tatap muka di sebagian besar sekolah, khususnya yang berada di daerah dengan tingkat penularan tinggi, ditiadakan untuk sementara waktu.

Tak ada yang tahu kapan proses belajar mengajar bisa kembali normal. Yang jelas, sejak awal tahun ini, anak-anak melakukan segala aktivitasnya di rumah. Tak ada lagi proses belajar tatap muka bersama guru, tak ada juga bermain bersama teman saat jam istirahat.

Bagaimana perasaan anak selama berada di rumah saja? Adakah rasa rindu yang muncul terhadap kegiatan di sekolah? CNNIndonesia.com mengumpulkan obrolan bersama beberapa anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ibrahim (9 tahun)

Mata Ibrahim berbinar saat bicara soal sekolah. Kalau bisa, besok Ibrahim ingin kembali belajar di sekolah.

"Besok! Penginnya besok belajar di sekolah," ujar Ibrahim.

Selama pandemi, Ibrahim terpaksa harus belajar di rumah bermodal ponsel bekas sang bunda. Tapi, pertemuan secara virtual melalui Zoom tak dilakukan setiap hari. Seminggu sekali pun belum tentu. Ibrahim jadi kesulitan menatap guru atau teman-teman sekolahnya.

"Dikasih tugas, [cuma] di-share di grup sekolah. [Belajar] kadang diajarin bunda, kadang belajar sendiri," kata Ibrahim bercerita.

Belajar jarak jauh seperti saat ini tak menyenangkan bagi Ibrahim. Jika pun ada pertemuan, itu dilakukan sebatas keperluan absensi, bukan memberikan materi. Hal itu jelas membuat Ibrahim agak kesulitan saat belajar.

Alita (8 tahun)

Kerinduan untuk kembali ke sekolah pun dirasakan Alita. Siswi kelas 3 SD ini merasa belajar di rumah tak semenyenangkan belajar di sekolah.

Di sekolah, Alita bisa bertemu dan mengobrol dengan teman-temannya. Sementara di rumah, hanya ada dirinya dan keluarga.

"PR jadi banyak banget. Belum selesai, sudah ada lagi. Ingin cepat bisa ke sekolah, main di lapangan sama teman-teman. Sudah bosan [di rumah]," ujar Alita.

Salma (7 tahun)

Hal yang sama juga diungkapkan Salma Farifa Agustie yang masih duduk di kelas 2 SD. Sama seperti lainnya, Salma rindu pergi ke sekolah.

"Kangen ke sekolah, [ketemu] guru sama temen-temen. Enggak gitu suka main, sukanya ngobrol," katanya. Ngobrol asyik bersama teman-teman sekolah begitu dirindukan Salma selama pandemi ini.

Alik (9 tahun)

Tak seperti lainnya, belajar di rumah justru tak selalu membosankan bagi Alik. Siswa kelas 4 SD di kawasan Jakarta Timur itu mengaku belajar di rumah justru membuatnya bisa lebih kreatif.

"Soalnya tugas-tugas sekolah kadang suka ada-ada aja," kata Alik. Kebetulan, Alik mengenyam pendidikan di sekolah alam, di mana salah satu kurikulumnya adalah meningkatkan bakat dan lifeskill.

Suatu ketika, Alik ditugaskan untuk meracik satu menu masakan. Saat Alik mendapatkan tugas memasak, dia dibantu oleh sang ibu. "Jadinya belajar masak bareng ibu. Senang," kata dia.

Sementara soal pembelajaran yang lain, Alik mengaku tak mendapatkan kesulitan yang terlalu berat. Pertemuan via Zoom yang dilakukan hampir tiap hari ditambah bantuan sang ibu sangat membantu proses belajarnya.

Meski tak dipungkiri, Alik rindu bermain bersama teman-teman di tengah lapang yang dikelilingi rimbun pepohonan sekolahnya. Toh, Alik mengerti kondisi pandemi saat ini karena kerap diberi pengertian oleh sang ibu. "Ayah sama ibu, kan, enggak mau Alik sakit," katanya.

Naro (7 tahun) dan Alya (6 tahun)

Berbeda dengan yang lain, Naro justru senang karena belajar di rumah. Dengan belajar di rumah, bocah kelas 2 SD ini bisa menghabiskan banyak waktu bersama sang adik, Alya.

"Enak, jadi lebih sering main sama Alya," kata Naro. Setiap sore setelah belajar, Naro dan Alya punya waktu yang lebih lama untuk bermain bersama. Mereka bermain sepatu roda keliling komplek atau sekadar basah-basahan sambil menyirami tanaman-tanaman di halaman rumah.

Tapi, ada hal yang bikin Alya sebal dengan konsep belajar di rumah. Kebetulan, Alya tak suka pelajaran olahraga. Sang guru selalu meminta orang tua untuk mengirimkan foto siswa saat sedang belajar olahraga.

"Alya suka cemberut kalau disuruh pake baju seragam, terus disuruh lari-lari olahraga," kata Naro, seraya tertawa.

"Soalnya aku malu kalau difoto," jawab Alya, sambil tersenyum simpul.

Komentar

Loading...