Bayi Orangutan Ketiga Lahir di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho

Jantho, Acehportal.com - Tim Post Release Monitoring (PRM) di Pusat Reintroduksi Orangutan di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar menemukan satu induk orangutan bersama dengan bayinya yang diperkirakan berusia 3 hingga 5 bulan di trail FB1200.

Bayi orangutan tersebut berjenis kelamin jantan dan merupakan bayi orangutan ketiga yang lahir di Jantho sejak Program Reintroduksi Orangutan dimulai pada tahun 2011.

Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, merupakan salah satu program dibawah Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama dengan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL).

Dalam masa Pandemi Covid-19 aktivitas pengambilan data orangutan di Jantho dengan metode dari sarang ke sarang sedang dihentikan sementara untuk meminimalisir resiko penyebaran Covid-19 ke orang utan dan satwa lainnya.

Namun, aktivitas pemantauan tetap dijalankan dengan menerapkan protokol kesehatan antara lain penggunaan masker dan menjaga jarak, termasuk aktivitas monitoring rutin orangutan di jalur pengamatan (trail system) dan salah satu hasilnya adalah terpantaunya bayi orangutan baru tersebut bersama dengan induknya.

Keadaan induk dan bayi dalam kondisi yang sehat, dengan perilaku layaknya orangutan liar. Kondisi bayi masih digendong oleh induknya dan menyusui, belum terpantau mengkonsumsi buah atau daun.

Manager Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, Mukhlisin menjelaskan, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan induk bayi tersebut adalah orangutan yang bernama ‘Edelweiss’.

Orangutan Edelweiss merupakan salah satu orangutan pertama yang dilepas di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho pada tahun 2011 dan setelah  itu dia langsung menjauh dari kandang dan masuk ke dalam hutan.

Pada tanggal 11 Februari 2020 satu individu orangutan betina yang diduga kuat orangutan Edelweiss sempat terpantau di sekitar Kandang Habituasi di Pusat Reintroduksi.

"Pemantauan terhadap kondisi orangutan Edelweiss pada saat itu menunjukan ciri-ciri orang utan hamil dengan perut membesar dan alat kelamin bengkak," katanya dalam rilis yang diterima Selasa (29/9/2020).

"Orangutan Edelweiss juga masih terpantau untuk beberapa hari berikutnya, tepatnya di area release sebelum akhirnya kembali lagi ke hutan dan menghilang," sambung Mukhlisin.

Direktur Konservasi YEL, M Yakob Ishadamy menyampaikan, kelahiran bayi itu merupakan berita yang sangat menggembirakan, khususnya di tengah masa pandemi yang sedang dihadapi bersama saat ini.

Pertemuan ini merupakan pertemuan ketiga orangutan dengan bayi yang berasal dari orangutan yang dilepasliarkan di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho setelah bayi yang dilahirkan oleh Orangutan Marconi (induk) dan Masen (bayi jantan) serta Orangutan Mongki (induk) dan Mameh (bayi betina) yang kedua bayi tersebut lahir pada tahun 2017.

"Walau kami menyadari masih banyak tugas-tugas yang harus dilakukan dalam rangka membangun populasi baru orangutan yang mandiri dan lestari, tapi sejauh ini kami cukup puas dengan capaian-capaian yang ada, yang mana hal tersebut tidak akan tercapai atas kerjasama yang baik dari semua pihak," ungkapnya.

Head Ex-Situ, drh. Citrakasih Nente menambahkan, tujuan program pelepasliaran orangutan di Cagar Alam Jantho adalah untuk membangun populasi liar yang baru bagi orangutan Sumatera sebagai “jaring keamanan” atau “backup”, jika sesuatu yang buruk terjadi pada sisa populasi liar aslinya di dalam dan disekitar Kawasan Ekosistem Leuser.

Hal itu semakin penting saat ini, khususnya di tengah adanya wabah Covid-19 yang menginfeksi manusia dan kita belum mengetahui sejauh mana ancaman virus tersebut terhadap orangutan dan populasinya.

"Sampai saat ini, lebih dari 120 individu orangutan telah berhasil dilepasliarkan di Cagar Alam Jantho, namun agar kita bisa semakin yakin bahwa populasi baru yang sedang dibangun ini akan bertahan dalam jangka panjang, jumlahnya harus terus bertambah banyak," jelas dia.

Dengan demikian, kata Citrakasih Nente, semua orangutan yang lahir di Jantho akan sangat berarti secara signifikan dan menjadi harapan baru terhadap masa depan spesiesnya di Jantho dan semua orang utan Sumatera yang masih tersisa.

Sementara, Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto menyatakan, kelahiran bayi orangutan ketiga ini merupakan pertanda bahwa populasi orangutan berjalan dengan baik.

"Namun kita harus tetap waspada terhadap adanya ancaman perburuan orangutan dan satwa yang dilindungi lainnya. Orangutan adalah jenis satwa liar yang sangat terancam punah dan dilindungi," tambahnya.

Sesuai Pasal 21 ayat (2) huruf (a) dan pasal 40 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

"Sanksi pidananya adalah penjara maksimal lima tahun dan denda sebesar Rp 100 juta," tambah Agus.

Untuk diketahui, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) berbeda dengan Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), dan juga berbeda dengan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanulienses) yang habitatnya berada di ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara.

Hanya sekitar 13.400 orangutan Sumatra dan kurang dari 800 orangutan Tapanuli yang tersisa di alam liar. Ketiga spesies orangutan terdaftar sebagai “sangat terancam punah” oleh International Conservation Union (IUCN) dalam “Daftar Merah Species Terancam” (Ancrenaz et al 2016).

Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP; www.sumatranorangutan.org) adalah program kolaborasi dari PanEco Foundation yang berbasis di Swiss (www.paneco.ch), mitranya di Indonesia Yayasan Ekosistem Lestari (www.yel.or.id) dan Ditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (www.ksdae.menlhk.go.id).

Sejak 2011, SOCP telah melepasliarkan 107 orangutan ex peliharaan ke Pusat Reintroduksi Orangutan Cagar Alam Jantho, dan 19 orangutan yang dievakuasi dan direlokasi dari  habitat yang sudah terfragmentasi dan terisolasi akibat pembukaan hutan.

Penulis:Redaksi/Rilis
Editor:Hafiz
Rubrik:Umum

Komentar

Loading...