Untuk Pertama Kalinya Aceh Ekspor Kepiting Langsung ke China

Kepala SKIPM Aceh, Diky Setiawan (kanan) saat menyerahkan sertifikasi hasil perikanan ke pihak CV AYBI Banda Aceh dalam mengekspor kepiting hidup ke China. (Hafiz Erzansyah/Acehportal.com)

Banda Aceh, Acehportal.com - Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Aceh mengekspor kepiting langsung ke Shanghai, China sebanyak 364 ekor dengan berat 120 kilogram. Dimana selama ini, ekspor hasil perikanan dari Aceh kerap dilakukan melalui Kualanamu, Medan, Sumatera Utara.

Hal ini terlaksana setelah dilakukan sejumlah proses untuk dapat mengekspor kepiting Aceh langsung ke negara Tirai Bambu tersebut. Selama ini, China sulit menerima ekspor karena memiliki persyaratan tertentu.

Demikian dikatakan Kepala Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Aceh, Diky Setiawan saat ditemui di Bandara Internasional SIM, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Sabtu (12/9/2020).

"Pada hari ini kita dari Karantina Ikan Aceh melakukan ekspor perdana kepiting langsung ke China, ini merupakan pertama dalam sejarah karena selama ini Aceh kebanyakan melakukan ekspor itu melalui Kualanamu," ujarnya.

Ia juga menjelaskan, saat ini sudah ada perusahaan pengelola hasil perikanan di Banda Aceh yakni CV AYBI Banda Aceh yang dapat mengekspor langsung kepiting hidup ke China. Perusahaan ini sendiri diketahui memiliki kuota ekspor 30 ton per bulan.

"Harapannya kedepan nanti bisa dilakukan ekspor dari sini seminggu dua kali, antara tiga sampai empat ton per minggu, sehingga memenuhi kuota ekspor 30 ton kepiting ke China," kata Diky.

Untuk diketahui, ratusan ekor kepiting yang diekspor ke China ini adalah kepiting jantan yang memiliki berat di atas 200 gram, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Para pelaku usaha dilarang untuk menjual atau mengedarkan (mengekspor baik dalam atau luar negeri) komoditas kepiting, lobster, rajungan dan sejenisnya dengan berat di bawah 200 gram serta dalam kondisi bertelur.

Selain ekspor perdana kepiting ke China, ada komoditas hasil perikanan lain yang diekspor ke luar negeri, seperti produk Frozen Yellowfin Tuna Saku atau ikan tuna (jenis Tuna Sirip Kuning) beku dengan tujuan ekspor ke Brunei Darussalam.

"Selain ekspor produk kepiting hari ini ke China, kita juga melakukan ekspor perdana ke Brunei yaitu Frozen Saku Tuna sebanyak 140 kilogram. Kalau ini memang cocok nanti di Brunei Darussalam akan dilakukan pengiriman secara rutin oleh PT Yakin Pasific Tuna," jelasnya.

"Ini nilainya satu kilogram sampai Rp 200 ribu lebih, jadi 140 kilogram yang kita kirim ini bisa mencapai sekitar Rp 30 jutaan. Lalu, juga ada ikan Layur sebanyak 340 kilogram dengan tujuan ekspor Hongkong yang dilakukan pihak UD Nagata Tuna," sambung Diky.

Sebelum dibawa ke bandara, kepiting dan komoditas ikan-ikan ini diperiksa terdahulu oleh para petugas karantina ikan di Kantor BKIPM Aceh. Disana, para pengusaha juga mengurus dokumen serta izin ekspor agar kepiting dapat terbang ke negara tujuan.

Sementara, pihak Manajemen CV AYBI Banda Aceh, Trisnawati mengungkapkan rasa terima kasih kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, BKIPM serta lainnya yang telah membantu dalam proses ekspor kepiting hidup ke China ini.

"Kami berharap kedepannya dapat memenuhi kuota disana untuk menyediakan produk kepiting hidup sebanyak 30 ton atau bisa jadi lebih per bulan. Kami berharap untuk kawan-kawan yang lain dapat bekerjasama mensukseskan ekspor yang ada di Aceh," ungkap Trisna.

Ungkapan rasa terima kasi juga dilontarkan pihak PT Yakin Pasific Tuna, Alfi kepada unsur terkait, khususnya BKIPM dan Bea Cukai Aceh, saat proses pengiriman produk perikanan di kargo Bandara Internasional SIM.

Alfi menjelaskan, proses pengurusan dokumen dan surat izin kesehatan hasil perikanan untuk ekpor ini terbilang cepat, karena hanya membutuhkan dua hari saja untuk membereskan semuanya.

"Kebetulan untuk ekspor kita ke Brunei ini, produk Frozen Tuna Saku, hanya butuh dua hari dari pengajuan. Itu memang sangat luar biasa, karena jika tidak didukung dan dibantu oleh BKIPM Aceh mungkin ini memang belum dapat kita laksanakan. Kebetulan ini kita masukkan tanggal 8, sekitar tanggal 11 keluar nomor sertifikat HACCP-nya," jelas dia.

Pantauan di Bandara Internasional SIM, petugas BKIPM Aceh bersama Bea Cukai Aceh langsung mengawasi proses pengiriman komoditas hasil perikanan tersebut.

Penulis:Redaksi/Hafiz
Editor:Hafiz
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...