Cegah Penyebaran Covid-19, 163 Sekolah di 4 Kecamatan Aceh Barat Ditutup Kembali

Ist

Meulaboh, Acehportal.com - Sebanyak 163 sekolah yang ada di empat kecamatan di Aceh Barat terpaksa ditutup kembali. Hal itu dilakukan guna mencegah penyebaran wabah virus Corona (Covid-19) di wilayah setempat.

Tim Gugus Tugas khawatir, jika sekolah tatap muka dilaksanakan maka penyebaran virus Corona semakin mudah. Apalagi, kasus Covid-19 di Aceh Barat dikabarkan semakin meningkat.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Barat, Husaini mengatakan, untuk sementara ini pendidikan beralih secara daring. Meski tidak cukup efektif, pembelajaran via online tersebut harus dilakukan untuk memenuhi pendidikan para siswa.

''Penutupan 163 sekolah berlangsung selama 14 hari kedepan jika penyebaran virus Corona tidak dapat ditekan, maka tim gugus tugas akan melakukan penambahan waktu penutupan belajar tatap muka," kata Husaini, Kamis (10/9/2020).

Ia menjelaskan, penetapan ini dilakukan sebab empat kecamatan tersebut ditetapkan sebagai zona merah atau rawan Covid-19, paska warga yang terpapar semakin meningkat.

Empat kecamatan yang ditetapkan rawan Covid-19 diantaranya adalah Kecamatan Johan Pahlawan, Meurebo, Kaway XVI dan Kecamatan Sama Tiga. Maka berdasarkan hal tersebut, tim gugus tugas melalui Dinas Pendidikan menutup 163 sekolah.

Di Kecamatan Johan Pahlawan yang ditutup diantaranya 28 sekolah SD, 7 sekolah SMP, 31 sekolah TK. Sementara di Kecamatan Mereubo, ada 19 sekolah SD, 7 sekolah SMP serta 13 sekolah TK yang ditutup.

Kemudian untuk Kecamatan Kaway XVI, sekitar 17 sekolah SD, 7 sekolah SMP dan 8 sekolah TK ditutup.

"Di Kecamatan Sama Tiga, ada 13 sekolah SD, 4 sekolah SMP dan 9 sekolah TK, berarti total keseluruhan sekolah yang ditutup sebanyak 163 sekolah," ujar Kadis Pendidikan.

Menurutnya, dari keseluruhan sekolah yang ditutup baginya metode pembelajaran secara daring sangat tidak baik karena tidak siapnya mental para peserta didik. Ditambah lagi akses internet atau jaringan seluler sangat susah diakses bagi siswa yang berada di wilayah pelosok.

"Mengapa saya katakan tidak efektif, karena ada banyak kendala salah satunya adalah ada beberapa daerah sinyalnya tidak bagus kemudian tingkat ekonomi masyarakat juga sangat susah maka belajar secara daring sudah pasti membutuhkan sebuah handphone serta kartu paket," urainya.

Ia menambahkan, proses pembelajaran itu hanya berlaku untuk siswa yang tinggal di kawasan mudah internet. Kemudian, kendala lainnya adalah antusias anak-anak ketika belajar secara daring juga dinilai sangat kurang karena selama ini terlihat karakter anak di daerah dengan karakter anak di kota itu jauh berbeda.

"Kalau anak-anak di kota jangankan belajar daring belajar tatap muka saja susah, artinya mereka sangat bolos untuk sekolah, maka berdasarkan hal itu menurut pribadi saya belajar secara daring sangat tidak efektif," tutupnya.

Penulis:Dani
Editor:Hafiz
Rubrik:Pendidikan

Komentar

Loading...