Festival Ekonomi Syariah Aceh 2020 Digelar 5 September Mendatang

Pimpinan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Z Arifin Lubis dalam opening ceremony FESA 2020. (Ist)

Banda Aceh, Acehportal.com - Di provinsi Serambi Mekkah, implementasi ekonomi dan keuangan berbasis syariah merupakan suatu keniscayaan bagi setiap pemeluk agama Islam.

Masyarakat Aceh yang sedari awal hidup bernafaskan nilai-nilai Islam, tentu berharap dapat menjalankan kehidupan muamalah secara kaffah.

Tak mengherankan apabila Pemerintah Aceh memberikan perhatian serius untuk merealisasikan nilai Islami dalam kehidupan perekonomian masyarakatnya.

Di sektor riil, telah diterbitkan Qanun Nomor 8 Tahun 2016 tentang Sistem Jaminan Produk Halal. Di sektor keuangan sosial, Aceh memiliki Qanun Nomor 10 Tahun 2018 tentang Baitul Mal dan di keuangan komersial, telah terbit Qanun Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah.

Penerbitan peraturan daerah khas Aceh tersebut merupakan momentum untuk mempercepat perkembangan ekonomi dan keuangan syariah secara menyeluruh yang melibatkan seluruh masyarakat Aceh di segala aktivitas perekonomiannya.

Menilik fenomena tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh bersinergi dengan Pemerintah Aceh, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Asosiasi Perbankan Syariah (ASBISINDO) dan Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Provinsi Aceh menggelar Festival Ekonomi Syariah Aceh (FESA) 2020 pada tanggal 5 hingga 6 September 2020 secara virtual melalui aplikasi Zoom dan Youtube Channel “Ekonomi Islam Aceh”.

Meski diselenggarakan di tengah pandemi, FESA 2020 tetap menyelenggarakan seminar, talkshow, dan pameran UMKM virtual, serta didukung dengan rangkaian perlombaan (ada tujuh lomba, mulai dari Lomba Kreasi Busana Menggunakan Kain Daerah, Lomba Tutorial Hijab, Lomba Acapella Nasyid, Lomba Wirausaha Muda Syariah, Lomba Kesenian Tari Daerah, Lomba Pidato Ekonomi Syariah, dan Lomba Penulisan Artikel).

Opening ceremony FESA 2020 dihadiri oleh Pimpinan Bank Indonesia Aceh, Z Arifin Lubis, Plt Gubernur yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Teuku Ahmad Dadek, perwakilan pimpinan MPU Aceh yakni Wakil Ketua, Tgk Faisal M Ali dan Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haytar serta para pimpinan lembaga keuangan syariah di Aceh.

Selain itu, beberapa tokoh turut memberikan testimoni dalam acara pembukaan tersebut, diantaranya Rektor Universitas Syiah Kuala, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry dan Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam.

Dalam sambutannya, Pimpinan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Z Arifin Lubis menyampaikan, gerakan ekonomi syariah berbasis masjid dan dayah (yang dideklarasikan sejak tahun 2018) mulai menunjukkan realisasinya.

Diantaranya ditandai dengan peluncuran modul “Khutbah Jumat Ekonomi Syariah” yang diharapkan mendukung penguatan peran masjid sebagai salah satu pusat edukasi, dan adanya peluncuran bisnis hotel dan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) yang dikelola oleh pengurus Masjid Oman Al-Makmur.

"Tanpa edukasi dan sosialisasi yang konsisten dan menjangkau hingga ke pelosok yang diimbangi dengan realisasi yang nyata, dikhawatirkan penerapan ekonomi dan keuangan syariah memunculkan sebuah gap. Gap ini yang menyebabkan masyarakat belum tergerak secara aktif ikut terlibat dalam menanamkan urgensi nilai Islam pada perekonomian dan keuangan," ungkapnya Jumat (5/9/2020).

Ia juga menyampaikan, berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Aceh, mulai dari gerakan edukasi, dukungan pelatihan kepada calon Dewan Pengawas Syariah, upaya sosialisasi dan sertifikasi halal kepada pelaku UMKM, hingga pengembangan sektor busana muslim dan makanan halal.

Sejalan dengan hal itu, Teuku Ahmad Dadek yang mewakili Plt Gubernur Aceh menyampaikan, Pemerintah Aceh telah melaksanakan terobosan-terobosan akseleratif untuk mendorong implementasi keuangan syariah dengan lebih optimal.

"Diawali dari konversi Bank Aceh menjadi Bank Aceh Syariah pada 2016, kemudian Pemerintah Aceh menerbitkan Qanun Lembaga Keuangan Syariah pada tahun 2018 yang diprediksi akan meningkatkan market share perbankan syariah di Aceh secara optimal," katanya.

Namun ia menyadari, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Aceh belum sempurna. Masih banyak hal yang perlu dikerjakan untuk menjadikan Aceh sebagai kiblat pengembangan ekonomi syariah.

"Oleh karena itu, diperlukan masterplan yang dapat mengawal arah pengembangan ekonomi dan keuangan syariah secara terukur," jelasnya.

Dalam sambutannya, Wali Nanggroe Aceh melihat, proses pembangunan dan perjalanan Aceh dalam meraih kesejahteraan di bidang ekonomi belum terwujud secara maksimal, di tengah potensi kekayaan alam yang dimilikinya.

Ia juga mengingatkan, dana otonomi khusus yang diprediksi akan berakhir pada 2027.

"Oleh karena itu, Aceh harus memiliki strategi pembangunan dan pengembangan ekonomi yang baik untuk menghasilkan pendapatan asli daerah yang senilai," lapar dia.

Oleh karena itu, dirinya berharap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dapat mendukung penguatan ekonomi Aceh dan mendukung pelaku usaha mulai dari yang berskala mikro, hingga pelaku usaha besar.

"Diimbau agar setiap elemen saling bersinergi untuk mewujudkan Aceh yang unggul dan diberkahi," tutup Wali Nanggroe.

Penyelenggaraan FESA merupakan salah satu wujud konkrit komitmen bersama para stakeholder untuk mengakselerasi perekonomian dan keuangan syariah di Aceh secara komprehensif, tidak hanya menyentuh tentang perbankan, tetapi seluruh Lembaga Keuangan Syariah.

Tidak hanya sektor keuangan komersial, tetapi juga sector keuangan sosial. Tidak hanya soal keuangan yang harus bersyariah, tetapi juga produk di sektor riil.

Penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah Aceh setidaknya memiliki 4 tujuan, diantaranya:

1. Memberikan edukasi mengenai ekonomi dan keuangan syariah di Aceh, tidak hanya mengenai sektor keuangan, tetapi juga menyentuh sector riil secara berimbang.

2. Meningkatkan pemahaman mengenai ruang lingkup ekonomi syariah yang tidak hanya terkait dengan keuangan, tetapi melingkupi berbagai sektor, mulai dari makanan-minuman, wisata, industry kreatif, dsb.

3. Menggugah kesadaran untuk mengimplementasikan nilai dan prinsip syariah Islam di bidang muamalah dengan lebih komprehensif.

4. Menginformasikan lebih jauh tentang potensi Aceh dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Beberapa narasumber seminar dan talkshow yang dihadirkan merupakan narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya seperti Ir. Adiwarman Azwar Karim, SE., MBA., MAEP (BPH DSN MUI), Dr. Irfan Syauqi Beik (Direktur BAZNAS), Mahdi Muhammad (Praktisi Ekonomi Syariah), Prof. Dr. M. Shabri (Guru Besar Ekonomi Syariah Universitas Syiah Kuala), Tgk Armiadi (Baitul Mal Aceh).

Perlombaan yang digelar juga dikawal oleh dewan juri yang berpengalaman. Sebagai contoh, juri yang didatangkan untuk menilai Lomba Kreasi Busana Islami diantaranya Ali Charisma (Ketua Indonesia Fashion Chamber), Aam Hamada (Desainer APPMI), dan Syamsida Isa (Praktisi-Cita Tenun Indonesia).

Festival Ekonomi Syariah Aceh (FESA) akan menjadi bagian integral dari pelaksanakan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera yang akan diselenggarakan di Sumatera Barat yang dimulai pada tanggal 14 September 2020.

Para pemenang lomba yang berhasil menjuarai FESA 2020 akan diikutsertakan pada perlombaan di FESyar Regional Sumatera tersebut.

Kedepan, Bank Indonesia dan stakeholders akan secara konsisten mendorong perkembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui integrasi sektor riil dan sektor keuangan, pendalaman pasar keuangan syariah, perumusan kebijakan strategis, serta penguatan riset & edukasi yang berkesinambungan kepada seluruh elemen masyarakat.

Penulis:Redaksi
Editor:Hafiz
Rubrik:Ekonomi

Komentar

Loading...