Bea Cukai Aceh Musnahkan Rokok Ilegal Senilai Rp 3 Miliar Lebih

Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh memusnahkan jutaan batang rokok ilegal di halaman belakang Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh di Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Kamis (27/8/2020).

Banda Aceh, Acehportal.com - Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh memusnahkan jutaan batang rokok ilegal di halaman belakang Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh di Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Kamis (27/8/2020).

Kakanwil Bea Cukai Aceh, Safuadi mengatakan, jumlah rokok ilegal (tanpa cukai) yang dimusnahkan pihaknya mencapai tiga juta batang.

“Rokok ilegal yang dimusnahkan hari ini ada sebanyak 3.489.726 batang,” kata Safuadi dalam konferensi pers yang digelar.

Ia menjelaskan, tiga juta lebih batang rokok tersebut terdiri dari berbagai merek, baik impor maupun lokal, diantaranya berupa rokok yang tak memiliki pita cukai atau rokok polos serta rokok dengan pita cukai palsu.

Jika dirupiahkan, rokok-rokok dimusnahkan tersebut senilai Rp 3,3 miliar lebih dengan kerugian yang berdampak terhadap negara lebih dari Rp1,6 miliar.

“Nilai rokok ilegal Rp3.331.099.640 dan potensi kerugian negara dari sektor perpajakan sebesar Rp1.648.692.610,” ungkapnya.

Pemusnahan rokok ilegal ini dilakukan dengan cara merusak dan menyiramnya dengan air kemudian membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA). Cara ini, katanya, terbilang sedikit berbeda dengan sebelumnya yakni dilakukan dengan cara membakar.

“Cara pemusnahan ini dipilih dengan harapan tidak adanya polusi udara seperti yang dihasilkan pada cara pemusnahan dengan membakarnya,” kata Kakanwil.

Rokok-rokok tersebut, lanjut dia, merupakan hasil penindakan di bidang cukai periode 2018-2020 yang dilakukan oleh tiga kantor, yakni Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh, Bea Cukai Meulaboh dan Bea Cukai Kuala Langsa.

Sebagian besar rokok-rokok itu berasal dari luar negeri seperti negara tetangga. Sementara rokok-rokok dari dalam negeri pun dikatakan hampir sama pula.

“Rokok dari luar negeri biasanya masuk dari Thailand, Malaysia, Vietnam, termasuk rokok-rokok produksi dalam negeri yang kemudian tidak dilekati pita cukai atau dilekati dengan pita cukai palsu atau mereka beli pita cukai bekas,” tambah dia.

Penulis:Redaksi
Editor:Hafiz
Rubrik:Umum

Komentar

Loading...