Serangan Bom di Hotel Somalia, 11 Orang Tewas

ilustrasi

Jakarta, Acehportal.com - Serangan senjata dan bom dilaporkan dari kelompok Al-Shabaab di hotel dekat pantai Lido di Mogadishu, Somalia menewaskan 11 orang, termasuk 10 warga sipil dan satu petugas polisi pada Minggu (16/8) waktu setempat.

Juru Bicara Kementerian Informasi Ismael Mukhtaar Omar mengatakan bahwa butuh waktu empat jam untuk pasukan keamanan dapat mengendalikan hotel setelah lima penyerang menyerbunya pada Minggu malam.

"Sepuluh orang dan lima militan tewas, ditambah satu polisi khusus Somalia," kata Omar kepada AFP dikutip Senin (17/8).

Namun, Omar tak memaparkan secara rinci bagaimana pasukan keamanan Somalia berhasil mengakhiri pengepungan di hotel dan membunuh para penyerang, yang di satu sisi juga melakukan penyanderaan.

Sebelumnya, ketika pengepungan masih berlangsung, pihak keamanan mengatakan kepada AFP secara anonim bahwa salah satu penyerang tewas dalam ledakan bom mobil yang memicu serangan itu dan dua lainnya tewas dalam baku tembak.

Petugas ambulans di lokasi kejadian melaporkan sedikitnya 28 orang luka-luka.

Saksi mata mengatakan bahwa serangan itu dimulai dengan ledakan besar dan orang-orang lari dari daerah itu karena suara tembakan terdengar dari hotel, yang sering dikunjungi oleh pejabat pemerintah.

"Ledakan itu sangat besar dan saya bisa melihat asap di daerah itu. Ada kekacauan dan orang-orang mengungsi dari gedung-gedung di dekatnya," kata Ali Sayid Adan, selaku saksi.

"Korban tewas termasuk pejabat pemerintah Abdirasak Abdi, yang bekerja di kementerian infomasi," kata rekannya, Hussein Ali.

Klaim dan serangan Al-Shabaab

Al-Shabaab mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan itu, lewat pernyataan yang diterjemahkan oleh SITE Intelligence Group. Pernyataan itu mengklaim bahwa pelaku mengambil kendali atas hotel dalam operasi pencarian martir.

Pada 1991, sempat terjadi kekacauan di Somalia setelah penggulingan rezim militer Presiden Siad Barre, yang menyebabkan perang suku selama bertahun-tahun diikuti dengan kebangkitan Al-Shabaab yang pernah menguasai sebagian besar negara dan Mogadishu.

Al-Shabaab diusir dari ibu kota pada 2011, tetapi militannya terus berperang melawan pemerintah, melakukan serangan rutin.

Pekan lalu, empat pejuang Shabaab yang ditahan di penjara pusat Mogadishu tewas dalam baku tembak sengit dengan pasukan keamanan setelah mereka entah bagaimana berhasil mendapatkan senjata di dalam fasilitas itu.

Kelompok itu telah menargetkan hotel beberapa kali selama bertahun-tahun, termasuk pada Februari 2019 ketika menewaskan sedikitnya 20 orang dalam sebuah bom mobil dan serangan senjata di sebuah hotel di Mogadishu yang berlangsung selama hampir 24 jam.

Sebulan sebelumnya, Al-Shabaab menewaskan 21 orang dalam pengepungan di sebuah hotel kelas atas di ibukota Kenya, Nairobi. Serangan itu menjadi sorotan karena kemampuannya untuk memperluas jaringannya di luar perbatasan Somalia.

Serangan besar terakhirnya di Mogadishu terjadi pada Desember 2019, ketika membantai 81 orang dengan meledakkan kendaraan yang berisi bahan peledak.

Namun, telah terjadi peningkatan aktivitas Al-Shabaab di Mogadishu sejak akhir Juni termasuk serangan bunuh diri yang menargetkan fasilitas pemerintah dan militer.

"Ini semacam kembali ke serangan yang biasa mereka lakukan," kata Omar Mahmood, Analis Senior Somalia untuk International Crisis Group.

"Al-Shabaab melihat hotel-hotel ini sedikit banyak sebagai perpanjangan dari pemerintah, jadi mereka ditargetkan dengan cara itu," tambahnya.

Komentar

Loading...