Pansus DPRK Aceh Barat Temukan Proyek Pengaspalan Jalan Tahun 2019 Banyak Bermasalah

Pansus DPRK Aceh Barat temukan peningkatan jalan tahun 2019 banyak yang rusak, Sabtu (18/7/2020). (Dani/Acehportal.com)

Meulaboh, Acehportal.com - Panitia Khusus (Pansus) DPRK Aceh Barat menemukan sejumlah proyek pengaspalan tahun 2019 bermasalah. Menjelang penyelesaian, justru banyak ditemukan amblas dan retak.

Adapun proyek pengaspalan ditemukan yakni peningkatan Jalan Puloe Teungoh-Jambak Sikundo, Kecamatan Pante Cereumen, dengan pagu anggaran Rp 3,4 miliar yang dikerjakan oleh CV Meudang Jaya.

"Melihat kondisi jalan yang baru saja dibangun akhir tahun 2019 ini, sangat kita ragukan, sebab ada beberapa titik yang kita temukan bermasalah seperti aspal retak, berem jalan juga tidak sempurna. Kami menduga pelaksana pembangunan ini seperti ada permainan untuk mengambil keuntungan lebih besar," kata Koordinator Pansus DPRK Aceh Barat, Ramli.

Kondisi yang sama juga ditemukan yaitu proyek peningkatan jalan penghubung lokasi Alue Keumuneng menuju ke Karang Hampa, Kecamatan Arongan Lambalek dengan nilai pagu Rp 2 miliar 90 juta tahun anggaran 2019 yang dikerjakan PT Sabena Karya Mandiri.

Sementara jalan yang baru dikerjakan itu juga dinilai tidak sempurna, lantaran pada bahu jalan yang terbilang curam, tidak dilengkapi talud. Diduga, terjadi kesalahan perencanaan dalam pengerjaan proyek.

Sementara kondisi peningkatan jalan perkebunan Paya Toh Adih, Gampong Meunasah Rayeuk, Kecamatan Kaway XVI juga mengalami kerusakan yang sama, jalan yang dibangun akhir tahun 2019 dengan pagu anggaran Rp 261 juta lebih itu dinilai sia-sia.

"Sayang warga yang berkebun disini, karena  akses jalan yang baru dibangun sudah seperti kubangan kerbau, padahal jalan ini merupakan satu-satunya jalur alternatif warga pada mengeluarkan hasil bumi mereka disana, tapi dengan jalan demikian pasti masyarakat akan sulit dilalui," kata Ramli.

Pembangunan jalan itu kurang lebih diusulkan tiga ratus juta, dengan harapan dapat dibangun saluran air dan juga beberapa bok untuk pembuangan air serta serak kerikil. Ternyata yang dikerjakan cuma serakan kerikil saja bahkan itu tidak sempurna kalau kita jauh dari spek.

Ramli mengaku sangat kesal melihat kondisi jalan yang dinilai tidak sempurna. Apalagi, kerusakan tersebut sampai saat ini belum ada upaya perbaikan oleh rekanan yang tidak bertanggung jawab.

"Kita juga dapat informasi dari masyarakat bahwa serakan kerikil tidak maksimal kurang lebih 70 truk diserak, setelah kita cek benar seperti laporan itu terlihat hanya pasir yang banyak namun baru-batunya kurang, artinya peningkatan jalan ini tidak bermutu atau kurang sempurna kalau saya nilai," ungkapnya.

Selain peningkatan jalan yang bermasalah pansus juga menemukan pembangunan mess guru di daerah terpencil yakni Kecamatan Sungai Mas dengan nilai pagu anggaran Rp 2 miliar lebih yang dikerjakan oleh CV Jaya Andesmon.

Peninjauan pansus DPRK ke lokasi melihat bangunan yang menyerap anggaran Rp 2 miliar lebih ini dinilai sia-sia. Sebab, kondisi bangunan tersebut terlihat tidak ada siku dan tembok terkupas serta ketahanan bangunan juga dinilai tidak kokoh artinya tidak akan bertahan lama.

"Anggaran besar, tapi pembangunannya tidak sempurna, bahkan setelah dibangun tapi tidak ada penghuni juga aliran listrik belum dipasang, bisa dikatakan bangunan Mess ini terbengkalai dan merugikan negara," kata Ramli saat peninjauan di lokasi.

Ia menambahkan, jika dalam waktu dekat ini pihak pelaksana peningkatan jalan tahun 2019 tidak bertanggung jawab atas semua kerusakan yang ditemukan di lapangan.

"Maka berdasarkan hasil temuan pansus DPRK Aceh Barat, melaporkan hal tersebut kepada penegak hukum," tutupnya.

Penulis:Dani
Editor:Hafiz
Rubrik:Daerah

Komentar

Loading...