Terobosan Baru Stasiun Geofisika BMKG Aceh Besar dalam Penyebarluasan Informasi Gempa dan Peringatan Dini Tsunami

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Aceh Besar, Djati Cipto Kuncoro (kanan) bersama stafnya. (Ist)

Banda Aceh, Acehportal.com - Kepala Stasiun Geofisika BMKG Aceh Besar, Djati Cipto Kuncoro mengatakan, wilayah Indonesia merupakan bagian dari jalur gempa dunia yang terbentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Alor, Laut Banda, Seram, Sulawesi, Maluku Utara dan Papua.

Sebagai wilayah yang terletak pada jalur gempa aktif, kondisi fisiografi wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik.

"Ketiga lempeng tektonik itu bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain, menjadikan wilayah Indonesia sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di dunia," ujarnya Rabu (24/6/2020) melalui keterangan pers yang diberikan.

Wilayah Indonesia memiliki banyak sumber gempa. Secara umum, kita memiliki 13 segmentasi sumber gempa megathrust. Selain itu, juga memiliki sebanyak 295 segmentasi sesar aktif. Berdasarkan kondisi tektonik yang kompleks inilah, maka gempa dapat terjadi kapan saja dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman.

"Hasil monitoring BMKG menunjukkan selama periode 2008 hingga 2019, rata-rata dalam setahun terjadi gempa sebanyak 5.818 kali, gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sebanyak 347 kali dan dua tahun sekali terjadi gempa berpotensi tsunami," kata Djati.

Terkait kondisi wilayah Indonesia yang rawan gempa dan tsunami ini, BMKG memiliki tugas dan kewajiban dalam menyediakan informasi gempa dan peringatan dini tsunami yang tertuang dalam UU Nomor 31 Tahun 2009 dan Perpres Nomor 93 Tahun 2019.

Sebagai salah satu implementasi dari tugas dan kewajiban tersebut di atas, maka BMKG melaksanakan kegiatan pemasangan alat penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami yaitu Warning Receiver System (WRS) di berbagai wilayah rawan gempa dan tsunami di Indonesia.

"Sejak tahun 2008 BMKG sudah memasang sebanyak 275 peralatan WRS. Namun demikian, mengingat peralatan WRS masih sangat dibutuhkan oleh Pemerintah daerah dan kantor Lembaga/Kementerian terkait, maka pada tahun 2020 ini, BMKG memasang WRS generasi terbaru di 315 lokasi," ungkapnya.

WRS generasi terbaru yang tentu saja menggunakan teknologi terbaru ini memiliki nama baru yaitu “WRS NewGen” yang berbeda dengan WRS sebelumnya. WRS NewGen merupakan terobosan baru BMKG dalam penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami yang memberikan informasi gempabumi secara lebih cepat karena bersifat “real time" otomatis dari BMKG.

"Percepatan penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami ini, memastikan stakeholder dapat mengambil langkah penting selanjutnya secara cepat dalam penanganan bencana, sehingga  memberikan manfaat nyata dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana," jelasnya.

WRS NewGen, sambung Djati, dapat menyajikan informasi dalam waktu kurang dari tiga menit bahkan bisa dalam waktu dua menit setelah terjadi gempabumi. Karena informasi ini bersifat realtime, sehingga meskipun parameternya bersifat sementara namun dapat digunakan oleh BPBD atau pemangku kebencanaan untuk segera mengambil respon cepat guna melakukan langkah-langkah upaya mitigasi, sehingga diharapkan dapat mengurangi korban jiwa dan dampak gempa lainnya secara dini.

"Lokasi pemasangan WRS NewGen tahun 2020 ini mencakup Kantor Kementrian/Lembaga yang tersebut dalam Perpres Nomor 93 Tahun 2019 dan institusi yang terlibat dalam penanganan bencana gempa dan tsunami seperti Kantor Pemerintah Daerah (BPBD), Kantor Media Massa (khususnya Televisi/Radio) serta institusi terkait yang memiliki kerjasama dengan BMKG terkait sharing data dan informasi," paparnya.

Dengan terpasangnya WRS NewGen ini, diharapkan dapat meningkatkan performa penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami dari BMKG Pusat Jakarta ke kantor unit pelaksana teknis BMKG, Pemerintah Daerah, Lembaga/Kemeterian, Media dan lembaga lain yang terkait penanganan bencana.

"Untuk Wilayah Aceh akan terpasang di 15 lokasi baik itu di Kantor BMKG, beberapa Kantor Bupati dan beberapa Kantor BPBD," kata Djati lagi.

"Harapan kita dengan adanya percepatan penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami ini, maka akan dapat mempercepat respon dalam penanganan bencana, sehingga dapat memberikan manfaat nyata dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana," tambahnya.

Penulis:Redaksi
Editor:Hafiz
Rubrik:Tekno

Komentar

Loading...