Gali Peluang Sinergi, Komisi VI DPR RI Kunjungi BI

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Z Arifin Lubis saat foto bersama dengan anggota Komisi VI DPR RI, Rafli Kande. (Ist)

Banda Aceh, Acehportal.com - Dalam rangka menjaga asa pertumbuhan ekonomi masyarakat dan UMKM di masa pandemi, anggota Komisi VI DPR RI yakni Rafli Kande dan rombongan melakukan diskusi bersama pimpinan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Jumat (5/6/2020) kemarin.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh akademisi Unsyiah, pelaku usaha dan juga penggiat UMKM Aceh.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Z Arifin Lubis memaparkan tentang kondisi perekonomiam Aceh terkini, dimana dampak penyebaran wabah Covid-19 terhadap UMKM (baik di tingkat nasional maupun Aceh) serta beberapa rekomendasi yang dimungkinkan.

Ia menyampaikan, penyebaran Covid-19 telah memberikan pukulan bagi perekonomian, tidak hanya Aceh, tetapi juga Indonesia, bahkan perekonomian global.

"Potensi global economic growth diprediksi mengalami pertumbuhan negatif sebesar 3 persen, sedangkan perekonomian nasional diprediksi masih mampu bertumbuh sebesar 0,5 persen," ujarnya.

Dampak Covid-19 pada perekonomian diperkirakan mencapai puncaknya pada triwulan II hingga triwulan III. Beberapa sektor riil yang terdampak langsung diantaranya sektor pariwisata (yang diindikasikan dengan penurunan permintaan jasa akomodasi hingga mencapai 70%), sektor otomotif (yang diindikasikan dengan penurunan penjualan kendaraan bermotor), sektor ritel serta sektor transportasi udara dan darat.

"Khusus terkait UMKM, dampak Covid-19 sangat dirasakan pasca pemberlakukan kebijakan terkait mitigasi penyebaran Covid-19 (social distancing, dst) yang menurunkan demand, memukul pencapaian omzet hingga 75 persen, mengganggu cash flow, yang pada gilirannya memaksa pengusaha untuk melakukan efisiensi seoptimal mungkin melalui pengurangan pegawai, bahkan hingga pemberhentian produksi sementara waktu," ungkap Arifin.

Untuk mengurangi dampak global pandemic sekaligus mengupayakan keberlangsungan bisnis para pelaku usaha menyambut era new normal, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Aceh melakukan serangkan program peningkatan kompetensi (melalui Virtual Capacity Building), pendampingan (melalui program Wirausaha Bank Indonesia), konsultansi (melalui aktivasi Konsultan Keuangan Mitra Bank) dan juga secara rutin melakukan koordinasi atau komunikasi dengan stakeholder melalui berbagai forum diskusi online.

"Rangkaian program dimaksud memberikan fokus pada peningkatan pemahaman terkait ekonomi digital (pemasaran, pembiayaan, dll) dan perubahan bisnis model pasca pandemi," katanya lagi.

Merespon pemaparan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Rafli menyampaikan dirinya akan memperkuat komitmen kementerian dan BUMN yang berada di bawah pengawasan Komisi VI DPR RI untuk secara aktif berkontribusi dalam meminimalisir dampak wabah terhadap perekonomian masyarakat, terutama terhadap para pelaku UMKM.

Ia berharap agar Pemerintah Aceh melakukan terobosan yang nyata dan mengambil langkah strategis yang cepat dan konkrit untuk membantu meringankan berbagai beban dan masalah yang tengah dialami oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Selain berbicara tentang dampak Covid-19 terhadap perekonomian dan UMKM, sesi diskusi kedua perwakilan lembaga negara dimaksud sempat menyinggung tentang progress implementasi Qanun Lembaga Keuangan Syariah di Provinsi Aceh.

"Diharapkan konversi lembaga keuangan konvensional menjadi lembaga keuangan syariah dapat diikuti dengan inovasi produk, layanan dan teknologi yang baik sehingga mampu memberikan peran yang tidak jauh berbeda dengan peran yang selama ini diberikan oleh lembaga keuangan konvensional," jelas Rafli.

Merespon hal itu, Z Arifin Lubis menginformasikan, penerapan Qanun Lembaga Keuangan Syariah akan memberikan dampak yang cukup signifikan apabila perbankan memiliki komitmen yang kuat untuk mengimplementasikan berbagai amanat beleid khas Aceh tersebut, diantaranya seperti penerapan rasio pembiayaan UMKM hingga 40 persen pada tahun 2022 dan mengutamakan implementasi akad berbasis bagi hasil hingga 40 persen pada 2024.

"Apabila kedua hal tersebut dapat diikuti, diharapkan dapat mendorong lahirnya para pengusaha baru dan meningkatkan perkembangan UMKM secara signifikan," tegasnya.

Menanggapi hasil diskusi dan berbagai masukan dari berbagai peserta, kedepan, Rafli mengharapkan adanya diskusi lanjutan bersama Bank Indonesia dan juga stakeholder lainnya untuk membahas berbagai tantangan dan peluang perekonomian Aceh hingga dapat tersusun rencana aksi yang konkrit, terarah dan terukur.

Penulis:Redaksi
Editor:Hafiz
Rubrik:Ekonomi

Komentar

Loading...