Karyawan yang Sudah Di PHK oleh PT Hutama Karya Sudah Dibayarkan Pesangon

Kepala Bagian Umum PT Hutama Karya, Afid memperlihatkan bukti resi transfer yang sudah dikirimkan ke rekening masing-masing karyawan yang dipecat, Kamis (4/6/2020) malam. (Dani/Acehportal.com)

Meulaboh, Acehportal.com - Baru-baru ini, beredar isu miring bahwa PT Hutama Karya (HK) mengenai soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tidak membayar pesangon kepada sejumlah karyawan yang dipecat.

Pasalnya, pihak yang dituding belum membayar hak berupa pesangon itu, sebenarnya tidak benar dan sudah dibayarkan kepada masing-masing karyawan terkena PHK tersebut yang dirumahkan pada April 2020 lalu setelah keluar surat nomor 198/HK-JK JO/IV/2020.

Maka berdasarkan hal tersebut, Kamis (4/6/2020) malam, Kepala Bagian Umum PT Hutama Karya, Afid kepada wartawan dalam konferensi pers membantah bahwa sejumlah karyawan yang dipecat sudah diberikan pesangon.

Dalam hal itu, Afid juga memperlihatkan bukti resi transfer yang sudah dikirimkan ke rekening masing-masing mereka. Pengiriman pesangon tersebut menurut dia dapat membenarkan bahwa perusahaan bertanggung jawab atas langkah-langkah yang sudah diambil dan diputuskan.

“Kalau mereka mengaku tidak menerima pesangon, itu tidak benar, semua yang kena PHK semua ada pesangonnya. Pesangon yang diterima tetap sesuai hitungan gaji selama dua bulan gaji, juga digabung dengan THR. Kita ada bukti pengiriman, karena kita tidak memberikan secara kes. Jadi yang mereka tuntut semua ada kita kasih,” katanya.

Menurutnya, tenaga kerja yang sudah dirumahkan itu sebenarnya bukan sepenuhnya berdampak dari pandemi Covid-19 atau pun overhead proyek, tetapi juga ada hubungan dengan kinerja karyawan yang sudah tidak efektif lagi serta menyakut hal lainnya yang melanggar dengan aturan perusahaan.

“Kita tidak asal-asalan memutuskan hubungan kerja jika tidak ada alasannya. Masalah lainnya ada dari mereka tidak efektif lagi dan ada juga yang melanggar prosedur perusahaan, maka dari itu pihak kita mengambil keputusan ini,” terangnya.

Selain itu, lanjut dia, tenaga kerja dimaksud sebelumnya juga sudah diberikan surat peringatan agar masalah tersebut tidak diulanginya lagi. Namun hal demikianlah yang menjadi persoalan bahwa perusahaan harus mengambil langkah tersebut berupa PHK ditambah lagi karena ditengah pandemi Covid-19.

“Secara aturan pembayaran pesangon yang diterima mereka sudah sesuai, mereka kan kontrak PKWT, ketika habis proyek disini jadi mereka tidak membawa mereka lagi,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, tenaga kerja yang kena PHK mengaku, pemberhentian mereka terkesan mendadak tanpa adanya pesangon, padahal rata-rata sudah dua tahun lebih bekerja sebagai tenaga kontrak di perusahaan tersebut.

“Kami kerja di PT HK, kami di PHK tanpa ada surat peringatan dan langsung di PHK, kami sebagai tukang masak sudah bekerja 2 tahun 8 bulan, kita di PHK karena Covid-19, kami di PHK tidak ada pesangonnya, masalahnya tidak tahu,” kata mantan tukang masak berstatus tenaga kontrak PT HK, Jaimah, Rabu (3/6/2020) kemarin.

Hal senada juga dikatakan Muhammad Asrizal, Surveyor korban PHK. Mereka di PHK dengan alasan Covid-19 tanpa adanya pesangon, namun tidak begitu mempermasalahkan pemberhentian kerja.

“Kami menuntut hak kami aja, kami tidak masalah di PHK tapi hak kami bagaimana, yang saya baca di undang-undang tentang tenaga kerja itu, dua tahun kita kerja jalan ke tiga tahun pesangon dibayar setara dengan tiga bulan gaji dan THR menjelang 30 hari lebaran Idulfitri seharusnya dapat dan tapi kita tidak dapat,” jelasnya.

Asrizal mengungkapkan, para pekerja korban PHK itu tidak memegang kontrak kerja, padahal mereka sudah menanda tangani, namun pihak perusahaan tidak memberikan salinannya.

Penulis:Dani
Editor:Hafiz
Rubrik:Daerah

Komentar

Loading...