Debu dari Aktivitas Perusahaan di Wilayah Gelanggang Merak Ancam Perekonomian Masyarakat

Sukamakmue, Acehportal.com - Dampak dari perusahaan yang beraktivitas di kawasan Dusun Gelanggang Merak, Gampong Suak Puntong, Nagan Raya mulai mengancam perekonomian masyarakat.

Pantauan media ini Jumat (5/6/2020) sore, di sekitar wilayah gampong yang berdampak dari polusi debu batu bara dan debu tanah kering yang berceceran dari truk pengangkut timbunan proyek PLTU 3 dan 4 itu, nampaknya usaha warga dan sejumlah toko tidak berfungsi lagi.

Diketahui, sejak dibangunnya proyek PLTU 3&4 itu dan PLTU 1&2 serta PT Mifa Bersaudara, seluruh usaha warga di setempat terpaksa ditutup lantaran sepi pengunjung. Hal tersebut akibat dampak debu dari aktivitas pengangkutan material serta debu batu bara di wilayah setempat.

Seperti diketahui, pemukiman dusun Gelanggang Merak, Gampong Suak Puntong  itu dikelilingi oleh beberapa perusahan penghasil limbah batu bara yang mematikan.

Seperti PT Mifa Bersaudara dan PLTU 1&2 dan pembangunan PLTU 3&4 yang sedang berlangsung dalam tahap penimbunan lahan yang nantinya akan menggunakan batu bara sebagai bahan baku penghasil energi kelistrikan.

Maka, imbas dari aktivitas sejumlah perusahaan yang beroperasi itu telah mengakibatkan hancurnya perekonomian masyarakat di sekitarnya. Bahkan sejumlah toko-toko dan warung terpaksa ditutup oleh pemiliknya karena diserang debu batu bara dan debu tanah timbunan yang menyelimuti pemukiman mereka.

Seperti yang dialami oleh Haji Fakruddin, warga Dusun Gelanggang Merak yang sudah lama menutup usahanya akibat serangan debu tersebut. Hingga kini, kerugian akibat yang ditimbul mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Haji Fakhrudin, warga Suak Puntong mengaku terpaksa menutup usahanya akibat terserang debu dan berharap perusahaan disegerakan melakukan pembayaran ganti rugi tempat tinggal warga untuk bisa mencari tempat yang lebih layak.

Sementara itu, Maskur sebagai relawan pedamping masyarakat Gampong Suak Puntong korban pencemaran lingkungan menilai, pemerintah mengabaikan persoalan warga yang menjadi korban perusahaan akibat pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh debu batu bata dan debu tanah timbunan pembangunan PLTU 3&4 yang mondar mandir di depan rumah warga.

Dampak dari aktivitas pengangkutan material tersebut,  puluhan ibu-ibu rumah tangga pada Rabu (3/6/2020) lalu memblokir pintu keluar masuk perusahaan PLTU 3&4 dengan besi penyangga, sehingga ratusan mobil truk berhenti kerja total.

Aksi nekat para ibu-ibu itu memblokir jalan masuk PLTU 3&4 Nagan Raya karena meluapkan kekesalan terhadap truk yang melintasi desa mereka yang menyebabkan polusi udara akibat debu berhamburan di jalan raya oleh mobil truk pengangkut material tanah timbunan perusahaan tersebut.

Pantauan Acehportal.com sejak dua terakhir, bahkan sebagian mobil tidak menutup bak sehingga tanah berceceran di jalan yang menyebabkan polusi debu saat kemarau dan jalanan berlumpur ketika musim hujan.

Meski aksi demo dan berkumpul ramai dilarang di tengah Covid-19. Namun kali ini, warga terpaksa melanggar protokol Covid-19 tersebut karena tidak tahan lagi terkena polusi udara dan lingkungan yang tercemar.

Selain persoalan polusi debu, aksi warga itu juga dipicu belum tuntasnya proses ganti rugi tempat tinggal mereka yang sudah dijanjikan beberapa waktu lalu untuk pindah ketempat yang jauh dari lokasi mega proyek tersebut.

Selain itu, pada Kamis kemarin kepada Acehportal.com, Fakhrudin mengatakan, pihak penanggung jawab pelaksanaan pembangunan PLTU 3&4 mengadakan rapat dengan warga terkait pembayaran kompensasi khusus untuk Masyarakat Dusun Gelanggang Merak, Gampong Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya.

"Kami dijanjikan akan mendapatkan kompensasi yang diberikan setiap bulan sebanyak Rp 15 juta per bulan dan kompensasi itu hanya untuk Dusun Gelanggang Merak, warga yang terkena debu dampak dari aktivitas pengangkutan material untuk pembangunan PLTU 3&4 itu," katanya.

Sementara, dari PT Mifa Bersaudara yang beroperasi di wilayah Aceh Barat, katanya, setiap bulan pembayaran kompensasi hanya diberikan Rp 7,5 juta dan dibayar setiap bulan khusus untuk warga terdampak yakni Dusun Gelanggang Merak.

"Sedangkan dari PLTU 1&2 Nagan Raya tidak ada menerima pembayaran kompensasi untuk warga yang berdampak dari aktivitas mereka," kata Fakhrudin.

Sementara itu, rapat digelar bersama masyarakat Dusun Gelanggang Merak Kamis (4/6/2020) terkait pembayaran kompensasi tersebut ikut melibatkan Muspika, TNI-Polri dan pimpinan penanggungjawab pelaksanaan pembangunan PLTU 3&4 Nagan Raya.

Penulis:Dani
Editor:Hafiz
Rubrik:Daerah

Komentar

Loading...