Opini

Buloh Blang Ara yang Terlupakan

Masyarakat (sesepuh) Buloh Blang Ara selaku Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Baharuddin AR. (Ist)

Banda Aceh, Acehportal.com - Tulisan sederhana ini mencooba merekam, memotret dan melaporkan beberapa hal yang dianggap penting dan krusial sebagai bagian dari tanggung jawab moral selaku putra asli Buloh Blang Ara yang sudah melalangbuana di luar dalam jangka yang lama.

Buloh Blang Ara sebagai ibukota Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, lebih kurang 15 kilometer dari Cunda, Lhoksemawe. Di sana, kita jumpai yang namanya Simpang Buloh yang sering berkerumun para penunggu passenger (penumpang) semacam ojeg (dulu sering disebut RBT).

Sedangkan ke ibukota Aceh Utara, Lhoksukon, tergolong lumayan jauh kira-kira hampir 30 kilometer. Namun, bisa ditempuh dengan berbagai jalur ke sana baik melalui jalan Banda Aceh-Medan maupun Jalan Elak, juga melalui jalan saluran pipa gas PT Arun. Orang-orang sering menyebutnya Jalan LEN.

Buloh Blang Ara punya sejarah tersendiri dalam perhelatan panjang merebut dan mempertahan kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajah. Buloh Blang Ara menjadi benteng (Tanksi/Tankse) terakhir bagi para pejuang saat Lhoksemawe dan Cunda dalam perebutan penjajah.

Bahkan, dengan senjata apa adanya, termasuk bambu runcing, para mujahid Indonesia (Aceh) berani menyerang penjajah yang sudah bermarkas. Di Lhoksemawe saat itu dengan berjalan kaki dari Buloh Blang Ara tanpa pamrih. Namun, dalam perjalanan waktu seolah-olah Buloh Blang Ara  terabaikan (termarginalkan) dalam peta republik ini.

Saat konflik vertikal (Jakarta-Aceh) yang berakhir damai, Buloh Blang Ara ini dianggap basis pergerakan GAM dan berwarna hitam dalam peta Daerah Operasi Militer (DOM). Kondisi ini sangat berdampak pada kehidupan warganya, terutama pada zona basis-basis sumber ekonomi yakni pertanian dan perkebunan. Kedua potensi sumberdaya alam ini menjadi tonggak utama terhadap zona-zona lainnya, termasuk pendidikan.

Durian dan langsat, menjadi andalan dan primadona pada saat musimnya yang kemudian dikenal dengan sebutan "Boh Drien dan Langsat Buloh". Demikian "lakab" yang sangat familiar bagi warga sekitar, bahkan seluruh Aceh, termasuk Banda Aceh.

Jika kelihatan durian dan langsat, langsung ditanya, apa ini dari Buloh?. Meskipun para pedagang ada yang menipu pembelinya, bahwa ini dari Buloh. Padahal, bukan dari sana. Jika durian dari sana, satu biji pun masih sangat berbau menusuk hidung, apalagi dalam jumlah banyak. Maka, bagi mobil penumpang jarang yang mau membawanya, meski hanya satu.buah karena baunya bisa mengganggu penumpang.

Soal harga komoditas rakyat tersebut, termasuk durian dan langsat selalu menjadi "pengganggu" konsentrasi warga di sana. Ketika bercocok tanam harga-harganya layan melambung. Namun, saat panen semua harga anjlok seolah-olah pasar berjalan sendiri-sendiri dan sangat liar tidak terkontrol.

Padahal sebagian besar kebutuhan warga terhadap produk pertanian dan perkebunan, termasuk sayur mayur dihasilkan dari Buloh Blang Ara bahkan sampai ke Banda Aceh dan Medan dipasok.

Namun, semangat petani disana selalu kandas dan loyo ketika berhadapan dengan kekuatan pasar yang liar ini. Kemana eksekutif dan legislatif saat itu???. Demikian sering terekam omongan warga di warung-warung kopi.

Kondisi di atas, diperparah lagi saat sekarang yang berhadapan dengan wabah mendunia, Covid-19 ini. Dampaknya luar biasa sampai ke gampong-gampong (Desa), tidak terkecuali Buloh Blang Ara.

Jika transportasi (darat) terhenti keluar-masuk ke sana, maka dapat dipastikan barang-barang komoditi andalan warga yang dipasok ke daerah sekitar seperti Lhoksemawe, Lhoksukon, Bireun dan bahkan ke Banda Aceh dan Medan, juga ikut terhenti total. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup dan kehidupan masyarakat di sana.

Jika datangnya musim kemarau berkepanjang (seperti tahun yang lalu), maka sangat berdampak terhadap penghasilan mereka, termasuk komoditas-komoditas andalan seperti durian, langsat, rambutan, padi dan sayur-sayuran.

Khusus untuk tanaman padi yang berharap pada irigasi yang selalu mengalirkan air ke sawah-sawah mereka. Namun, masih ada irigasi yang dikerjakan asal jadi tidak sekuat yang diprediksi yang padahal anggarannya hampir tiap tahun digelontarkan.

Itulah secelumit potret buram tentang Buloh Blang.Ara. Semoga bisa membuka mata dan telinga bagi pemangku amanah untuk lebih memperhatikannya ke sekarang dan ke depan. Jangan dimarginal lagi, sudah cukup, stop...!

Oleh: Masyarakat Buloh Blang Ara di Banda Aceh selaku Dosen UIN Ar-Raniry, Baharuddin AR. (Bahar.raniry@gmail.com)

Editor:Hafiz
Rubrik:News

Komentar

Loading...