Penyelundupan 13 Ton Bawang Merah Impor Digagalkan di Perairan Aceh Tamiang

Kapal bermuatan belasan ton bawang ditangkap Bea Culai di perairan Aceh Tamiang (Ist)

Kuala Simpang, Acehportal.com - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19) di Indonesia, Bea Cukai terus berupaya melakukan sinergi untuk menjaga perbatasan Indonesia dari masuknya barang-barang ilegal dan berbahaya.

Sinergi Operasi Jaring Sriwijaya kali ini diwujudkan Bea Cukai Kanwil Aceh, Kanwil Sumut, Kanwil Khusus Kepri, Bea Cukai Kuala Langsa dan Bea Cukai Belawan yang menggagalkan penyelundupan bawang merah ilegal.

Kabid Humas Kanwil Bea Cukai Aceh, Isnu Irwantoro mengatakan, bawang merah asal Thailand sebanyak 13 ton ini dikemas dalam 650 karung, dimana per karungnya berisi 20 kilogram bawang. Bawang ini diamankan petugas gabungan Bea Cukai Kamis (30/4/2020) kemarin di Perairan Air Masin, Aceh Tamiang.

"Total nilai bawang merah eks muatan KM Rajawali GT 15 ini diperkirakan sebesar Rp 390 juta dengan potensi kerugian negara dari sektor perpajakan sebesar Rp 135,5 juta," ujarnya Minggu (3/5/2020) sore.

Isnu menjelaskan, keberhasilan penggagalan penyelundupan ini berkat informasi dari Bea Cukai Kanwil Aceh yang disampaikan kepada Tim Satuan Tugas (Satgas) Kapal Patroli Bea Cukai BC 20005, Rabu (29/4/2020) lalu.

Tim Bea Cukai Kanwil Aceh menginformasikan ada kapal target yang memuat bawang merah ilegal. Atas informasi ini, Tim Satgas Kapal Patroli BC 20005 yang sedang melakukan Operasi Patroli Laut Terpadu Jaring Sriwijaya di pesisir pantai timur Aceh menindaklanjutinya dengan melakukan pencarian kapal target dimaksud.

Hingga akhirnya, Kamis dini hari kemarin pukul 02.00 WIB, Tim Satgas Kapal Patroli BC 20005 yang diawaki oleh petugas Bea Cukai Kanwil Khusus Kepri dan Bea Cukai Kanwil Aceh ini menjumpai kapal target di Perairan Air Masin, Aceh Tamiang.

"Setelah didekati dan disorot dengan lampu Kapal Patroli, kapal kayu berbendera Indonesia tersebut terus melaju dan berusaha melarikan diri dengan menambah kecepatannya," kata dia.

Selanjutnya, sambung Isnu, anggota Tim Satgas memutuskan untuk melakukan pengejaran terhadap kapal target hingga akhirnya kapal kayu dengan nama lambung KM Rajawali GT 15 ini dihentikan dan diperiksa kepabeanan.

"Nakhoda tidak dapat menunjukkan dokumen kepabeanan yang sah atas barang yang diangkut sehingga Tim Satgas melakukan penindakan terhadap kapal, muatan, maupun awaknya," ungkapnya.

Berdasarkan koordinasi dengan Kanwil Bea Cukai Sumatera Utara dan Bea Cukai Belawan, Komandan Kapal Patroli BC 20005 memerintahkan agar KM Rajawali beserta muatannya untuk diarahkan menuju dermaga Pangkalan Bea Cukai Belawan.

Hasil pencacahan yang dilakukan petugas di Pangkalan Bea Cukai Belawan kedapatan bahwa muatan KM Rajawali ini sebanyak 650 karung, dimana pernah karung berisi ni 20 kilogram bawang merah.

"Saat ini 4 orang tersangka awak KM Rajawali ditahan di Rutan Kuala Simpang, Aceh Tamiang, selanjutnya berkas kasus ini diserahterimakan kepada Bea Cukai Kuala Langsa guna pemeriksaan serta proses lebih lanjut," tambah Isnu.

Sanksi hukum atas pelaku tindak pidana penyelundupan barang impor diatur dalam Pasal 102  huruf (a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan yang menyebutkan bahwa setiap orang yang mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes dipidana karena melakukan penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 5 miliar.

Penulis:Redaksi
Editor:Hafiz
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...