Informasi Lain Terkait Kematian Bayi Gajah di Aceh Jaya

Tim dokter hewan BKSDA Aceh saat melakukan nekropsi terhadap bangkai bayi gajah liar Sumatera di Aceh Jaya, Rabu (29/4/2020). (Ist)

Calang, Acehportal.com - Diperkirakan sejak lima hari lalu kawanan gajah liar yang berjumlah puluhan ekor berada di kawasan hutan Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya. Kawanan gajah liar Sumatera ini pun sesekali turun ke kawasan gampong sekitar untuk mencari makan.

Meski setiap tahun daerah hutan terswbut sudah menjadi lintasan gajah, warga disana tak heran lagi jika sesekali menemukan kelompok gajah liar yang berkeliaran dalam hutan.

Kali ini sedikit lebih lama satwa dilindungi ini bertahan disana karena salah satu anak gajah yang menjadi bagian dari kawanan gajah ditemukan mati. Kawanan gajah ini pun diyakini berlama di sekitar hutan untuk menjaga bangkai anak gajah tersebut.

Usia bayi gajah liar ini diperkirakan satu tahun. Bayi gajah itemukan mati dan telah membusuk di dalam hutan. Lokasi penemuan bangkai bayi gajah juga terlihat bersih. Masyarakat yakin, kawanan gajah telah membersihkan lokasi bangkai bayi gajah agar tak menjadi semak belukar.

Warga sekitar juga sebelumnya telah mengetahui keberadaan anak atau bayi gajah liar dalam keadaan sakit di hutan itu. Sempat berniat mengobati, namun tak dapat mendekat karena dijaga oleh induk serta kawanan gajah lain.

Rabu (29/4/2020) siang tadi, tim BKSDA Aceh bersama mitranya turun ke lokasi penemuan bangkai bayi gajah untuk menyelidiki penyebab kematiannya. Bangkai bayi gajah dibedah (nekropsi) dan diambil beberapa sampel untuk diuji laboraturium.

“Ini salah satu anak gajah liar jantan yang kita perkirakan umurnya sekitar satu tahun, kita sudah lakukan uji nekropsi mengambil alat vital dalam tubuh gajah seperti jantung, hati, isi dalam, ginjal dan lainnya untuk dikirim ke lab kita agar dapat menemukan penyebab kematian,” ujar dokter hewan BKSDA Aceh, Rosa Rika Wahid.

Ia juga menjelaskan, kawanan gajah tersebut diperkirakan masih berkeliaran di sekitar hutan. Hal ini terbukti dengan jejak indukan gajah yang masih baru. Bahkan, kawanan gajah diyakini akan lebih lama bertahan disana karena menemani bagian kawanan mereka yang sudah mati.

“Tadi jejak di sekitar hutan ini memang gajah kawanan, ada jejak gajah indukan yang memang, dan sampai ada bagian dari kawanan (anak gajah) yang mati pun mereka tetap disini menemani,” ungkapnya.

Setelah melihat kondisi bangkai bayi gajah, tim dokter hewan tidak menemukan adanya tanda kekerasan fisik ataupun luka jerat yang mengakibatkan kematian gajah tersebut.

“Untuk sementara dugaan kita gajah ini mati karena faktor penyakit internal,” kata Rosa.

Diperkirakan, ada sekitar 30 ekor kawanan gajah yang masih bertahan di sekitar hutan dan terkadang sesekali turun ke perkebunan warga. Mereka bertahan disana hanya untuk menamani anak gajah yang sudah mati dan membusuk itu.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Daerah

Komentar

Loading...