Seekor Anak Gajah Ditemukan Mati di Aceh Jaya

anak gajah betina di CRU Serbajadi Aceh Timur bernama Salma

Calang, Acehportal.com - Tim BKSDA Aceh bersama mitra melakukan olah TKP dan nekropsi terhadap temuan bangkai bayi gajah Sumatera di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) perkebunan warga yang tak terawat dan tak digarap di sekitar Dusun Keunareh, Gampong Kampung Baroeh, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya, Rabu (29/4/2020).

Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto saat dikonfirmasi mengatakan, pemuan bangkai bayi gajah ini diketahui berdasarkan informasi dari masyarakat setempat. Dari hasil olah TKP tidak ditemukan adanya hal-hal atau barang yang mencurigakan.

"Sedangkan dari hasil nekropsi yang dilakukan tim dokter hewan BKSDA Aceh diketahui secara fisik pada bangkai bayi gajah tidak ditemukan tanda kekerasan fisik seperti luka tusuk, sayat, peluru, sengatan listrik, bakar ataupun benturan/trauma tumpul," ujarnya saat dikonfirmasi di Banda Aceh.

Lalu, jelas Agus, kondisi bangkai bayi gajah Sumatera ini pun sudah mengalami pembusukan (autolysis/putrefaction). Diduga, kematian bayi gajah ini diperkirakan sejak 4 hingga 5 hari yang lalu.

"Bayi gajah berjenis kelamin jantan dengan perkiraan umur kurang lebih satu tahun, jaringan di bawah kulit sangat kering. Terdapat perubahan yang signifikan pada hampir seluruh organ penting (jantung, hati, ginjal dan dinding usus), dimana jaringannya sangat lunak dan mudah hancur," jelasnya.

Hal ini, lanjut Kepala BKSDA Aceh, bisa diakibatkan karena pengaruh proses autolysis/putrefaction (pembusukan), mengingat umur satwa yang masih sangat muda ataupun pengaruh dari zat-zat yang bersifat racun (toxic).

"Dari hasil nekropsi yang dilakukan secara makroskopis, kematian bayi gajah ini diduga karena faktor keracunan (toksicosis) atau kelelahan akibat tingkat mobilitas yang tinggi karena konflik yang terjadi," kata dia.

Untuk mengetahui kepastian penyebab kematian bayi gajah, sampel organ yang meliputi isi saluran cerna, hati, ginjal dan jantung akan dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik untuk dilakukan uji laboratorium/ toksicologi.

"Selanjutnya BKSDA Aceh akan terus berkoordinasi dengan pihak Polres Aceh Jaya untuk mengetahui ada tidaknya unsur pidana terkait dengan penyebab kematian bayi gajah tersebut," tambah Agus.

Gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu jenis satwa liar dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, beresiko tinggi untuk punah di alam liar. Oleh karena itu, pihaknya mengutuk keras apabila dari proses penanganan nantinya ditemukan bukti adanya unsur kesengajaan untuk membunuh satwa liar di lindungi tersebut.

BKSDA Aceh pun mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar gajah Sumatera dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati serta tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi yang dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Disamping itu, beberapa aktivitas tersebut dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya Gajah Sumatera dengan manusia, yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa baik bagi manusia ataupun keberlangsungan hidup satwa liar tersebut.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Peristiwa

Komentar

Loading...