Tim BKSDA Aceh Temukan Serbuk yang Diduga Meracuni Gajah Mati di Aceh Timur

Petugas melakukan nekropsi pada bangkai gajah di Aceh Timur (Ist)

Banda Aceh, Acehportal.com - Jumat (17/4) 2020) kemarin, tim BKSDA Aceh dan mitra bersama Polres dan Kodim Aceh Timur melakukan nekropsi terhadap bangkai gajah Sumatera liar yang ditemukan dan diinfromasikan mati di Aceh Timur.

Kepala BKSDA Aceh, Agus Aryanto mengatakan, nekropsi ini sendiri dilakukan pihaknya untuk mengetahui penyebab kematian hewan yang dilindungi tersebut.

"Ini tindak lanjut dari hasil pengecekan awal adanya bangkai gajah di sekitar area Afdeling 3 PT Dwi Kencana/ PT Makmur Inti Bersaudara, Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur berdasarkan informasi dari masyarakat," ujarnya Sabtu (18/4/2020).

Ia menjelaskan, dari hasil olah TKP, ditemukan adanya cairan merah serta bubuk yang terbungkus plastik dan tergantung di pohon. Di bawah gantungan plastik, petugas juga menemukan kotak berisi bubuk hitam yang diduga salah satu jenis bahan insektisida yang umum digunakan pada bidang pertanian.

"Jarak temuan barang-barang tersebut sekitar 100 meter dari lokasi bangkai gajah," kata Kepala BKSDA Aceh.

Sedangkan hasil nekropsi yang dilakukan tim dokter hewan BKSDA Aceh, ungkapnya, secara fisik, diketahui pada bangkai gajah tak ditemukan tanda kekerasan fisik seperti luka tusuk, sayat, peluru, sengatan listrik, bakar ataupun benturan/trauma tumpul.

"Kondisi bangkai sudah mengalami autolysis atau pembusukan, kematiannya diperkirakan sudah lebih dari seminggu (8 hingga 10 hari). Gajah ini berjenis kelamin betina, perkiraan umur antara 8 hingga 10 tahun dengan berat badan sekitar satu ton," ungkap Agus.

Selain itu, sambungnya masih berdasarkan hasil nekropsi, terdapat perubahan warna pada isi lambung atau makanan di dalam saluran pencernaan gajah ini yang umum ditemukan dalam kasus keracunan.

Petugas menemukan adanya benda asing berupa serbuk hitam yang terbungkus di dalam plastik bening dan palstik bungkusan atau kemasan deterjen yang dibalut di dalam sebuah peci kupluk.

"Dari hasil nekropsi yang dilakukan secara makroskopis, kematian gajah diduga karena toxicosis atau keracunan. Guna mengetahui kepastian penyebab kematiannya, sampel bagian organ dalam gajah dan barang temuan yang ada dikirim ke pusat laboratorium forensik untuk dilakukan uji toksicologi," jelasnya.

"BKSDA Aceh akan terus berkoordinasi dengan pihak Polres Aceh Timur dan Gakkum Wilayah I Sumatera terkait proses penanganan kematian gajah ini," tambahnya.

Gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

Oleh karena itu, BKSDA Aceh mengutuk keras apabila dari proses penanganan nantinya ditemukan bukti adanya unsur kesengajaan untuk membunuh satwa liar di lindungi tersebut.

"BKSDA Aceh mengimbau seluruh masyarakat untuk bersama menjaga kelestarian alam, khususnya satwa liar gajah Sumatera dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati," tegasnya.

Pihaknua juga meminta masyarakat untuk tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian satwa liar yang dilindungi dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Disamping itu, beberapa aktivitas tersebut dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya Gajah Sumatera dengan manusia yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa baik bagi manusia ataupun keberlangsungan hidup satwa liar tersebut," tutupnya.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...