Lhokseumawe Alami Inflasi Sebesar 0,64 Persen

Pedagang ikan di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe melayani pembeli (Mulyadi/Acehportal.com)

Lhokseumawe, Acehportal.com - Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 April 2020, inflasi kota Lhokseumawe pada bulan Maret 2020 tercatat sebesar 0,64 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan Februari 2020 sebesar 0,49 persen.

Bila dilihat periode tiga tahun ke belakang, bulan Maret selalu mengalami deflasi atau penurunan harga secara umum yaitu, 0,45% pada Maret 2019, 0,25% pada Maret 2018 dan 1,40% pada Maret 2018.

Kepala KPwBI Lhokseumawe, Yukon Afrinaldo menyebutkan, inflasi kota Lhokseumawe juga lebih tinggi dari Kota Banda Aceh (0,60% mtm) dan Meulaboh (0,52% mtm).

Secara agregat, Aceh mengalami inflasi sebesar 0,60%, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,44% serta lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 0,10%.

“Secara tahunan inflasi Kota Lhokseumawe Maret 2020 sebesar 3,36%, masih berada pada kisaran sasaran inflasi Pemerintah sebesar 3,0% ±1%,” jelasnya Sabtu (18/4/2020).

Yukon menyebutkan, inflasi kota Lhokseumawe bulan Maret 2020 terutama bersumber dari kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan sumbangan sebesar 0,45% dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,11%.

Ia merincikan, lima komoditas pada kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil inflasi di Lhokseumawe adalah lain ikan tongkol (andil: 0,30%), ikan dencis (0,16%), cumi-cumi (0,08%), ikan teri (0,04%) dan bawang merah (0,04%).

“Kenaikan harga ikan laut disebabkan oleh terbatasnya pasokan akibat kondisi angin dan bulan purnama sehingga gelombang laut cenderung tinggi. Sementara itu, terbatasnya pasokan baik dari lokal maupun luar daerah mendorong kenaikan harga bawang merah. Sementara kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan mengikuti harga emas dunia,” ungkapnya.

Di sisi lain, terdapat komoditas yang memberikan andil penurunan harga (deflasi) yaitu udang basah (andil: -0,07%), beras (-0,06%), minyak goreng (-0,05), cabai merah (-0,02), dan jeruk nipis (-0,01%).

Penurunan harga beras tersebut seiring dengan masuknya periode panen di beberapa sentra produksi. Sementara harga minyak goreng dan bawang putih mulai menurun karena permintaan yang menurun sehubungan dengan pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah.

Selanjutnya, harga cabai merah mengalami penurunan karena adanya tambahan pasokan dari panen lokal Aceh antara lain di Ketol Aceh Tengah.

“Kedepan, inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2020, yaitu 3,0±1%. Untuk itu, koordinasi antara Pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga,”ucapnya.

Penulis:CR Mulyadi
Editor:Hafiz
Rubrik:Ekonomi

Komentar

Loading...