Kondisi Inflasi Aceh di Awal Tahun 2020

Kunjungan kerja di Bank Indonesia Aceh (Ist)

Banda Aceh, Acehportal.com - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh, Zainal Arifin menerima kunjungan kerja dari anggota DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh, Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, Rabu (8/4/2020).

Kedatangan Haji Uma ke Bank Indonesia Aceh ini sendiri adalah untuk membahas perkembangan inflasi, perbankan serta peredaran uang rupiah di Tanah Rencong.

Pada kesempatan itu, Kepala Perwakilan BI menyampaikan kondisi inflasi di awal tahun 2020 serta tren inflasi 5 tahun terakhir.

Hal yang ditekankan adalah terdapat anomali pada pola inflasi tahun 2020 yang secara historis pada triwulan I setiap tahunnya selalu mencatatkan inflasi yang rendah, bahkan deflasi.

"Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri juga disampaikan untuk seluruh stakeholder mewaspadai karena secara historis secara month-to-month (mtm) cenderung mengalami kenaikan," ujar Zainal.

Disampaikan pula, perlunya perbaikan inflasi secara structural sebagai langkah preventif seperti pemanfaatan Toko Tani, mendorong terciptanya industri hilir serta pendirian Sistem Resi Gudang (SRG) yang dilengkapi oleh cold storage untuk perikanan maupun controlled atmosphere storage (CAS).

"Bank Indonesia berpartisipasi aktif dalam usaha mengendalikan inflasi daerah melalui forum TPID dan pengembangan klaster-klaster percontohan komoditas penyumbang inflasi," ungkapnya.

Perkembangan penyaluran pembiayaan perbankan di Aceh hingga Februari 2020 disampaikan sejauh ini berjalan baik dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 113,1 persen.

Risiko penyaluran pembiayaan juga tercatat mengalami penurunan dengan Non-Performing Loan (NPL) 1,33 persen dan berada dalam kondisi aman (dibawah 5 persen).

"Aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK) didominasi oleh bank syariah (59,35%) diikuti dengan bank konvensional (40,65%). Namun, pembiayaan masih didominasi oleh bank konvensional (52,48%)," jelasnya.

Pada Februari juga, lanjut Zainal, terdapat kenaikan NPL secara mtm baik perbankan syariah (tumbuh 9,08 persen (mtm)) dan perbankan konvensional (tumbuh 7,92% (mtm)) sebagai dampak ekonomi dari penyebaran pendemi COVID-19.

Disampaikan, salah satu kunci peningkatkan kinerja ekonomi di Aceh adalah realisasi anggaran pemerintah serta ketepatan alokasinyadalam meningkatkan pertumbuhan.

"Realisasi anggaran itu terutama ditujukan untuk program pengembangan ekonomi yang memiliki efek multiplier besar untuk mendorong pertumbuhan, yaitu pada pembangunan infrastruktur lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan," bebernya.

Komoditas-komoditas unggulan dan potensial Aceh harus menjadi fokus utama pembiayaan APBA diantaranya yaitu kopi, padi, rotan, nilam, hasil perikanan serta komoditas penyumbang inflasi (bawang dan cabai merah).

Selain itu, satu sektor jasa yang dapat menjadi quick wins selain komoditas-komoditas pertanian tersebut adalah peningkatan sektor pariwisata halal (Halal Tourism).

"Dengan pengembangan 6 komoditas (6 C) tersebut, ditambah lagi sektor pariwisata (1 S) sehingga menjadi 6C + 1S, diharapkan menjadi solusi permasalahan kemiskinan, pengangguran dan ketidakmandirian ekonomi Aceh," jelasnya lagi.

Bisnis proses di sisi hulu dan hillir yang terintegrasi (Integrated Downstream-Upstream Buisiness / IDUB) disampaikan dapat menjadi salah satu strategi yang tepat bagi akselerasi ekonomi Aceh.

Zainal Arifin juga menjelaskan, dalam konsep tersebut terdapat lima pilar penting yang menunjang terlaksananya integrasi di kedua sisi tersebut.

Kelima pilar dimaksud yakni optimalisasi anggaran Pemda yang fokus dan terintegrasi dan value chain hulu dan hilir yang terintegrasi.

"Lalu pembiayaan ekonomi melalui optimalisasi skema pembiayaan dengan akad musyarakah atau mudharabah, dukungan pemasaran digital (digital marketing) dan optimalisasi penggunaan teknologi," tutupnya.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Ekonomi

Komentar

Loading...