Dituding Wahabi, Pengajian Rutin KWPSI Dibubarkan Massa ‘Aswaja’

Pengajian KWPSI

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM -  Untuk pertama kalinya, pengajian rutin mingguan Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) yang telah berlangsung sejak tahun 2012, pada Selasa (17/03/2020) malam dihentikan/dibubarkan oleh kelompok yang mengaku sebagai penegak Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja).

“Inilah insiden penghentian pengajian yang pertama kami alami, sejak pengajian KWPSI pada tahun 2012,” ujar Sekjen KWPSI, Muhammad Saman, tadi malam.

Malam itu sesuai pemberitahuan awal kepada anggota KWPSI baik kalangan jurnalis maupun praktisi kampus dan masyarakat umum, yang memberikan materi pengajian adalah Ustadz Muhammad Hatta Selian, Lc M.Ag (Pimpinan Dayah Ar-Rabwah, Indrapuri, Aceh Besar) yang juga Ketua Ormas Islam Wahdah Islamiyah Aceh.

Sejak usai shalat Isya, puluhan massa dari kelompok 'Aswaja' tersebut sudah dikerahkan ke lokasi pengajian rutin KWPSI yang berada di Rumoh Aceh Lambada Kupi, Gampong Pineung, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh,

Awalnya mereka duduk berpencar di beberapa meja di bawah dan halaman depan rumoh Aceh tersebut, sebelum melancarkan aksinya untuk membubarkan pengajian.

Lalu beberapa saat kemudian, tibalah pemateri pengajian yakni Ustadz Muhammad Hatta Selian. Ustadz yang sudah naik dan duduk di atas seuramoe rumoh Aceh untuk bersiap mengisi pengajian, tiba-tiba diminta keluar dan turun oleh massa 'Aswaja' dan tidak boleh lagi mengisi pengajian pada malam itu,

Mereka menilai ustadz tersebut sebagai wahabi, dan menurut mereka tidak sesuai dengan Surat Edaran Plt. Gubernur Aceh Nomor 450/21770 tentang larangan mengadakan pengajian selain iktikad ahlussunnah waljamaah yang bersumber dari hukum mazhab Syafi'iyah.

Usai menyuruh keluar Ustadz Hatta Selian, massa 'Aswaja' itu lalu meminta pelayan warung Lambada Kupi agar segera mengunci dan menggembok ruangan atas rumoh Aceh, dan pelayan yang merasa terancam itu menuruti permintaan massa untuk menutup tempat pengajian rutin KWPSI itu, sehingga tidak ada lagi jamaah yang bisa masuk.

Melihat situasi tersebut, Ustadz Hatta Selian pun langsung pamit pulang dan meninggalkan lokasi dengan melewati massa 'Aswaja', untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah ustadz pulang, puluhan massa 'Aswaja' pembubar pengajian yang digerakkan oleh Ketua Tastafi Banda Aceh, Tgk. Umar Rafsanjani itu masih tetap berada di lokasi dan duduk berpencar dengan pakaian dan peci putih.

Di lokasi, Kapolsek Syiah Kuala, AKP Edi Saputra, SE yang didampingi beberapa personil polisi juga turut langsung memantau keadaan guna diambil tindakan lebih lanjut.

Beberapa jamaah pengajian rutin KWPSI yang telah hadir, mengaku sangat menyesalkan penghentian pengajian tersebut. "Aneh, dan sangat tidak beralasan jika membubarkan pengajian KWPSI yang telah berjalan lebih delapan tahun ini. Selama ini tidak pernah ada masalah. Sebagai lembaga yang netral terhadap masalah khilafiyah, pengajian KWPSI selalu merangkul dan mengakomodir semua pemahaman yang berbeda di tengah umat untuk tujuan menciptakan persatuan umat Islam. Seharusnya, ini yang perlu dipahami oleh mereka terhadap pelaksanaan pengajian KWPSI," ujar Arief Kurniawan.

Gelagat pembubaran pengajian KWPSI tersebut memang sudah terasa sejak Selasa (17/3) siang. Di media sosial dan via grup berbagi pesan WhatsApp muncul penolakan dari kelompok yang menamakan diri penegak Aswaja terhadap kehadiran Ustadz Muhammad Hatta Selian di pengajian KWPSI.

Bahkan disampaikan pula bahwa nama Ustadz Muhammad Hatta Selian termasuk dalam list yang tidak direkomendasikan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, dimana saat ini rekom tersebut masih di tangan tenaga ahli MPU untuk dikaji. Hal ini sebagaimana disampaikan Wakil Ketua MPU Aceh, Tgk Faisal Ali.

Karenanya, Ketua Tastafi Banda Aceh, Tgk. Umar Rafsanjani di beberapa WhatsApp Grup (WAG) pada Selasa siang melontarkan ancaman untuk mengerahkan massa 'Aswaja' dengan tujuan membubarkan pengajian KWPSI tersebut, dan itu dibuktikan dengan massa 'Aswaja' yang turun, sehingga pengajian kalangan jurnalis peduli syariat ini pun tidak bisa berlanjut dan terhenti pada malam itu.

Sementara itu, terhadap tudingan dirinya sebagai wahabi, Ustadz Hatta Selian membantahnya. "Tidak benar itu, saya tidak ada kaitannya dengan kelompok wahabi, seperti yang merek tuduhkan kepada saya," jelas Ustadz Hatta Selian yang selama ini sering mengisi pengajian di sejumlah masjid di Kota Banda Aceh.

Ketua KWPSI, Azhari yang dihubungi secara terpisah mengakui adanya insiden penghentian tersebut. Azhari menyatakan rasa prihatin atas tindakan tersebut. Karena bagi insan media, pengajian itu bukan sekedar memperkaya kebutuhan qalbu, tapi juga sebagai kajian secara ilmiah yang menjadi bekal pengetahuan jurnalisme agamis. Menurut Azhari yang didampingi beberapa pengurus KWPSI, seharusnya jika memang dilarang, MPU Aceh sebagai lembaga yang berkompeten, mengeluarkan pengumuman resmi tentang siapa - siapa yang dilarang memberikan pengajian, dengan alasan dan konsideran lembaga MPU yang tentu merespon semua lini.

“Kalau tak ada pengumuman resmi begini, ya beginilah jadinya, teman teman jurnalis banyak yang kecewa karena telah mengorbankan waktu untuk hadir ke mari, walau ada yang terjepit dengan deadline di kantor masing-masing,” tutur Azhari yang lazim disapa Ayah Cut itu.

Penulis:Rol/rilis
Rubrik:News

Komentar

Loading...