Ini Penjelasan BNN Terkait Temuan 4 Hektar Ladang di Aceh Besar

Pemusnahan 4 hektar ladang ganja di Aceh Besar (Ist)

Banda Aceh, Acehportal.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali menemukan 4 hektar ladang ganja di Gampong Luthu Dayah Krueng, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar, Rabu (11/2/2020).

Sekitar 38 ribu batang ganja seberat kurang lebih 2,26 ton ditebas oleh tim gabungan BNN bersama TNI/Polri dengan mengerahkan 108 personel.

Penemuan ladang ganja ini, merupakan hasil penyelidikan tim BNN terhadap adanya dugaan penanaman ganja di sekitar lokasi.

Tim pun lalu menemukan tiga lokasi ladang ganja yang ada di kawasan hutan lindung pada ketinggian 993 mdpl dengan kemiringan lokasi sekitar 70 derajat.

Ladang ganja seluas empat hektar tersebut ditempuh selama 1,5 jam dari kota Banda Aceh dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Tak hanya disitu, untuk menuju titik ladang ganja diperlukan pendakian selama 3 jam. Medan yang cukup berat ditambah dengan kondisi cuaca yang kerap dilanda hujan, membuat petugas kesulitan dalam melakukan pendakian.

Namun, hal ini tidak menyurutkan niat untuk meluluhlantahkan tanaman berbahaya yang berpotensi merusak generasi bangsa.

Petugas yang sudah di lokasi ladang dengan gigih mencabuti tanaman ganja dengan ukuran yang bervariatif antara 20 cm hingga 1 meter itu untuk selanjutnya dimusnahkan.

Direktur Narkotika BNN, Victor Lasut menjelaskan, pemusnahan ladang ganja ini merupakan hasil pengembangan kasus 250 kilogram ganja yang diungkap beberapa pekan lalu di Pluit.

"Kita melakukan pengembangan sampai ke hulu yakni dengan lokasi ini sesuai dengan hasil pemeriksaan," ujarnya usai memusnahkan ladang ganja di Aceh Besar.

Jenderal bintang satu ini juga mengungkapkan alasan sulitnya menemukan pelaku penanaman ganja, karena penanaman ganja dilakukan di lokasi yang tersembunyi, sehingga membutuhkan waktu panjang untuk menemukannya.

Terdapat fakta yang tak dapat dikesampingkan, wilayah Indonesia sangat luas. Perbandingan antara petugas dengan luas wilayah yang perlu dipantau pun masih belum seimbang.

"Hal ini juga menjadi salah satu tantangan bagi BNN dalam memberantas kultivasi tanaman ganja," kata Victor.

Tak dapat dipungkiri, berladang ganja juga masih menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian besar petani di Aceh. Namun meski demikian, hingga kini BNN tetap gencar melakukan sosialisasi dan pemberdayaan para petani ganja itu dengan program kerja Grand Design Alternative Development.

"Yang dilaksanakan secara bersama antara BNN dengan Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah, BUMN dan pihak swasta di Aceh Besar dilakukan Desember tahun 2019 dengan melakukan penanaman jagung dilahan seluas 30 hektar," ungkapnya.

Dimana, sambung Victor, luas areal itu sendiri terdiri dari lima hektar di kawasan Lamteuba, lima hektar di Lamteuy dan 20 hektar di Lampakuk yang diperkirakan akan dapat dilakukan panen pada April 2020.

Selain itu, Kasubdit Narkotika Alami Direktorat Narkotika Deputi Pemberantasan BNN, Kombes Pol Aldrin Hutabarat mengatakan, strategi yang dilaksanakan adalah melakukan pemberantasan ladang ganja secara bersinergi dengan kementerian dan lembaga negara terkait.

"Salah satu kerja sama yang dilaksanakan dengan kementerian dan lembaga negara terkait adalah dalam hal pemanfaatan fasilitas serta dukungan sumber daya manusia yang telah dimiliki dalam mendukung pemberantasan ladang ganja," jelasnya.

Terkait dengan penemuan ladang ganja ini, kata dia, BNN bekerja sama dengan pihak terkait akan terus melakukan pemusnahan ladang ganja itu hingga tak ada lagi ganja di wilayah berjuluk Serambi Mekah ini.

"Pengejaran dan penindakan terhadap siapa saja yang menanam, memproduksi dan mengedarkan ganja juga akan terus dilakukan sebagai upaya pemberantasan peredaran gelap narkotika di Indonesia," tambahnya.

Penulis:Hafiz
Rubrik:News

Komentar

Loading...