Ternyata, Bawang Merah Ilegal yang Diamankan di Aceh Utara Kemarin Asal Thailand Seberat 18 Ton

Kapal yang mengangkut 18 ton bawang asal Thailand ditangkap tim gabungan Bea Cukai dan Denpom IM

Banda Aceh, Acehportal.com - Operasi Bersinar yang dilakukan pihak Bea Cukai (Kanwil Bea Cukai Aceh, Bea Cukai Lhokseumawe, Bea Cukai Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun) dengan Denpom IM I Lhokseumawe menggagalkan upaya penyelundupan bawang merah asal Satun, Thailand, Rabu (4/3/2020) kemarin.

Penggagalan ini dilakukan di pesisir pantai wilayah Kuala Cangkoi, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara dengan barang bukti 18 ton bawang merah ilegal dengan jumlah 768 karung. Dimana, dalam satu karung terdapat 24 kilogram bawang merah.

Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Aceh, Isnu Irwantoro mengatakan, penangkapan ini bermula dari informasi masyarakat tentang adanya kegiatan importasi bawang merah ilegal di wilayah Kuala Cangkoi.

Tim Operasi Bersinar menindaklanjuti dengan mendatangi lokasi pagi kemarin. Saat petugas datang, ditemukan kegiatan pemuatan bawang merah ilegal impor. Setelah petugas dekati dan periksa, 2 truk dan 1 mobil pikap L300 telah penuh muatan bawang merah.

"Sedangkan sebagian bawang merah yang belum termuat, petugas mendapatinya dalam kondisi menumpuk di tanah seputaran lokasi," ujarnya Kamis (5/3/2020).

Berdasarkan keterangan saksi di lokasi kejadian, bawang merah impor ini berasal dari Satun, Thailand dan merupakan ex muatan KM RENA III GT. 25 No.336/PPg. Atas informasi ini, tim patroli darat Bea Cukai melakukan tindak lanjut dengan menginformasikan ke tim kapal patroli Bea Cukai “BC 20010” untuk mengejar kapal motor dimaksud.

"Setelah satu jam melakukan pengejaran, tepat pukul 10.30 WIB tim kapal patroli BC 20010 menangkap kapal itu di Perairan Jambo Aye, Aceh Utara dengan titik koordinat 05°15'36”U/097°29'24"T. Selanjutnya KM RENA III diamankan menuju Pelabuhan Krueng Geukueh, Lhokseumawe untuk penelitian lebih lanjut," ungkapnya.

Sedangkan barang bukti berupa 768 karung bawang merah, dua truk, satu mobil pikap dan 10 orang saksi yang terdiri dari satu nakhoda, tiga ABK, tiga sopir, satu kernet dan dua pemilik bawang merah dibawa ke Kantor Bea Cukai Lhokseumawe untuk diproses lanjut.

"Sanksi hukum atas pelaku tindak pidana penyelundupan barang impor diatur dalam Pasal 102  huruf (a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan yang berbunyi setiap orang yang mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes dipidana karena melakukan penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 5 miliar," jelasnya.

Dengan adanya sanksi hukum ini, diharapkan pelaku usaha maupun masyarakat tidak melakukan tindakan penyelundupan dan/atau membeli barang hasil penyelundupan sebagai bentuk partisipasi warga negara untuk berupaya melindungi petani bawang, melindungi masyarakat dan lingkungannya dari penyakit yang diakibatkan adanya importasi tumbuhan dan produk turunannya serta meningkatkan daya saing industri dalam negeri dan mendongkrak penerimaan negara dari sektor bea masuk dan pajak.

"Hal ini sejalan dengan fungsi Bea Cukai sebagai community protector, trade facilitator, industrial assistance, dan revenue collector untuk menjadikan Kementerian Keuangan Tepercaya dan Bea Cukai Makin Baik," tambah dia.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...