Komisi V DPRA Terima Audensi Pengurus Panglima Laot

14 Nelayan Aceh Hilang Tanpa Jejak Total yang Ditahan 59 Orang

Sekretaris Komisi V DPRA menerima audiensi Pengurus Panglima Laot Provinsi Aceh di ruang Badan Musyawarah DPRA. Kamis, 20/2/2020).

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Sekretaris Komisi V DPRA menerima audiensi Pengurus Panglima Laot Provinsi Aceh di ruang Badan Musyawarah DPRA. Kamis, 20/2/2020).

Dalam pertemuan itu pihak Panglima Laot menyampaikan berbagai problematika nelayan Aceh dan upaya advokasi yang selama ini sudah dilakukan mulai dari derita keluarga nelayan serta minimnya perhatian pemerintah.

Anggota DPRA Iskandar Usman Alfarlaky yang juga Sekretaris Komisi V DPRA menjelaskan, ada data terbaru yang diperoleh, bahwa sebanyak 14 orang nelayan tradisional ABK boat KM Rezeki berkapasitas 10 GT asal Idi, Aceh Timur, Aceh, sejak tahun 2017 hilang tanpa jejak. Dugaan boat yang mereka tumpangi tenggelam. Kontak terakhir di perbatasan Indonesia-Thailand. Saat itu hanya ditemukan puing-puing boat dan fiber tampungan ikan milik nelayan tersebut.

“Kini tercatat ada 59 orang nelayan Aceh yang ditahan diluar negeri. Di Thailand sebanyak 33 orang nelayan ABK KM Perkasa Mahera dan KM Voltus, di Nicobar/Andaman India sebanyak 25 orang, mereka ABK dari KM Athiya 02, KM Selat Malaka, dan KM Mata Rantau. Sementara di Kwanthong Myanmar 1 (satu) orang Tekong KM KM Bintang Jasa atas nama Jamaluddin.” Ujarnya.

Iskandar mengatakan, sepanjang upaya advokasi yang kami lakukan, nelayan kita yang melaut kemudian ditangkap, meninggalkan isteri dan anak mereka dalam kondisi ekonomi yang sulit. Karena itu, kami akan menyurati Baitul Mal dan Dinsos Aceh agar dapat memberikan dana zakat infaq atau bantuan sosial ke keluarga yang ditinggalkan dengan mencermati aturan yang ada.

“Selanjutnya, kita harus sama- sama mendorong agar Pemerintah melahirkan MoU terkait penanganan nelayan yang terdampar ke negara tetangga dengan Thailand, India, Malaysia, Myanmar, Banglades, sehingga nelayan kita tidak selalu menjadi tahanan di negara lain, bahkan ada yang dipulangkan menjadi mayat.” Sebutnya.

Selanjutnya yang harus dipikirkan upaya barter jika ada nelayan negara tetangga yang mencuri ikan di perairan Aceh bisa ditukar dengan nelayan kita yang ditahan di negara tetangga. Langkah deportasi yang selama ini dilakukan sangat melukai hati nelayan dan keluarga nelayan yang ditahan di luar negeri. (*)

Penulis:Rol/redaksi
Rubrik:DPRA

Komentar

Loading...