Hidup Ditengah Kemiskinan, Mustafa Rela Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Mustafa (60), warga Desa Alue Meuganda, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat harus rela tinggal di sebuah rumah tak layak huni.

Meulaboh, Acehportal.com- Mustafa (60), warga Desa Alue Meuganda, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat harus rela tinggal di sebuah rumah tak layak huni. Padahal berbagai program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan gencar dilakukan, namun upaya tersebut dinilai tidak tepat sasaran karena masih ditemukan rakyatnya yang menderita.

Dia menepati rumah tidak layak huni berukuran tiga kali empat meter, beratapkan genteng yang sebagian sudah bocor dan berlantai papan. Di gubuk itu, Mustafa hidup bersama istrinya Kartini (47) dan seorang anaknya Santi yang masih berumur 4 tahun.

Mustafa harus tidur diruang tamu bersama istri dan anaknya yang menyatu dengan isi rumah yang jauh dikatakan tidak layak huni, diketahui gubuk tersebut adalah satu-satunya harta yang ia miliki sekarang ini.

Sudah tiga tahun Mustafa bersama keluarganya menetap di rumah tidak layak huni itu, sebelumnya ia menumpang di sebuah rumah bekas kantor transmigrasi tepatnya di Desa Alue Meuganda, lantaran kantor tersebut sudah lapuk dan membahayakan mereka, hal itulah yang membuat keluarganya angkat kaki dan pindah.

Mustafa kemudian meminta kepada warga yang ia kenal untuk dipinjami tanah membangun rumah, disanalah bermula ia dan istri beserta anaknya mulai tinggal di atas gunung membangun kembali keluarga kecilnya di tempat yang baru.

Dengan ukuran sempit tanpa memiliki aliran listrik, atau hanya memiliki satu ruang tamu, juga ruang tamu tersebut digunakan untuk tempat tidur, dan dapur berukuran sempit yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak serta dindingnya juga terlihat masih menggunakan papan yang sudah usang.

Ditambah lagi jika sudah memasuki musim hujan, Mustafa kepada wartawan, Rabu (7/11/2019) mengatakan mereka hanya bisa bertahan sementara, namun jika hujan serta angin badai mengguyur, air akan membasahi lantai rumahnya karena dinding rumah itu sudah banyak yang berlubang.

"Jangankan untuk bangun gubuk untuk makan sehari-hari juga susah," kata Mustafa.

Pendapatan, terkadang bisa ia peroleh 70 atau 80 ribu dalam sehari-hari, upah tersebut didapatkan dari hasil kebun pisang milik warga sekitar, cara tersebut dilakukan untuk kebutuhan sehari-hari demi menghidupi keluarganya.

Untuk menjual hasil panennya, Mustafa harus menempuh jarak jauh dua kilo meter dengan jalan kaki menuju tempat khalayak ramai, lantaran jarak rumah tempat tinggalnya jauh dari permukiman warga sekitar.

"Kepada pemerintah setempat, rumah yang saya huni sekarang ini agar dapat di bangun baru, karena rumah ini sudah tidak layak lagi dan sudah banyak rusak. Kami pun tidak ada uang untuk merehapnya, lantaran pendapat kami hanya cukup makan dalam sehari-hari "harapnya.

Sejatinya, keluh kisah mereka itu akhirnya direspon baik oleh organisasi KNPI Aceh Barat. Ketua KNPI Muhammadi meminta pemerintah daerah (Pemda) Aceh Barat, membuka mata hatinya untuk melirik kehidupan kaum miskin yang ada, ketimbang hal-hal lain.

"Perlu perhatian khusus terkait hal ini karena masih banyak sekali, hampir di seluruh pelosok di Aceh Barat ini, yang masih banyak terdapat rumah-rumah yang tidak layak huni,"kata Muhammadi.

Karena walau bagaimanapun juga, mereka juga punya hak atas kewarganegaraannya. Sebab dalam undang-undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,"ungkap ketua KNPI Muhammadi

Penulis:Dan
Rubrik:DaerahUmum

Komentar

Loading...