Kesehatan Program Prioritas Pemerintah Aceh

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengatakan isu kesehatan merupakan  isu yang sangat penting dan mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh. Oleh sebab itu,  program kesehatan menjadi program utama dan berada di atas program pendidikan dan lingkungan hidup.

Menurut Nova kualitas kesehatan di Aceh belum memuaskan, ada lima isu tentang kesehatan yang saat ini ditangani Pemerintah Aceh. Di antaranya, kata Nova, pencegahan stunting, penanganan Penyakit Tidak Menular ( PTM),Tuberculosis (TBC),peningkatan cakupan dan mutu imunisasi serta Angka Kematian Ibu dan  Angka Kematian Neonatal ( AKI- AKN).

"Untuk memperbaiki lima isu tersebut, langkah  yang kami lakukakan tidak hanya melalui pengobatan, tapi juga melakukan pencegahan," tutur Plt Gubernur.

Selain itu, kata Nova, pihak Pemerintah Aceh saat ini telah memberikan sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pelayanan tersebut, sambung Nova, tidak hanya di hadirkan di Provinsi saja tapi juga sampai ke pelosok desa.

Plt Gubernur mengatakan program JKA Plus merupakan tekad pihaknya untuk memberikan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang berkualitas dan masif. Meski demikian, dalam peningkatan kualitas kesehatan, Aceh masih kerap menghadapi berbagai tantangan seperti kekurangan tenaga dokter, utamanya di Rumah Sakit Daerah serta belum adanya tenaga medis yang memadai di puskesmas.

"Di tambah lagi, masih banyak kekurangan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan. Selain stunting, Aceh juga rentang terkena penyakit jantung dan stroke," ujarnya.

Lanjut Nova, Pemerintah Aceh juga sedang menyiapkan dan menyusun aksi penanganan dan pencegahan untuk mendapat hasil yang lebih baik dalam pembangunan kesehatan kedepan. Selain aksi pencegahan dan penanganan, ia mengingatkan kepada seluruh stakeholder dalam bidang kesehatan untuk memverivikasi data kesehatan. Sebab, data tersebut sangat menentukan rencana, aksi dan tindakan agar bisa tepat sasaran.

Nova menilai bekerja di bidang kesehatan membutuhkan banyak hal, seperti nalar, kerja keras, kesabaran dan keikhlasan. Oleh karenanya, atas nama Pemerintah Aceh ia mengapresiasi semua langkah yang telah dilakukan oleh semua komunitas kesehatan mulai dari pemerintah, TNI- Polri, lembaga nasional sampai lembaga swasta.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Hanif,  pada Konferensi Internasional Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Ke- 3 Tahun 2019, di AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Rabu (9/10/2019) mengatakan, terdapat sejumlah penyakit yang mendominasi masyarakat Aceh. Salah satunya adalah penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi. Penyakit tersebut, lanjut dia, dapat memicu penyakit lain seperti jantung, stroke dan ginjal.

“Selain itu, masalah gizi buruk juga menjadi persoalan di daerah ini, karena pola makan dan perawatan anak belum sejalan dengan gaya hidup sehat. Karena itu, angka stunting di Aceh masih tinggi,” tutur Hanif.

Oleh sebab itu, kata Hanif, selain meningkatkan pelayanan kesehatan, Pemerintah Aceh juga terus berupaya memperbaiki gizi dan meningkatkan kesadaran akan hidup sehat bagi masyarakat.

Hanif juga mengapresiasi konferensi kesehatan yang digelar Unsyiah itu. Menurutnya, acara tersebut merupakan bagian dari langkah pembangunan kesehatan di Aceh melalui memperbanyak kajian, penelitian, dan diskusi.

“Konferensi ini saya harapkan bisa merumuskan pola asuh terbaik untuk anak usia dini, sehingga bisa menjadi acuan bagi setiap keluarga dalam merawat dan menjaga anaknya. Dengan demkian, sejak dini kita bisa menyiapkan SDM berkualitas, sehingga kelak Aceh memiliki generasi muda yang cerdas, sehat dan berdaya saing tinggi,” kata Hanif.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Oscar Primadi, mengatakan 30 tahun terkahir ini terjadi pola perubahan penyakit dalam masyarakat. Di tahun 1990 penyakit menular seperti demam, infeksi saluran pernapasan, diare dan tuberculosis merupakan penyakit tertinggi dialami masyarakat.

“Namun sejalan dengan perubahan demografi, ekonomi, budaya dan teknologi, sejak 2010 penyakit tidak menular seperti darah tinggi, stroke, ginjal, jantung, kanker dan lainnya menjadi kasus penyakit paling banyak di Indonesia,” kata Oscar.

Kemudian, lanjut dia, angka kematian ibu dan bayi juga masih relatif tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, kata Oscar, pemerintah terus meningkatkan alokasi anggaran di sektor kesehatan sebagai salah satu langkah dan upaya pemenuhan sarana dan prasarana kesehatan, obat, dan sumber daya tenaga kesehatan bagi masyarakat. Dengan demikian, diharapkan dapat meminimalisir penyakit yang dialami masyarakat.

Menurut Oscar, berbagai upaya pembangunan kesehatan yang dilakukan pemerintah telah mencapai pada titik keberhasilan. Hal itu terbukti dari nilai Indeks Pembangunan Manusia Indonesia meningkat dari 69, 5 tahun 2015 menjadi 71, 39 di tahun 2018. Selain itu, angka harapan hidup juga meningkat, dari 70,7 tahun di 2015 menjadi 71,2 tahun di 2018.

Dalam kesempatan itu, Sekjen Kemenkes RI itu mengapresiasi konferensi kesehatan yang digelar Unsyiah. Menurutnya acara tersebut merupakan salah satu peran perguruan tinggi dalam membangun kesehatan masyarakat Indonesia.

“Marilah kita manfaatkan pertemuan ini dengan berdiskusi aktif dan mencari solusi untuk perbaikan di masa mendatang. Saya berharap apa yang disampaikan hari ini dapat bermanfaat bagi hadirin sekalian, semoga upaya peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia dapat berimbas pada peningkatan kualitas sumber daya manusia,” tutur Oscar. [Adv]

Komentar

Loading...