Ancaman Perang Teluk III, Iran Siap Perang Jika AS Serang

Foto: Presiden Iran Hassan Rouhani (AP/Ebrahim Noroozi)

Jakarta, - Iran mengaku siap berperang jika ada yang menyerang negara tersebut. Hal ini diungkapkan pejabat Iran akhir pekan setelah AS dan Saudi yang menuding Iran dibalik serangan pada kilang minyak Arab Saudi 14 September lalu.

"Hati-hati, agresi yang terbatas tidak akan tetap dianggap terbatas. Kami akan membalas tiap agresi yang dilakukan," kata Kepala Pengawal Iran Mayor Jenderal Hossein Salami yang disiarkan di TV pemerintah sebagaimana dilansir Reuters. akhir pekan

"Kami akan menghukum dan kami akan melanjutkan sampai setiap penyerang hancur,".

Komentar ini disampaikan setelah Jumat lalu, Presiden AS Donald Trump menyetujui pengiriman pasukan ke Saudi untuk meningkatkan pertahanan udara negara itu. AS dan Saudi juga membuat koalisi untuk mencegah apa yang mereka sebut "ancaman Iran".

Iran menyangkal keterlibatannya dalam serangan yang di klaim oleh pemberontak Houthi di Yaman ini. Namun dalam konferensi pers, baik AS maupun Saudi menuduh Iran memberi sumbangan dana pada kelompok ini.

Kamis lalu, pemerintah saudi juga memberi bukti keterlibatan Iran. Arab Saudi menunjukkan bukti bahwa fasilitas minyaknya diserang 25 drone dan rudal.

Drone itu diindikasikan sebagai Unmanned Aerial Vehicle (UAV/pesawat tanpa awak) yang diproduksi Iran. Aljazeera pernah mengungkapkan sejak 1980 Iran berupaya memproduksi pesawat tanpa awak ini.

Dulunya, drone primitif ini dirancang untuk memungkinkan Teheran melakukan operasi intelijen dan misi pengawasan. Namun lama kelamaan, UAV melkukan sejumlah misi tambahan, untuk pengintaian dan penyerangan.

Presiden Iran Hassan Rouhani juga meminta negara-negara barat untuk meninggalkan Teluk Persia jika tidak ingin ketegangan meningkat. Menurutnya konflik di Timur Tengah justru muncul karena campur tangan barat.

"Kehadiran Anda selalu menjadi bencana bagi wilayah ini dan semakin jauh Anda pergi dari wilayah kami dan negara kami, semakin banyak keamanan akan datang untuk wilayah kami," katanya sebagaimana dilansir CNBC International.

AS Beri Sanksi Bank Sentral Iran

Sementara itu, AS telah resmi memberikan sanksi kepada Bank Sentral Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan bank sentral Iran kerap memberi pembiayaan pada teroris.

Antara lain dana kepada Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dan kelompok Hezbollah. Keduanya dikategorikan AS sebagai kelompok teroris. AS juga memberi sanksi pada Dana Pembangunan Nasional Iran dan Etemad Tejarate Pars Co.

"Serangan kurang ajar Iran terhadap Arab Saudi tidak bisa diterima. Tindakan Departemen Keuangan menargetkan mekanisme pendanaan penting yang digunakan rezim Iran untuk mendukung jaringan terorisnya, termasuk Pasukan Quds, Hezbollah, dan militan lain yang menyebarkan teror dan mengacaukan kawasan," kata Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin. "

Amerika Serikat akan melanjutkan kampanye tekanan maksimumnya terhadap rezim represif Iran, yang berupaya mencapai agenda revolusionernya melalui agresi regional sambil menghambur-hamburkan hasil minyak negara itu,".

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengecam saksni AS pada bank sentral Iran. Ia bahkan mengatakan hal tersebut merupakan bukti kalau AS sudah sangat putus asa.

"Ini tanda keputus-asaan AS. Mereka berulang kali memberi sanksi ke lembaga uyang sama, ini berarti upaya untuk membuat Iran bertekuk lutut di bawah tekanan telah gagal," katanya.

Komentar

Loading...