Kepala BI Aceh: Kondisi Perekonomian Aceh Masih Berjalan Seperti Biasa

Kepala BI Aceh, Zainal Arifin Lubis saat membuka kegiatan edukasi perekonomian syariah di Sabang, Selasa (3/9/2019)

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Kondisi perekonomian Aceh saat ini masih berjalan seperti biasa. Pertumbuhan ekonominya tetap ada, akan tetapi melambat dibandingkan dengan kwartal-kwartal sebelumnya.

Hal ini dikatakan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Zainal Arifin Lubis saat membuka kegiatan edukasi perekonomian syariah di Sabang, Selasa (3/9/2019) kemarin.

"Perekonomian Aceh di 2018 sampai 2017 mencapai 4,61 persen dan inflasi 1,84 persen, ini merupakan suatu prestasi yang baik dibandingkan 2017 yang hanya 4,19 persen pertumbuhan ekonominya, inflasi 4,25 persen," ujarnya.

Dirinya berharap, pada tahun 2019 ini hal tersebut dapat dipertahankan meskipun dalam kwartal kedua.

"Kwartal satu dan kwartal dua ini, pertumbuhan ekonominya itu kepala tiga hanya 3 persen tidak sampai 4 persen seperti yang dicapai di tahun 2018, tapi inflasi Alhamdulillah ini ada indikasi tercapai target di tahun 2019," ungkapnya.

Selama ini, jelas Zainal, infalsi Aceh lebih tinggi dari inflasi yang terjadi di provinsi Sumatera atau bahkan nasional lebih tinggi. Nasional biasa hanya 3 persen dan kita 4 persen, kalaupun 3 persen kita tetap lebih tinggi dari nasional dan Sumatera.

"Perkiraan untuk sampai dengan bulan terakhir inflasi kita masih dibawah 3 persen, ini merupakan suatu hal yang laur biasa kita harapkan sampai dengan akhir tahun bisa mengungguli infalsi yang ada di sumatera dan nasional seperti tahun 2018," ungkapnya.

"Ini kita harapkan bisa tercapai dengan beberapa syarat, syarat-syaratnya yaitu semua piha yang tegabung dalam tim penglanit inflasi daerah dalam hal ini sudah ada di tingkat provinsi dan kota kabupaten itu bersinergi dengan baik untuk mengatasi inflasi termasuk mengantispasi terjadinya inflasi," katanya lagi.

Selain itu, menurutnya pentingnya industri di Aceh merupakan salah satu yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan ujungnya dapat mengurangi angka kemiskinan. Perlunya industri agar kita tidak menjual mentah hasil alam.

"Seperti misalnya daerah kita yang punya nilam, sawit, gabah padi yang melimpah sampai lebih dari 2 juta ton tapi tidak di kilang dan di proses di Aceh sehingga mata rantai itu tidak ada di sini value edit itu dinikmati oleh provinsi lain yang menerima komunitas-komunitas hebat tadi," jelasnya.

"Sehingga Aceh yang hanya butuh 16000 ton masih membeli sebgaian keluar karena industry kita masih belum kuat, mata ramtai industry juga belum muncul di Aceh. Oleh karena itulah Bank Indonesia mengajak semua pihak terkait untuk bersinergi membangun industry yang terkait dengan bisnis hulu," tambahnya.(hafiz)

Rubrik:Ekonomi

Komentar

Loading...