Pertambangan Emas Ilegal Masih Marak di Aceh Barat, Aparat Diminta Tak Tutup Mata

WalhiPertambangan Emas Ilegal Masih Marak di Aceh

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - WALHI Aceh mendapatkan laporan dari masyarakat Gampong Lancong, Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat terkait pertambangan emas ilegal di kawasan gampong mereka.

Disampaikan, ada sekitar dua titik lokasi pertambangan emas ilegal dengan menggunakan sekitar 10 alat berat jenis excavator (beko) dan melibatkan puluhan tenaga kerja. Pelaku ini diduga berasal dari kabupaten tetangga yaitu Nagan raya, Pidie dan Pidie Jaya disamping itu juga ramai dari daerah setempat.

Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur mengatakan, kegiatan ini disinyalir juga ada terlibat pihak-pihak aparatur sehingga keberadaan peti ini semakin marak.

"Menanggapi persoalan ini, Walhi meminta aparatur tidak menutup mata dan menindak secara tegas pelaku peti dan perusakan hutan di wilayah Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat," ujarnya.

Lokasi pertambangan emas ini, jelasnya, berada di hulu sungai dan masuk dalam kawasan hutan lindung dengan jalur akses melalui kecamatan Panton Reu, namun lokasinya berada di Sungai Mas.

"Masyarakat mengakui selama pertambangan ilegal ini beroperasi telah berdampak terhadap sumber air bersih mereka, dimana selama ini sungai tersebut merupakan sumber air bersih utama bagi mereka," jelasnya.

"Selain berdampak terhadap sumber air, dampak terbesar juga berpotensi terjadi bencana ekologis banjir bandang. Karena fisik sungai telah rusak akibat kegiatan pertambangan emas ilegal tersebut," ungkap Nur.

Berdasarkan data WALHI Aceh, secara ekologis keberadaan tambang emas ilegal di kawasan Sungai Mas akan berdampak terhadap beberapa kecamatan yang berada dihilir seperti Kecamatan Woyla, Woyla Timur, Woyla Barat, Arongan lam Balek, Sama Tiga, Patai Ceuremen dan beberapa kecamatan lain di Aceh Barat yang memiliki aliran langsung dengan Sungai Mas.

Selain di Aceh Barat, kegiatan pertambangan emas ilegal juga masih aktif beroperasi di beberapa daerah lain, seperti di Linge Aceh Tengah, Beutong Nagan Raya, Manggamat Aceh Selatan, dan Mane/Geumpang Pidie.

"Semua lokasi tersebut masih aktif beroperasi pertambangan emas ilegal, baik menggunakan alat berat atau mesin sedot di wilayah sungai, maupun pertambangan dalam bentuk gali lobang di daerah pegunungan," katanya.

Berdasarkan data WALHI Aceh, pertambangan emas ilegal di Aceh melibatkan puluhan tenaga kerja lokal dan luar daerah, menggunakan zat merkuri, merusak kualitas dan fisik sungai, menggunakan alat berat jenis excavator, berada dalam kawasan hutan lindung, limbah B3 tidak terkelola, dan mesin pengelohan berada di pemukiman penduduk.

Pertambangan emas ilegal mulai terjadi sejak tahun 2006, dan sejauh ini terkesan pemerintah Aceh bersama lembaga penegak hukum kurang serius menertibkan kegiatan ilegal tersebut. Untuk itu WALHI Aceh mendesak Pemerintah Aceh dan lembaga penegak hukum untuk melakukan penertiban kegiatan pertambangan emas ilegal di Aceh.

"Karena keberadaannya telah berdampak serius terhadap lingkungan, sumber air bersih, dan sebagai faktor penyebab terjadinya bencana ekologis di Aceh," tutup Nur.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...